Langsung ke konten utama

Cek Khodam

“Ada getaran listrik kecil di jari-jari saya,” ujarku dengan mata terpejam, mencoba terdengar mistis sambil memegang cincin batu akik milik Pak Kumis. Suara bisik-bisik di warung kopi langsung berhenti, dan semua mata tertuju pada kami.

“Benar, benar! Khodamnya sakti!” seru Pak Kumis dengan wajah cerah, seakan-akan aku baru saja memverifikasi kebenaran universal. Di sudut warung, Bu Sumiyati tampak gelisah, menunggu gilirannya.

Kembali ke pagi itu, Pak Kumis datang ke rumah dengan langkah terburu-buru. "Coba kamu cek, ada khodam nggak di batu akik ini?" tanyanya, menyerahkan cincin berukuran jumbo seperti bola bekel. Matanya bersinar penuh harapan, seolah-olah aku seorang dukun terkenal.

Aku sebenarnya tidak tahu apa-apa tentang khodam. Tetapi melihat antusiasme Pak Kumis, aku memutuskan untuk sedikit berimprovisasi. “Setahu saya, khodam itu tidak bisa dilihat begitu saja, Pak. Tapi saya coba rasakan,” jawabku, menerima cincinnya dengan penuh kesungguhan yang nyaris membuatku tertawa.

Pak Kumis mengangguk penuh semangat. “Coba saja, saya yakin kamu bisa merasakannya.”

Maka, mulailah episode ini. Aku meraba cincin itu, berpura-pura merasakan sesuatu yang luar biasa. “Ada rasa seperti listrik kecil yang bergetar di jari-jari saya,” kataku, membuka mata seolah-olah baru saja menemukan rahasia besar.

Pak Kumis tersenyum lebar. “Ah, benar sekali! Berarti ini batu akik sakti! Khodamnya kuat!” katanya sambil menggenggam cincinnya dengan bangga.

Setelah itu, cerita tentang "khodam" di batu akik Pak Kumis menyebar dengan cepat. Di warung kopi, Pak Kumis menceritakan pengalamannya dengan begitu dramatis, membuat semua orang terpukau. Dia bahkan meyakinkan orang bahwa khodam itu bisa memberikan nasihat finansial lebih akurat daripada bank.

Beberapa hari kemudian, Bu Sumiyati datang dengan wajah penuh harap. “Mas, tolong cek juga gelang ini. Apa khodamnya bisa memberi tahu saya nomor togel yang akan keluar besok?” tanyanya dengan serius. Aku hampir tercekik kopi. Ini adalah dampak dari cerita Pak Kumis yang terlalu meyakinkan.

“Bu Sumiyati, kalau saya bisa tahu nomor togel, saya sudah liburan ke Bali,” jawabku, mencoba menahan tawa.

Namun, Bu Sumiyati tetap tak gentar. “Tetap coba cek, ya,” desaknya.

Kini, setiap malam ada saja yang datang dengan berbagai perhiasan, meminta "pengecekan khodam." Aku telah menjadi "ahli khodam" dadakan dengan hanya bermodal nalar dan humor. Gelang, kalung, bahkan jam tangan rusak, semuanya datang untuk "diperiksa."

Dalam kebingungan ini, kampung kami menjadi lebih hidup. Setiap orang sibuk dengan cerita tentang "khodam" yang membawa kebahagiaan. Obrolan di warung kopi berubah dari harga bahan pokok yang melambung ke batu akik yang konon bisa memanggil hujan.

Pak Kumis, dengan penuh kebanggaan, akhirnya menjual batu akiknya ke seorang kolektor dengan harga tinggi. Beliau menggunakan uang itu untuk membeli sepeda motor baru. “Khodam memang sakti, bukan?” katanya padaku sambil tersenyum lebar, meyakini bahwa keberhasilannya adalah berkah dari khodam, bukan dari kemampuannya membumbui cerita.

Melihat Pak Kumis melaju dengan motor barunya, aku tak bisa menahan tawa. Tidak heran dengan viralnya cek khodam yang ditayangkan secara live di tiktok, sampai-sampai backsound cek khodam menjadi bahan parodi komedi.

Komentar

Tulisan Populer

Apa Beda Suka, Senang, dan Cinta?

Apa beda suka, senang, dan cinta? Selama anda masih belum bisa membedakan ketiga hal itu, maka anda akan salah dalam memaknai cinta. Saya ilustrasikan dalam cerita, Anda membeli hp Android karena melihat banyak teman-teman yang memilikinya dan terlihat keren, saat itu anda berada di wilayah SUKA. Dan suka merupakan wilayah NAFSU. Ketika anda mengetahui fitur, fasilitas dan manfaat Android yang lebih hebat dibandingkan HP jenis lain, maka saat itu anda berada diwilayah SENANG. Dan senang itu tidak menentu, dapat berubah-ubah tergantung kepada MOOD. Saat BOSAN, bersiaplah untuk mengganti HP jenis baru yang lebih canggih. Jadi jelaslah bahwa, Selama ini CINTA yang kita yakini sebagai cinta baru berada dalam wilayah SUKA dan SENANG. BOHONG! Jika anda berkata, gue JATUH CINTA pada pandangan pertama. Sesungguhnya saat itu anda sedang berkata, gue NAFSU dalam pandangan pertama. Mengapa demikian? Karena cinta yang anda maknai baru sebatas SUKA. Suka dengan wajahnya yang cantik, se...

Nggak Apa-apa Jelek yang Penting Tobrut!?

"Tiket habis, Bro. Ternyata yang nonton konser hari ini bukan cuma aku sama kamu,” kataku sambil merogoh kantong celana. Di antrean panjang yang melingkar di sekitar stadion, aku dan Arap terjebak dalam suasana yang serba riuh. Kami terpaksa mengalihkan rencana, mencoba mencari hiburan lain di tengah kekecewaan. Arap merogoh saku dan mengeluarkan sebatang rokok. "Yah, mau gimana lagi. Kita nongkrong aja di tempat biasa. Siapa tahu ada cewek cakep lewat,” katanya setengah bercanda, sambil menyulut rokoknya. Kembali ke dua jam sebelumnya, suasana di kampus baru saja usai saat aku dan Arap memutuskan untuk berburu tiket konser mendadak. Sialnya, tiket itu habis sebelum kami sempat mengantre. “Ya sudah, ke warung Bu Wowiek aja. Di sana pasti ada cerita baru,” usul Arap, mencoba menghidupkan kembali semangat yang sempat luntur. Di warung Bu Wowiek, suasana lebih lengang. Hanya beberapa pelanggan tetap yang duduk sambil menikmati kopi. Kami segera memilih tempat duduk di pojokan, m...