Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2026

Shalat Jumat Diam-Diam karena Takut Ketahuan Anggota Jemaat

“Masih ingat dulu gue sering hilang tiap Jumat?” Ia tertawa kecil sambil mengaduk kopi di depannya. Wajahnya tidak banyak berubah—tetap hangat, tetap mudah akrab—hanya ada ketenangan yang dulu tidak saya lihat. Kami duduk di sudut kafe, setelah sekian tahun tidak bertemu. Percakapan langsung melompat ke masa lalu, seolah waktu hanya berhenti sebentar. Saya tersenyum, lalu mengangguk pelan. Dulu saya memang sering heran. Di tengah jadwal kampus yang padat, ia kadang menghilang tanpa banyak penjelasan. Tidak selalu, tapi cukup sering. Saya tidak pernah benar-benar bertanya, hanya menganggap itu hal biasa—urusan pribadi yang tidak perlu dicampuri. “Dulu gue salat Jumat diam-diam,” katanya pelan. “Takut ketahuan teman-teman kampus… apalagi yang sesama jemaat.” Ia mengatakannya tanpa ragu, tapi ada jejak masa lalu yang terasa dalam nada suaranya. Saya membayangkan dirinya di masa itu—berjalan sendiri, mungkin dengan langkah yang setengah yakin, setengah takut. Kampus yang dulu terasa bebas ...

Hari Raya yang Tidak Dirayakan

Pagi itu tetap datang seperti biasa. Matahari terbit tanpa suara takbir yang menggetarkan dada seperti dulu. Tidak ada baju baru yang disiapkan malam sebelumnya, tidak ada rencana berkunjung ke banyak rumah. Hari raya kali ini terasa lebih sunyi—bukan karena sendiri, tapi karena ada sesuatu yang berubah di dalam cara memaknainya. Saya tetap duduk bersama keluarga. Makan bersama, saling menyapa, tertawa kecil. Tidak ada yang hilang dari kebersamaan itu. Justru terasa lebih jujur. Tidak tergesa-gesa, tidak sibuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Namun di tengah suasana itu, saya menyadari bahwa selama ini mungkin saya terlalu sibuk dengan bentuk perayaannya, bukan dengan maknanya. Dulu, hari raya selalu identik dengan keramaian. Pakaian terbaik, hidangan melimpah, kunjungan tanpa henti. Ada kegembiraan, tapi juga ada kelelahan yang jarang diakui. Kita sibuk memastikan semuanya terlihat sempurna. Tanpa sadar, perayaan itu menjadi seperti kewajiban sosial. Harus terlihat bahagia, ...

Siapa Aku?

Suatu hari aku duduk sendirian setelah semua kesibukan selesai. Tidak ada percakapan, tidak ada pekerjaan yang harus dikejar. Hanya ada aku dan pikiranku sendiri. Di tengah keheningan itu tiba-tiba muncul perasaan aneh: selama ini aku merasa mengenal diriku, tetapi apakah aku benar-benar pernah melihat diriku sendiri? Sejak kecil aku membawa banyak cerita tentang diriku. Ada suara-suara yang pernah berkata bahwa aku orang yang begini, bahwa aku tidak cukup begitu, bahwa aku seharusnya menjadi seperti itu. Tanpa sadar semua kata itu menempel seperti bayangan yang terus mengikuti ke mana pun aku pergi. Ketika aku memikirkan diriku, yang muncul bukan diriku yang hidup saat ini, melainkan kumpulan cerita lama yang tersimpan di dalam kepala. Kadang aku membayangkan diriku sebagai seseorang yang kuat, kadang sebagai seseorang yang rapuh. Kadang aku merasa diriku baik, kadang merasa penuh kekurangan. Semua gambaran itu datang silih berganti seperti awan yang bergerak di langit. Anehnya, aku m...

Kepergian yang Kami Rayakan

Beberapa hari setelah ia pergi, rumah terasa lebih sunyi dari biasanya. Tidak ada perubahan besar sebenarnya. Kursi masih berada di tempat yang sama, cangkir di dapur masih tersusun rapi, dan halaman masih menerima cahaya pagi seperti biasa. Namun ada sesuatu yang tidak terlihat, sesuatu yang hilang dari ruang-ruang yang dulu terasa hidup. Saya sering duduk sendiri di sore hari, mengingat percakapan-percakapan kecil yang dulu terasa biasa saja. Tentang hal-hal remeh: cerita perjalanan, keluhan ringan, atau tawa yang muncul tanpa alasan penting. Saat itu semua terasa sederhana. Baru sekarang saya menyadari bahwa kesederhanaan itulah yang membuat kenangan menjadi hangat. Ketika seseorang pergi, yang paling terasa bukan hanya kepergiannya, tetapi ruang kosong yang ditinggalkannya. Kenangan tiba-tiba muncul di tempat yang tidak diduga: di meja makan, di jalan yang pernah dilalui bersama, bahkan dalam lagu yang dulu pernah didengar bersama. Setiap ingatan membawa sedikit rasa kehilangan. Pa...

Spiritual Tanpa Dogma

Di banyak tempat, spiritualitas sering dianggap harus berjalan bersama agama dan keyakinan tentang Tuhan. Seolah-olah seseorang baru bisa menyentuh kedalaman batin jika ia memegang suatu ajaran tertentu. Namun ada juga pengalaman yang berbeda: ada orang yang menemukan ketenangan, kejernihan, bahkan rasa sakral dalam hidup tanpa melalui jalan itu. Bagi mereka, spiritualitas tidak dimulai dari kitab, doktrin, atau kepercayaan yang diwariskan, melainkan dari pengalaman batin yang sangat pribadi. Sering kali pengalaman itu muncul dalam keadaan yang sederhana. Saat seseorang duduk diam setelah hari yang panjang, ketika pikiran perlahan tenang, atau ketika berjalan sendirian di pagi yang sepi. Tidak ada doa yang dihafal, tidak ada aturan yang sedang dijalankan. Hanya ada kesadaran yang perlahan melihat dirinya sendiri. Pada momen seperti itu, seseorang bisa merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan. Ada keheningan yang terasa penuh. Ada perasaan terhubung dengan kehidupan tanpa harus memberi n...

Teman Lama yang Dulu Dekat, Kini Terasa Jauh

Beberapa waktu lalu saya bertemu kembali dengan seorang teman lama. Kami dulu sangat dekat. Hampir setiap hari ada saja yang dibicarakan—tentang sekolah, tentang mimpi-mimpi yang terasa besar, tentang rencana hidup yang waktu itu masih seperti peta kosong. Tetapi saat kami duduk berhadapan lagi setelah sekian tahun, ada sesuatu yang terasa aneh. Kami masih saling tersenyum, masih bertanya kabar, tetapi percakapan itu seperti berjalan di permukaan. Tidak lagi sedalam dulu. Saya pulang dari pertemuan itu dengan perasaan campur aduk. Bukan sedih, tapi seperti melihat sebuah foto lama yang warnanya sudah memudar. Kami tidak bertengkar, tidak ada peristiwa besar yang merusak hubungan. Hanya saja, waktu berjalan, dan tanpa disadari kami berhenti hadir dalam kehidupan satu sama lain. Dulu semuanya terasa dekat karena sering bertemu. Kami berjalan pulang bersama, nongkrong tanpa rencana, atau sekadar duduk lama tanpa tujuan jelas. Kedekatan itu tumbuh dari hal-hal kecil yang diulang terus-mene...