Langsung ke konten utama

Belajar Bersyukur dari Perasaan Minder

Pernah merasa minder karena gaji pas-pasan dan karier yang tertinggal jauh dari teman-teman? Jangan khawatir, Anda tidak sendiri. Saya juga pernah merasakan hal yang sama. Teman-teman saya sudah pada naik jabatan, punya mobil baru, sementara saya masih berkutat dengan motor butut dan gaji yang lebih sering habis sebelum tanggal tua.

Saya ingat suatu hari, ketika sedang nongkrong di warung kopi bersama teman-teman lama. Mereka bercerita tentang perjalanan bisnis ke luar negeri, mobil baru, dan rumah yang baru saja direnovasi. Saya hanya bisa tersenyum sambil menyeruput kopi, berusaha menyembunyikan rasa minder yang menggelegak di dada. Rasanya seperti anak ayam kehilangan induk.

Namun, di balik semua itu, saya mulai berpikir, kenapa harus minder? Minder muncul karena kita sering membandingkan apa yang kita punya dengan apa yang orang lain miliki. Padahal, hidup ini bukan kompetisi siapa yang paling kaya atau siapa yang paling sukses. Hidup ini tentang bagaimana kita bisa menikmati dan bersyukur dengan apa yang kita miliki.

Coba deh, sesekali kita berhenti membandingkan diri dengan orang lain. Lihatlah sekitar kita, ada banyak hal yang bisa disyukuri. Saya punya keluarga yang selalu mendukung, teman-teman yang baik, dan pekerjaan yang meskipun gajinya pas-pasan, tapi tetap memberi nafkah. Itu sudah lebih dari cukup.

Ketika saya belajar bersyukur, hidup terasa lebih ringan. Tidak lagi dibebani dengan ambisi mencari yang tidak ada, tapi menikmati yang ada. Lagipula, apalah artinya punya segalanya kalau hati tidak pernah merasa cukup?

Saya pernah membaca satu kutipan bijak, “Bersyukur itu menikmati yang ada dan tidak berambisi mencari yang tidak ada.” Nah, benar banget! Kita akan selalu merasa kurang dan sulit puas jika yang dicari adalah sesuatu yang belum kita miliki. Keinginan manusia memang tidak ada habisnya, jadi kalau kita terus mengejar, kita tidak akan pernah sampai.

Jadi, teman-teman, daripada minder dan merasa kurang terus, yuk kita belajar bersyukur. Percayalah, hidup akan jauh lebih bahagia. Dan siapa tahu, dengan hati yang bersyukur, rejeki kita justru akan semakin lancar. Selamat bersyukur dan menikmati hidup!

Komentar

Tulisan Populer

Apa Beda Suka, Senang, dan Cinta?

Apa beda suka, senang, dan cinta? Selama anda masih belum bisa membedakan ketiga hal itu, maka anda akan salah dalam memaknai cinta. Saya ilustrasikan dalam cerita, Anda membeli hp Android karena melihat banyak teman-teman yang memilikinya dan terlihat keren, saat itu anda berada di wilayah SUKA. Dan suka merupakan wilayah NAFSU. Ketika anda mengetahui fitur, fasilitas dan manfaat Android yang lebih hebat dibandingkan HP jenis lain, maka saat itu anda berada diwilayah SENANG. Dan senang itu tidak menentu, dapat berubah-ubah tergantung kepada MOOD. Saat BOSAN, bersiaplah untuk mengganti HP jenis baru yang lebih canggih. Jadi jelaslah bahwa, Selama ini CINTA yang kita yakini sebagai cinta baru berada dalam wilayah SUKA dan SENANG. BOHONG! Jika anda berkata, gue JATUH CINTA pada pandangan pertama. Sesungguhnya saat itu anda sedang berkata, gue NAFSU dalam pandangan pertama. Mengapa demikian? Karena cinta yang anda maknai baru sebatas SUKA. Suka dengan wajahnya yang cantik, se...

Nggak Apa-apa Jelek yang Penting Tobrut!?

"Tiket habis, Bro. Ternyata yang nonton konser hari ini bukan cuma aku sama kamu,” kataku sambil merogoh kantong celana. Di antrean panjang yang melingkar di sekitar stadion, aku dan Arap terjebak dalam suasana yang serba riuh. Kami terpaksa mengalihkan rencana, mencoba mencari hiburan lain di tengah kekecewaan. Arap merogoh saku dan mengeluarkan sebatang rokok. "Yah, mau gimana lagi. Kita nongkrong aja di tempat biasa. Siapa tahu ada cewek cakep lewat,” katanya setengah bercanda, sambil menyulut rokoknya. Kembali ke dua jam sebelumnya, suasana di kampus baru saja usai saat aku dan Arap memutuskan untuk berburu tiket konser mendadak. Sialnya, tiket itu habis sebelum kami sempat mengantre. “Ya sudah, ke warung Bu Wowiek aja. Di sana pasti ada cerita baru,” usul Arap, mencoba menghidupkan kembali semangat yang sempat luntur. Di warung Bu Wowiek, suasana lebih lengang. Hanya beberapa pelanggan tetap yang duduk sambil menikmati kopi. Kami segera memilih tempat duduk di pojokan, m...