Saya selalu tertarik melihat perjalanan seorang aktivis kampus setelah mereka lulus kuliah. Dulu, ketika masih menjadi mahasiswa, mereka begitu lantang mengkritik kebijakan pemerintah, turun ke jalan membawa spanduk, berorasi di depan gedung DPR, atau menggelar diskusi tentang ketimpangan sosial. Mereka bicara tentang keadilan, demokrasi, keberpihakan kepada rakyat kecil, dan perubahan sistem politik. Namun, beberapa tahun kemudian, sebagian dari mereka justru terlihat mengenakan jas partai, menghadiri rapat konsolidasi, menjadi pengurus, bahkan ikut mengampanyekan calon kepala daerah atau calon anggota legislatif. Mereka yang dahulu berdiri di luar kekuasaan, kini memilih masuk ke dalam salah satu kendaraan politik untuk melanjutkan perjuangannya. Apakah ini sebuah pengkhianatan terhadap idealisme mahasiswa? Saya kira tidak sesederhana itu. Kampus memang bukan hanya tempat memperoleh gelar akademik. Ia juga menjadi ruang belajar politik. Di sana, mahasiswa belajar mengorganisasi massa...