Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Meditasi

Sholat dan Dzikir itu Bukan Meditasi

Banyak orang hari ini suka menyamakan sholat dan dzikir dengan meditasi. Alasannya terdengar sederhana: sama-sama duduk diam, sama-sama menenangkan, sama-sama bikin hati terasa lebih ringan. Tapi kalau ditelisik lebih dalam, sebenarnya sholat dan dzikir bukan meditasi , dan memang tidak perlu dipaksakan untuk disamakan. Meditasi, dalam pengertian psikologis dan praktis, adalah relaksasi dan dekonsentrasi . Ia tidak menuntut fokus keras, apalagi konsentrasi penuh. Meditasi justru mengajak kita meletakkan pikiran , membiarkan pikiran muncul dan pergi tanpa diikuti. Dalam meditasi, tidak ada objek yang harus diyakini, tidak ada kalimat yang harus diulang dengan benar, tidak ada arah ke mana kesadaran harus dibawa. Yang ada hanyalah pengamatan utuh terhadap diri: napas, tubuh, sensasi, dan pikiran sebagaimana adanya. Sholat dan dzikir berada di wilayah yang berbeda. Keduanya adalah ibadah , bukan latihan kesadaran netral. Sholat menuntut konsentrasi tinggi: bacaan harus benar, gerakan haru...

Tentang Kesadaran, Pakai Bahasa Bayi

Aku mau cerita tentang kesadaran tanpa istilah ribet, tanpa jargon langit-langit spiritual. Pakai kejadian harian saja. Pagi, aku bikin kopi. Air dipanasin, bubuk kopi dimasukin, diseduh. Tapi kepalaku ke mana-mana. Sambil nunggu air mendidih, pikiranku sudah loncat ke kerjaan, tagihan, chat yang belum dibalas. Kopinya jadi, tapi rasanya hambar. Bukan karena kopinya jelek, tapi karena aku nggak benar-benar ada di situ. Kesadaran itu momen ketika kita balik ke hal sederhana: menyadari apa yang sedang terjadi sekarang. Waktu aku berhenti sebentar, nyium aroma kopi, ngerasain panas gelas di tangan, di situ ada kesadaran. Nggak ada analisis. Nggak ada penilaian. Cuma tahu: “Oh, ini kopi. Hangat. Pahit.” Kesadaran bukan mikir tentang hidup. Kesadaran itu sadar kalau kita lagi hidup. Aku pernah serius belajar meditasi. Duduk rapi, punggung tegak, napas diatur. Lima menit pertama lumayan. Setelah itu, pikiran datang: “Ini sudah benar belum?” Lalu muncul target: “Harus tenang. Harus kosong.” D...

Apa itu Kesadaran?

Kesadaran sering dibicarakan seolah ia sesuatu yang tinggi, jauh, dan hanya dapat dicapai oleh para pertapa atau pencari spiritual. Padahal, dalam pandangan yang lebih jujur dan membumi, kesadaran justru sangat dekat—bahkan terlalu dekat sampai sering terlewatkan. Ia bukan pengalaman mistik yang luar biasa, bukan pula hasil dari latihan keras atau disiplin panjang. Kesadaran adalah keadaan hadir sepenuhnya, saat hidup dilihat apa adanya, tanpa ditambahi tafsir, penilaian, atau keinginan untuk menjadi sesuatu yang lain. Dalam keseharian, manusia hidup hampir sepenuhnya di bawah kendali pikiran. Pikiran bergerak dari masa lalu ke masa depan, dari ingatan ke harapan, dari luka ke ambisi. Di sanalah kesadaran sering tertutup. Kita mengira diri kita adalah pikiran itu sendiri: nama, cerita hidup, keyakinan, dan rasa takut. Padahal, baik Osho maupun Jiddu Krishnamurti menegaskan bahwa pikiran hanyalah isi, bukan ruangnya. Kesadaran adalah ruang tempat pikiran muncul dan lenyap. Ia tidak berg...

You Are Not Mind

 Kita sering mengira diri kita adalah pikiran kita. Apa yang ada di kepala dianggap sebagai “aku”: kekhawatiran, rencana, trauma, ambisi, dan ketakutan. Padahal, seperti yang dikatakan Eckhart Tolle dalam The Power of Now , “You are not your mind.” Pikiran hanyalah sesuatu yang muncul dan pergi. Ia datang seperti awan, lalu menghilang. Yang sering luput kita sadari: ada ruang yang lebih dulu ada sebelum pikiran muncul. Ruang itulah yang disebut kesadaran. Kesadaran bukan sesuatu yang ribut. Ia tidak berkomentar, tidak menghakimi, dan tidak menyusun cerita. Ia hanya hadir. Pikiran bisa marah, takut, cemas, atau bahagia, tapi kesadaran hanya melihat semua itu. Dalam analogi Tolle, pikiran seperti aktor, sementara kesadaran adalah panggung. Tanpa panggung, aktor tak bisa tampil. Tanpa kesadaran, pikiran sebenarnya tidak punya arti apa-apa. Masalahnya muncul ketika kita tertukar. Kita mengira aktor adalah panggung. Akibatnya, setiap pikiran terasa serius, personal, dan mutlak benar. Pi...

Pikiran dan Kesadaran

Kesimpulanku sekarang sederhana: pikiran dan kesadaran bukanlah satu hal. Pikiran itu seperti sisi belakang cermin—gelap, padat, penuh goresan, tapi tidak memantulkan apa-apa. Sementara kesadaran adalah sisi depan cermin—bening, diam, dan memantulkan segala sesuatu apa adanya. Banyak dari kita keliru: kita sibuk menggosok sisi belakang cermin, berharap bisa melihat dengan lebih jernih, padahal yang perlu dilakukan hanyalah berbalik arah. Pikiran bekerja dengan kata, ingatan, dan reaksi. Ia selalu bicara tentang masa lalu atau masa depan. Osho pernah bilang, “Mind is a beautiful servant but a dangerous master.” Pikiran berguna untuk menghitung, merencanakan, dan mengingat, tapi jadi masalah ketika ia merasa menjadi pusat hidup. Saat itu, kita hidup di bayangan, bukan di pantulan. Kesadaran berbeda. Ia tidak menilai, tidak berisik, dan tidak memberi label. Jiddu Krishnamurti mengatakan, “Awareness is choiceless observation.” Kesadaran hanya melihat. Ia seperti cermin yang tidak memilih a...

Meditasi Diam dan Meditasi Aktif: Dua Jalan Menghadapi Luka Batin

Dalam dunia spiritual modern, meditasi sering dipahami sebagai duduk diam, tenang, dan mengamati napas. Namun pemahaman ini tidak sepenuhnya mencerminkan keragaman pendekatan meditasi yang berkembang. Dua tokoh besar abad ke-20, Jiddu Krishnamurti dan Osho, justru menawarkan dua jalan yang hampir bertolak belakang: meditasi diam dan meditasi aktif. Keduanya sama-sama berbicara tentang kebebasan batin dan penyembuhan luka psikologis, tetapi berangkat dari asumsi yang sangat berbeda. Bagi Jiddu Krishnamurti, luka batin bukanlah sesuatu yang perlu disembuhkan melalui proses atau teknik. Luka hidup karena pikiran terus mengulang ingatan, identitas, dan cerita tentang “aku yang terluka”. Selama ada upaya untuk menyembuhkan, memperbaiki, atau mengatasi luka, selama itu pula luka dipertahankan. Karena itu, Krishnamurti menolak semua metode meditasi. Meditasi baginya adalah pengamatan total—diam, tanpa pilihan, tanpa penilaian. Dalam pengamatan semacam ini, ketika pikiran melihat dirinya sendi...