Ada sesuatu yang menarik dari meditasi inner child. Kita diajak memejamkan mata, membayangkan diri kita ketika kecil, lalu mencoba menemui anak yang pernah merasa kesepian, ketakutan, tidak dicintai, atau terluka. Kita diminta mendengarkan perasaannya, memeluknya dalam imajinasi, dan memberikan kasih sayang yang mungkin dahulu tidak pernah diterimanya. Bagi sebagian orang, latihan ini terasa melegakan. Namun, ada pertanyaan yang layak diajukan: apakah kita benar-benar sedang menyembuhkan diri, atau justru semakin tenggelam dalam cerita masa lalu? Masa kecil memang meninggalkan jejak. Seseorang yang dahulu sering diremehkan mungkin tumbuh menjadi orang dewasa yang haus pengakuan. Seseorang yang takut ditinggalkan mungkin terus mencari kepastian dalam hubungan. Memahami pengalaman semacam ini dapat membantu kita mengenali pola perilaku yang selama ini berjalan tanpa disadari. Masalahnya muncul ketika setiap kesulitan hari ini selalu ditarik kembali ke masa kecil. Sedikit kecewa dianggap ...