Dulu, aku benar-benar percaya hidup harus punya misi besar. Di catatan harianku, aku menulis mimpi dengan penuh keyakinan: suatu hari aku akan mengubah dunia. Aku membayangkan diriku berdiri di depan banyak orang, bicara lantang, kalimat-kalimatku dicatat, disebarkan, lalu menggerakkan sesuatu. Entah sebagai trainer, pendakwah, atau apa pun namanya. Yang penting: aku berarti. Tahun-tahun berlalu, tapi hidup tidak bergerak ke arah panggung besar itu. Aku tetap orang biasa. Bangun pagi, mengurus pekerjaan, pulang dengan kepala lelah. Sesekali menulis, sesekali berbagi, tapi dunia tetap berjalan tanpa menoleh. Awalnya aku merasa tertinggal. Seperti ada janji pada diri sendiri yang gagal kutepati. Aku mulai membandingkan hidupku dengan hidup orang lain. Mereka terlihat melaju, dikenal, dielu-elukan. Sementara aku seperti berhenti di tempat. Ada hari-hari ketika aku bertanya dalam diam, “Apa gunanya aku ada kalau tidak membawa perubahan besar?” Sampai suatu waktu, aku lelah mengejar gambara...
Ia adalah teman kuliahku dulu. Kami lulus hampir bersamaan, ikut wisuda di gedung yang sama, berfoto dengan toga yang sama, lalu hidup membawa kami ke arah yang berbeda. Sekarang, ketika reuni kecil-kecilan terjadi, hampir semua datang berpasangan. Ia datang sendiri. Bukan karena tidak laku, bukan pula karena anti pernikahan. Ia hanya belum menikah—di usia yang oleh banyak orang disebut “tidak lagi muda”. Di setiap pertemuan, pertanyaan itu selalu muncul, meski dibungkus bercanda. “Masih betah sendiri?” atau “Kapan nyusul?” Ia tertawa kecil, menanggapi seperlunya. Setelah itu, obrolan beralih ke cicilan rumah, anak, dan sekolah favorit. Ia mendengarkan dengan sopan, lalu menyesap kopi, seolah semua baik-baik saja. Padahal aku tahu ceritanya tidak sesederhana itu. Ia pernah berusaha. Dikenalkan ke sana-sini, mencoba membuka diri, menurunkan banyak standar yang dulu dianggap penting. Ada hubungan yang bertahan beberapa bulan, ada yang putus sebelum sempat disebut pacaran. Bukan karena dr...