Malam itu aku terbangun karena sebuah pertanyaan yang entah datang dari mana. "Siapa kamu?" Tidak ada siapa-siapa di kamar. Hanya suara kipas angin yang berputar pelan dan cahaya lampu jalan yang masuk melalui celah jendela. Aku mencoba tidur lagi, tetapi pertanyaan itu terus mengendap seperti batu kecil di dalam sepatu. Semakin kuabaikan, semakin terasa. Pagi harinya aku berdiri di depan cermin. "Aku." Jawaban itu terdengar begitu mudah. Tetapi siapa sebenarnya yang sedang kujawab? Apakah wajah yang mulai dipenuhi garis-garis halus itu adalah aku? Kalau suatu hari wajah ini berubah, apakah aku ikut berubah? Kalau namaku diganti, apakah aku menjadi orang lain? Kalau pekerjaanku hilang, apakah aku juga ikut hilang? Sepanjang perjalanan ke tempat kerja, pertanyaan itu tidak juga pergi. Di lampu merah, kulihat seorang pengemis menggendong anak kecil. Di seberang jalan, seorang pria berjas berjalan tergesa-gesa sambil terus berbicara melalui telepon. Di warung kopi, beb...
Belakangan ini aku sering memikirkan satu pertanyaan yang dulu tidak pernah berani kutanyakan. Ketika aku mengatakan percaya kepada Tuhan, sebenarnya kepada siapa aku percaya? Kepada Tuhan itu sendiri, atau kepada gambaran tentang Tuhan yang selama ini diwariskan kepadaku? Sejak kecil aku belajar mengenal Tuhan dari orang tua, guru, ustaz, buku, dan lingkungan tempat aku tumbuh. Mereka mengenalkan siapa Tuhan, apa yang Tuhan sukai, apa yang Tuhan benci, bagaimana cara beribadah, bahkan bagaimana cara memandang orang yang berbeda keyakinan. Saat itu aku menerimanya begitu saja. Rasanya tidak ada alasan untuk bertanya lebih jauh. Namun semakin banyak membaca sejarah agama, aku mulai menyadari sesuatu yang sederhana tetapi mengusik. Ternyata manusia sejak dulu sama-sama berbicara tentang Tuhan, tetapi tidak pernah benar-benar berbicara dengan cara yang sama. Bahkan dalam satu agama, lahir banyak mazhab, banyak ulama, banyak tafsir, dan kadang saling berbeda pendapat. Mereka membaca kitab ...