Beberapa bulan terakhir, aku cukup sering mendengarkan podcast Mun'im Sirry dan Al Makin. Awalnya hanya karena penasaran. Lama-kelamaan aku sadar, yang mereka lakukan bukan sedang mengajak orang meninggalkan agama, tetapi mengajak melihat agama dari jendela yang lebih lebar. Selama ini aku tumbuh dengan keyakinan bahwa Islam adalah sesuatu yang sudah selesai. Seolah semua jawaban sudah tersedia, tinggal diterima dan dijalankan. Tapi setelah membaca beberapa tulisan mereka, muncul pertanyaan yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan: bagaimana kalau yang selama ini kuanggap sebagai "Islam" ternyata lebih banyak merupakan hasil tafsir manusia daripada agama itu sendiri? Mun'im Sirry berkali-kali mengingatkan bahwa wahyu dan tafsir adalah dua hal yang berbeda. Wahyu diyakini berasal dari Tuhan, tetapi begitu wahyu dipahami, dijelaskan, diterjemahkan, lalu dijadikan hukum, semuanya sudah memasuki wilayah manusia. Dan manusia, sebagaimana kita tahu, selalu membawa pengalama...
Beberapa waktu terakhir, saya sadar satu hal kecil yang ternyata berdampak besar: apa yang saya baca di media sosial ikut menentukan suasana hati saya sepanjang hari. Dulu saya membuka ponsel tanpa pikir panjang. Scroll berita, lihat komentar, pindah ke video, lalu ke topik lain yang sedang ramai. Rasanya seperti biasa saja. Tapi lama-lama saya mulai merasa lelah—bukan karena aktivitasnya, tapi karena isi yang saya konsumsi. Ada hari-hari ketika saya belum melakukan apa-apa, tapi sudah merasa kesal. Kadang marah pada hal yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan hidup saya. Kadang juga overthinking tentang sesuatu yang bahkan tidak saya alami sendiri. Semua itu datang hanya dari membaca dan melihat. Saya mulai memperhatikan pola yang terjadi. Setiap kali saya membaca berita yang penuh konflik, drama, atau kemarahan, perasaan saya ikut terseret. Saya jadi lebih mudah tersinggung, lebih cepat menilai, bahkan kadang ikut berdebat dalam pikiran sendiri. Padahal saya hanya duduk diam, ti...