Belakangan ini aku sering bertanya pada diri sendiri, kenapa rasanya hidup makin cepat? Padahal jam masih tetap dua puluh empat jam sehari. Matahari masih terbit dari timur. Langit masih berganti warna setiap sore. Yang berubah mungkin bukan waktunya, tetapi kita. Aku ingat dulu, selesai bekerja rasanya memang selesai. Orang pulang, duduk di teras, mengobrol dengan tetangga, lalu tidur. Hari berganti begitu saja. Sekarang, selesai bekerja bukan berarti pekerjaan selesai. Masih ada pesan yang harus dibalas, ada notifikasi yang harus dibuka, ada kursus yang katanya harus diikuti, ada target yang terus bertambah. Bahkan ketika tubuh sedang rebah di kasur, pikiran masih sibuk mengejar sesuatu. Aneh ya. Tidak ada yang benar-benar menyuruh kita. Tidak ada orang yang berdiri di depan rumah sambil berkata, "Kamu harus lebih sukses." Tidak ada yang memaksa membuka media sosial berkali-kali dalam sehari. Tidak ada yang meminta kita membandingkan hidup dengan orang lain. Tetapi hampir s...
Beberapa bulan terakhir, aku cukup sering mendengarkan podcast Mun'im Sirry dan Al Makin. Awalnya hanya karena penasaran. Lama-kelamaan aku sadar, yang mereka lakukan bukan sedang mengajak orang meninggalkan agama, tetapi mengajak melihat agama dari jendela yang lebih lebar. Selama ini aku tumbuh dengan keyakinan bahwa Islam adalah sesuatu yang sudah selesai. Seolah semua jawaban sudah tersedia, tinggal diterima dan dijalankan. Tapi setelah membaca beberapa tulisan mereka, muncul pertanyaan yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan: bagaimana kalau yang selama ini kuanggap sebagai "Islam" ternyata lebih banyak merupakan hasil tafsir manusia daripada agama itu sendiri? Mun'im Sirry berkali-kali mengingatkan bahwa wahyu dan tafsir adalah dua hal yang berbeda. Wahyu diyakini berasal dari Tuhan, tetapi begitu wahyu dipahami, dijelaskan, diterjemahkan, lalu dijadikan hukum, semuanya sudah memasuki wilayah manusia. Dan manusia, sebagaimana kita tahu, selalu membawa pengalama...