Aku pernah duduk lama di ruang tunggu rumah sakit, menatap lantai yang dingin dan bau obat yang tak pernah benar-benar hilang. Di seberangku, seseorang menggenggam tasbih, bibirnya bergerak pelan. Di kursi lain, seorang lelaki hanya menunduk, menatap ponselnya tanpa doa apa pun. Keduanya sama-sama menunggu kabar. Sama-sama cemas. Sama-sama tak berdaya. Saat itu aku mulai bertanya, pelan tapi jujur: apakah Tuhan benar-benar menentukan siapa yang sembuh dan siapa yang tidak? Aku melihat orang yang berdoa dengan sepenuh hati tetap kehilangan. Aku juga melihat mereka yang tak pernah menyebut nama Tuhan justru pulang dengan senyum lega. Tidak ada pola yang bisa kutarik. Tidak ada rumus yang bisa dipercaya. Hidup berjalan dengan caranya sendiri—kadang lembut, sering kali kejam, dan nyaris selalu tak bisa ditebak. Di situlah pikiranku mulai bergeser. Mungkin pertanyaan tentang “Tuhan ada atau tidak” selama ini terlalu dibebani harapan. Kita ingin Tuhan hadir sebagai penjamin. Sebagai pihak ya...
Aku dulu mengira tabayyun hanyalah milik satu ajaran. Kata yang sering diucapkan, tapi jarang dihidupi. Ia terdengar seperti nasihat moral—baik, benar, dan seharusnya dilakukan—namun tidak pernah benar-benar kutanya maknanya dalam hidup sehari-hari. Sampai suatu hari aku sadar, hampir semua konflik yang pernah kulihat berawal dari hal yang sama: tergesa-gesa. Tergesa percaya. Tergesa menyimpulkan. Tergesa menunjuk siapa yang salah. Pengalaman itu datang sederhana. Dari obrolan warung, dari pesan berantai, dari potongan cerita tentang seseorang yang “katanya begini” dan “katanya begitu”. Aku ikut hanyut, ikut mengangguk, ikut merasa tahu. Padahal yang kumiliki hanya serpihan cerita, bukan kenyataan utuh. Anehnya, perasaan paling kuat justru muncul bukan ketika aku tahu, tapi ketika aku merasa tahu. Belakangan aku menyadari, tabayyun ternyata tidak berdiri sendirian. Di banyak tempat, dengan nama berbeda, manusia mengenal hal serupa. Ada yang menyebutnya menahan diri. Ada yang menyebutny...