Ada kalanya hidup hanya membutuhkan satu kalimat sederhana: yang sudah selesai, ya sudah selesai. Dulu saya mengira semua hal harus dibereskan sampai benar-benar tuntas. Kalau ada masalah, harus dicari jawabannya. Kalau ada hubungan yang berakhir, harus tahu siapa yang salah. Kalau ada perkataan yang menyakitkan, harus dijelaskan. Kalau ada kegagalan, harus dicari alasan mengapa itu terjadi. Ternyata tidak selalu begitu. Ada hal-hal yang memang selesai tanpa penjelasan. Ada orang yang pergi tanpa sempat memberikan alasan. Ada pekerjaan yang berhenti sebelum sempurna. Ada rencana yang sudah dibuat dengan hati-hati, tetapi akhirnya tidak pernah terjadi. Kita sering membuat sesuatu yang sudah selesai menjadi hidup kembali karena terus memikirkannya. Saya pernah mengalami hal seperti itu. Sebuah kejadian sudah berlalu bertahun-tahun, tetapi setiap kali mengingatnya, saya seperti membuka kembali pintu yang sebenarnya sudah saya tutup. Kejadiannya memang sudah selesai, tetapi saya sendiri ya...
Ada sesuatu yang menarik dari polemik Memburu Muhammad karya Feby Indirani. Sebuah buku yang seharusnya dibicarakan di ruang diskusi justru berhenti sebelum percakapan dimulai. Rencana bedah buku dalam Pekan Sastra Bogor 2026 dibatalkan setelah kelompok yang mengatasnamakan Front Persaudaraan Islam mempersoalkan judul buku dan tajuk diskusinya, bahkan menurut keterangan panitia dan penulis, disertai ancaman pengerahan massa. Demi keamanan, panitia akhirnya membatalkan acara tersebut. Yang kemudian menjadi pertanyaan adalah: apakah sebuah karya sastra boleh dinilai hanya dari judulnya? Memburu Muhammad bukan buku sejarah atau kitab agama. Buku ini merupakan kumpulan 19 cerita pendek yang menggunakan realisme magis dan satire untuk mengolah berbagai tema keislaman. Cerita yang menjadi judul buku, misalnya, menghadirkan tokoh dari masa lalu yang mencari sosok “Muhammad” di Indonesia modern. Ia menemukan banyak orang bernama Muhammad, tetapi nama itu tidak otomatis menjamin bahwa pemilikny...