Peristiwa Heri Pras yang dikeroyok tentu menyisakan keprihatinan. Banyak orang menyayangkan aksi kekerasan tersebut. Namun, kalau kita melihat rangkaian peristiwanya, ada satu hal yang menurut saya perlu dipikirkan: sebenarnya, apa yang kita harapkan dari pertemuan yang sejak awal sudah dibangun dengan suasana permusuhan? Heri Pras disebut telah melontarkan sebutan “setan bisu” kepada Ustaz Abdul Somad (UAS) dan Ustaz Adi Hidayat (UAH). Pernyataan itu kemudian menambah panas suasana, terlebih setelah muncul tantangan duel dengan Yudi Cahyadi, yang sama-sama dikenal sebagai petarung. Maka, ketika para petarung datang, rasanya agak naif jika kita membayangkan akan ada diskusi yang tenang, pertukaran gagasan, atau adu argumentasi. Bukankah sejak awal nuansanya memang sudah mengarah pada adu fisik? Saya tidak sedang membenarkan pengeroyokan. Menghina seseorang bukan alasan untuk mengeroyoknya. Tantangan duel pun tidak otomatis memberikan pembenaran bagi orang lain untuk ikut menyerang. Ada...
Saya selalu tertarik melihat perjalanan seorang aktivis kampus setelah mereka lulus kuliah. Dulu, ketika masih menjadi mahasiswa, mereka begitu lantang mengkritik kebijakan pemerintah, turun ke jalan membawa spanduk, berorasi di depan gedung DPR, atau menggelar diskusi tentang ketimpangan sosial. Mereka bicara tentang keadilan, demokrasi, keberpihakan kepada rakyat kecil, dan perubahan sistem politik. Namun, beberapa tahun kemudian, sebagian dari mereka justru terlihat mengenakan jas partai, menghadiri rapat konsolidasi, menjadi pengurus, bahkan ikut mengampanyekan calon kepala daerah atau calon anggota legislatif. Mereka yang dahulu berdiri di luar kekuasaan, kini memilih masuk ke dalam salah satu kendaraan politik untuk melanjutkan perjuangannya. Apakah ini sebuah pengkhianatan terhadap idealisme mahasiswa? Saya kira tidak sesederhana itu. Kampus memang bukan hanya tempat memperoleh gelar akademik. Ia juga menjadi ruang belajar politik. Di sana, mahasiswa belajar mengorganisasi massa...