Banyak orang percaya bahwa semakin besar loncatan, semakin besar pula peluangnya. Itulah paradoks yang sering muncul dalam urusan uang: jarak yang lebar justru terasa lebih meyakinkan daripada langkah kecil yang pasti. Anehnya, orang yang sudah terbukti mampu mengumpulkan uang secara pelan dan disiplin justru bisa lebih mudah percaya pada janji kekayaan besar yang instan. Aku pernah melihatnya dari dekat. Seorang kenalan bertahun-tahun menabung sampai akhirnya terkumpul tiga puluh juta rupiah. Ia bukan orang yang boros. Ia tahu caranya menyisihkan uang, menahan diri, dan sabar. Prosesnya lambat tapi nyata. Setiap angka di rekeningnya punya cerita: lembur, menunda liburan, menahan keinginan beli barang baru. Namun suatu hari ia bercerita dengan mata berbinar, “Ada cara dapat satu miliar. Cepat. Katanya sistemnya sudah terbukti.” Ia menjelaskan dengan semangat yang tak pernah kulihat saat ia bicara soal menabung. Ada sesuatu yang berubah. Angka satu miliar membuat tiga puluh juta terasa ...
Dulu, aku benar-benar percaya hidup harus punya misi besar. Di catatan harianku, aku menulis mimpi dengan penuh keyakinan: suatu hari aku akan mengubah dunia. Aku membayangkan diriku berdiri di depan banyak orang, bicara lantang, kalimat-kalimatku dicatat, disebarkan, lalu menggerakkan sesuatu. Entah sebagai trainer, pendakwah, atau apa pun namanya. Yang penting: aku berarti. Tahun-tahun berlalu, tapi hidup tidak bergerak ke arah panggung besar itu. Aku tetap orang biasa. Bangun pagi, mengurus pekerjaan, pulang dengan kepala lelah. Sesekali menulis, sesekali berbagi, tapi dunia tetap berjalan tanpa menoleh. Awalnya aku merasa tertinggal. Seperti ada janji pada diri sendiri yang gagal kutepati. Aku mulai membandingkan hidupku dengan hidup orang lain. Mereka terlihat melaju, dikenal, dielu-elukan. Sementara aku seperti berhenti di tempat. Ada hari-hari ketika aku bertanya dalam diam, “Apa gunanya aku ada kalau tidak membawa perubahan besar?” Sampai suatu waktu, aku lelah mengejar gambara...