Ada sesuatu yang menarik ketika mendengarkan kajian Abu Marlo. Cara penyampaiannya berbeda dari ceramah agama yang biasa kita temui. Ia lebih banyak mengajak orang melihat agama dari sisi batin, kesadaran, pengalaman hidup, dan hubungan manusia dengan Tuhan. Tidak terlalu sibuk membicarakan perdebatan fikih atau mempertentangkan kelompok keagamaan. Pendekatannya terasa dekat dengan tasawuf, bahkan kadang seperti mengajak pendengarnya melihat kembali agama dari sudut pandang yang tidak biasa. Saya kira pendekatan seperti ini punya daya tarik tersendiri. Banyak orang mungkin sudah lelah dengan ceramah yang isinya dipenuhi perdebatan halal-haram, bidah, sesat, dan benar-salah. Mereka ingin menemukan agama yang lebih menenangkan, yang tidak hanya mengatur gerakan tubuh ketika beribadah, tetapi juga menyentuh bagaimana seseorang memahami dirinya sendiri. Tasawuf memang memiliki ruang untuk itu. Ia mengajak manusia memperhatikan kebersihan hati, mengurangi kesombongan, mengenali ego, dan mem...
Kalau mengingat masa sekolah dulu, perjalanan saya mengenal Islam ternyata cukup berwarna. Saya pernah mengikuti kajian dari beberapa kelompok dan pergerakan Islam. Mulai dari liqo Tarbiyah PKS sejak SMP, bersinggungan dengan Jamaah Tabligh, kemudian mengenal kajian Salafi atau yang sering disebut Wahabi ketika SMA. Pada masa itu saya juga sempat bersinggungan dengan HTI dan NII. Di luar semua itu, saya tetap belajar kitab kuning dan mengaji kepada ustaz yang berlatar belakang NU. Kalau dipikir-pikir, saya seperti sedang berkeliling dari satu ruang kajian ke ruang kajian lainnya. Setiap tempat punya suasana, cara bicara, kebiasaan, dan cara sendiri dalam menjelaskan Islam. Di liqo Tarbiyah, saya mengenal pola pembinaan yang teratur. Ada pertemuan rutin, materi keislaman, pembentukan karakter, dan pembicaraan tentang tanggung jawab seorang Muslim. Ada semangat membangun jamaah dan memperbaiki diri secara bersama-sama. Ketika bersinggungan dengan Jamaah Tabligh, saya melihat corak dakwah...