Meditasi sering dibayangkan sebagai keadaan ketika pikiran langsung kosong, tubuh sangat tenang, lalu seseorang tiba-tiba menemukan kedamaian. Kenyataannya tidak sesederhana itu. Ketika mulai duduk dan diam, justru sering kali yang muncul adalah kebisingan yang selama ini tertutup oleh kesibukan. Pada awalnya, tubuh mulai terasa lebih tenang. Napas menjadi lebih teratur. Kita mulai menyadari suara kendaraan, bunyi kipas, rasa gatal di kulit, atau posisi tubuh yang ternyata tidak nyaman. Pikiran pun ke mana-mana. Baru duduk sebentar, tiba-tiba teringat pekerjaan, percakapan kemarin, masalah keluarga, bahkan rencana makan setelah meditasi. Ini bukan berarti meditasi gagal. Justru di situlah latihan sebenarnya dimulai. Setelah beberapa waktu, biasanya kita mulai melihat pola. Pikiran muncul, kita mengikutinya, lalu sadar bahwa kita sedang melamun. Kita kembali memperhatikan keadaan saat ini. Beberapa saat kemudian pikiran lain muncul lagi. Begitu terus. Seperti sedang duduk di pinggir...
Begitu pintu ditutup, saya langsung melepas sepatu dan melemparkannya ke sudut. Tidak rapi memang. Tapi anehnya, di rumah sendiri kita sering tidak terlalu peduli pada hal-hal yang biasanya ingin kita tampilkan sempurna di hadapan orang lain. Saya duduk di lantai. Diam. Tidak ada yang perlu saya buktikan. Tidak ada yang perlu saya jelaskan. Mungkin inilah rumah yang sebenarnya. Selama ini kita sering mengira rumah adalah bangunan. Ada tembok, pintu, jendela, kamar tidur, dapur, dan tagihan listrik yang datang setiap bulan seperti tamu yang tidak pernah lupa alamat. Tetapi semakin lama saya merasa rumah bukan sekadar tempat kita tinggal. Rumah adalah tempat kita boleh berhenti menjadi siapa-siapa. Di luar sana kita punya banyak peran. Menjadi pekerja, pasangan, orang tua, teman, tetangga, bahkan kadang menjadi manusia yang kelihatan baik-baik saja padahal sebenarnya sedang ingin rebahan seharian. Di rumah, semua peran itu boleh dilepas. Kita boleh diam. Boleh gagal. Boleh menangis. Bole...