Pernahkah kita merasa hidup akan jauh lebih bahagia jika punya uang lebih banyak? Rumah lebih besar, kendaraan lebih bagus, tabungan lebih tebal, dan pekerjaan dengan gaji yang membuat orang lain kagum. Kita sering menganggap semua itu sebagai cita-cita yang wajar. Namun, tanpa sadar, keinginan mencari uang bisa berubah menjadi sesuatu yang lain: pemujaan terhadap uang. Saya kadang membayangkan kehidupan orang yang setiap hari bekerja keras demi masa depan. Pagi berangkat ketika anak-anak belum bangun, malam pulang ketika mereka sudah tidur. Katanya, semua itu demi keluarga. Tidak ada yang salah dengan bekerja untuk keluarga. Persoalannya muncul ketika masa depan yang ingin dinikmati justru membuat kita kehilangan kehidupan yang sedang berlangsung hari ini. Dalam psikologi, fenomena ini berdekatan dengan konsep *money worship* yang diteliti psikolog Bradley Klontz bersama rekan-rekannya. Mereka menjelaskan bahwa pola keyakinan ini membuat seseorang percaya bahwa semakin banyak uang yan...
Ada sesuatu yang menarik dari meditasi inner child. Kita diajak memejamkan mata, membayangkan diri kita ketika kecil, lalu mencoba menemui anak yang pernah merasa kesepian, ketakutan, tidak dicintai, atau terluka. Kita diminta mendengarkan perasaannya, memeluknya dalam imajinasi, dan memberikan kasih sayang yang mungkin dahulu tidak pernah diterimanya. Bagi sebagian orang, latihan ini terasa melegakan. Namun, ada pertanyaan yang layak diajukan: apakah kita benar-benar sedang menyembuhkan diri, atau justru semakin tenggelam dalam cerita masa lalu? Masa kecil memang meninggalkan jejak. Seseorang yang dahulu sering diremehkan mungkin tumbuh menjadi orang dewasa yang haus pengakuan. Seseorang yang takut ditinggalkan mungkin terus mencari kepastian dalam hubungan. Memahami pengalaman semacam ini dapat membantu kita mengenali pola perilaku yang selama ini berjalan tanpa disadari. Masalahnya muncul ketika setiap kesulitan hari ini selalu ditarik kembali ke masa kecil. Sedikit kecewa dianggap ...