Langsung ke konten utama

Postingan

Penyebab Mereka yang mengatakan Babi itu Haram, Tetapi ada yang Boleh Makan

Larangan memakan babi di Timur Tengah sering dipahami sebagai perintah agama yang berdiri sendiri, tegas, dan final. Dalam Cows, Pigs, Wars, and Witches, Marvin Harris mengajak pembaca melihatnya dari arah yang berbeda: bukan semata sebagai doktrin, melainkan sebagai jejak cara manusia bertahan hidup di tanah yang keras dan kering. Dari sana, kita melihat gambaran besar lebih dulu—bahwa larangan itu mungkin lahir dari kebutuhan hidup—baru kemudian turun pada cerita manusia dan batin mereka. Bayangkan hamparan padang tandus di wilayah Arab berabad-abad lalu. Air terbatas, tanaman tidak mudah tumbuh, dan kehidupan banyak bergantung pada hewan yang mampu berjalan jauh mencari makan. Kambing dan domba menjadi sahabat perjalanan; unta menjadi penopang hidup. Di tengah kondisi seperti itu, babi bukan pilihan yang bijak. Ia membutuhkan air lebih banyak, tidak kuat berjalan jauh, dan makanannya bersaing langsung dengan makanan manusia. Dalam keadaan sulit, memelihara babi bisa menjadi beban. D...
Postingan terbaru

Memproses Luka Batin

Luka batin tidak pernah datang dengan suara keras. Ia sering masuk seperti senja—pelan, meredupkan warna-warna tanpa kita sadar kapan tepatnya cahaya itu hilang. Saya pernah mengira kehilangan adalah peristiwa satu hari: hari ketika kabar itu datang, hari ketika seseorang tak lagi menjawab pesan, hari ketika kursi di ruang tamu kosong. Ternyata saya keliru. Kehilangan bukan satu hari. Ia adalah musim yang panjang. Awalnya saya merasa baik-baik saja. Saya masih bisa bercanda, masih bisa bekerja, masih bisa duduk bersama orang lain tanpa menangis. Tetapi ada sesuatu yang bergeser. Setiap kali malam datang, dada terasa lebih berat. Pikiran seperti memutar ulang adegan-adegan kecil: percakapan terakhir, tawa yang dulu terdengar biasa saja, pesan singkat yang sekarang terasa berharga. Saya mencoba mengusirnya dengan kesibukan. Semakin sibuk, semakin terlihat kuat. Namun ketika sunyi datang, luka itu seperti membuka pintu yang saya tutup rapat sepanjang hari. Memproses luka ternyata tidak se...

Hidup harus Bertetangga, Kalau Meninggal Siapa yang Nguburin?

Di sebuah gang kecil, seorang lelaki tua meninggal pada sore yang tenang. Azan magrib belum selesai ketika kabar itu menyebar dari mulut ke mulut. Istrinya sudah lama tiada. Anak-anaknya merantau. Yang pertama datang justru bukan keluarga, melainkan tetangga yang rumahnya bersebelahan, orang yang selama ini hanya bertegur sapa seperlunya. Tubuhnya dibaringkan di ruang tamu yang sederhana. Tikar digelar. Air disiapkan. Seseorang menghubungi pengurus masjid. Seseorang lagi meminjamkan kain kafan. Dalam beberapa jam, rumah yang biasanya sepi itu dipenuhi langkah kaki dan suara lirih doa. Kematian, seperti biasa, menjadi urusan orang-orang yang masih hidup. Saya pernah mendengar kalimat yang sering diucapkan orang tua di kampung: “Jangan sampai kita tidak dikenal tetangga, nanti kalau meninggal siapa yang mengurus?” Kalimat itu terdengar seperti nasihat yang masuk akal, tapi juga menyimpan ketakutan yang diam-diam. Seolah-olah hubungan dengan orang lain dibangun bukan karena ingin saling m...