“Masih ingat dulu gue sering hilang tiap Jumat?” Ia tertawa kecil sambil mengaduk kopi di depannya. Wajahnya tidak banyak berubah—tetap hangat, tetap mudah akrab—hanya ada ketenangan yang dulu tidak saya lihat. Kami duduk di sudut kafe, setelah sekian tahun tidak bertemu. Percakapan langsung melompat ke masa lalu, seolah waktu hanya berhenti sebentar. Saya tersenyum, lalu mengangguk pelan. Dulu saya memang sering heran. Di tengah jadwal kampus yang padat, ia kadang menghilang tanpa banyak penjelasan. Tidak selalu, tapi cukup sering. Saya tidak pernah benar-benar bertanya, hanya menganggap itu hal biasa—urusan pribadi yang tidak perlu dicampuri. “Dulu gue salat Jumat diam-diam,” katanya pelan. “Takut ketahuan teman-teman kampus… apalagi yang sesama jemaat.” Ia mengatakannya tanpa ragu, tapi ada jejak masa lalu yang terasa dalam nada suaranya. Saya membayangkan dirinya di masa itu—berjalan sendiri, mungkin dengan langkah yang setengah yakin, setengah takut. Kampus yang dulu terasa bebas ...
Pagi itu tetap datang seperti biasa. Matahari terbit tanpa suara takbir yang menggetarkan dada seperti dulu. Tidak ada baju baru yang disiapkan malam sebelumnya, tidak ada rencana berkunjung ke banyak rumah. Hari raya kali ini terasa lebih sunyi—bukan karena sendiri, tapi karena ada sesuatu yang berubah di dalam cara memaknainya. Saya tetap duduk bersama keluarga. Makan bersama, saling menyapa, tertawa kecil. Tidak ada yang hilang dari kebersamaan itu. Justru terasa lebih jujur. Tidak tergesa-gesa, tidak sibuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Namun di tengah suasana itu, saya menyadari bahwa selama ini mungkin saya terlalu sibuk dengan bentuk perayaannya, bukan dengan maknanya. Dulu, hari raya selalu identik dengan keramaian. Pakaian terbaik, hidangan melimpah, kunjungan tanpa henti. Ada kegembiraan, tapi juga ada kelelahan yang jarang diakui. Kita sibuk memastikan semuanya terlihat sempurna. Tanpa sadar, perayaan itu menjadi seperti kewajiban sosial. Harus terlihat bahagia, ...