Beberapa waktu lalu saya bertemu kembali dengan seorang teman lama. Kami dulu sangat dekat. Hampir setiap hari ada saja yang dibicarakan—tentang sekolah, tentang mimpi-mimpi yang terasa besar, tentang rencana hidup yang waktu itu masih seperti peta kosong. Tetapi saat kami duduk berhadapan lagi setelah sekian tahun, ada sesuatu yang terasa aneh. Kami masih saling tersenyum, masih bertanya kabar, tetapi percakapan itu seperti berjalan di permukaan. Tidak lagi sedalam dulu. Saya pulang dari pertemuan itu dengan perasaan campur aduk. Bukan sedih, tapi seperti melihat sebuah foto lama yang warnanya sudah memudar. Kami tidak bertengkar, tidak ada peristiwa besar yang merusak hubungan. Hanya saja, waktu berjalan, dan tanpa disadari kami berhenti hadir dalam kehidupan satu sama lain. Dulu semuanya terasa dekat karena sering bertemu. Kami berjalan pulang bersama, nongkrong tanpa rencana, atau sekadar duduk lama tanpa tujuan jelas. Kedekatan itu tumbuh dari hal-hal kecil yang diulang terus-mene...
Larangan memakan babi di Timur Tengah sering dipahami sebagai perintah agama yang berdiri sendiri, tegas, dan final. Dalam Cows, Pigs, Wars, and Witches, Marvin Harris mengajak pembaca melihatnya dari arah yang berbeda: bukan semata sebagai doktrin, melainkan sebagai jejak cara manusia bertahan hidup di tanah yang keras dan kering. Dari sana, kita melihat gambaran besar lebih dulu—bahwa larangan itu mungkin lahir dari kebutuhan hidup—baru kemudian turun pada cerita manusia dan batin mereka. Bayangkan hamparan padang tandus di wilayah Arab berabad-abad lalu. Air terbatas, tanaman tidak mudah tumbuh, dan kehidupan banyak bergantung pada hewan yang mampu berjalan jauh mencari makan. Kambing dan domba menjadi sahabat perjalanan; unta menjadi penopang hidup. Di tengah kondisi seperti itu, babi bukan pilihan yang bijak. Ia membutuhkan air lebih banyak, tidak kuat berjalan jauh, dan makanannya bersaing langsung dengan makanan manusia. Dalam keadaan sulit, memelihara babi bisa menjadi beban. D...