Langsung ke konten utama

Postingan

Hidup harus Bertetangga, Kalau Meninggal Siapa yang Nguburin?

Di sebuah gang kecil, seorang lelaki tua meninggal pada sore yang tenang. Azan magrib belum selesai ketika kabar itu menyebar dari mulut ke mulut. Istrinya sudah lama tiada. Anak-anaknya merantau. Yang pertama datang justru bukan keluarga, melainkan tetangga yang rumahnya bersebelahan, orang yang selama ini hanya bertegur sapa seperlunya. Tubuhnya dibaringkan di ruang tamu yang sederhana. Tikar digelar. Air disiapkan. Seseorang menghubungi pengurus masjid. Seseorang lagi meminjamkan kain kafan. Dalam beberapa jam, rumah yang biasanya sepi itu dipenuhi langkah kaki dan suara lirih doa. Kematian, seperti biasa, menjadi urusan orang-orang yang masih hidup. Saya pernah mendengar kalimat yang sering diucapkan orang tua di kampung: “Jangan sampai kita tidak dikenal tetangga, nanti kalau meninggal siapa yang mengurus?” Kalimat itu terdengar seperti nasihat yang masuk akal, tapi juga menyimpan ketakutan yang diam-diam. Seolah-olah hubungan dengan orang lain dibangun bukan karena ingin saling m...
Postingan terbaru

Psikologi Uang dan Kekayaan

Banyak orang percaya bahwa semakin besar loncatan, semakin besar pula peluangnya. Itulah paradoks yang sering muncul dalam urusan uang: jarak yang lebar justru terasa lebih meyakinkan daripada langkah kecil yang pasti. Anehnya, orang yang sudah terbukti mampu mengumpulkan uang secara pelan dan disiplin justru bisa lebih mudah percaya pada janji kekayaan besar yang instan. Aku pernah melihatnya dari dekat. Seorang kenalan bertahun-tahun menabung sampai akhirnya terkumpul tiga puluh juta rupiah. Ia bukan orang yang boros. Ia tahu caranya menyisihkan uang, menahan diri, dan sabar. Prosesnya lambat tapi nyata. Setiap angka di rekeningnya punya cerita: lembur, menunda liburan, menahan keinginan beli barang baru. Namun suatu hari ia bercerita dengan mata berbinar, “Ada cara dapat satu miliar. Cepat. Katanya sistemnya sudah terbukti.” Ia menjelaskan dengan semangat yang tak pernah kulihat saat ia bicara soal menabung. Ada sesuatu yang berubah. Angka satu miliar membuat tiga puluh juta terasa ...

Tidak Jadi Apa-Apapun, Dunia Baik-Baik saja

Dulu, aku benar-benar percaya hidup harus punya misi besar. Di catatan harianku, aku menulis mimpi dengan penuh keyakinan: suatu hari aku akan mengubah dunia. Aku membayangkan diriku berdiri di depan banyak orang, bicara lantang, kalimat-kalimatku dicatat, disebarkan, lalu menggerakkan sesuatu. Entah sebagai trainer, pendakwah, atau apa pun namanya. Yang penting: aku berarti. Tahun-tahun berlalu, tapi hidup tidak bergerak ke arah panggung besar itu. Aku tetap orang biasa. Bangun pagi, mengurus pekerjaan, pulang dengan kepala lelah. Sesekali menulis, sesekali berbagi, tapi dunia tetap berjalan tanpa menoleh. Awalnya aku merasa tertinggal. Seperti ada janji pada diri sendiri yang gagal kutepati. Aku mulai membandingkan hidupku dengan hidup orang lain. Mereka terlihat melaju, dikenal, dielu-elukan. Sementara aku seperti berhenti di tempat. Ada hari-hari ketika aku bertanya dalam diam, “Apa gunanya aku ada kalau tidak membawa perubahan besar?” Sampai suatu waktu, aku lelah mengejar gambara...