Suatu hari aku duduk sendirian setelah semua kesibukan selesai. Tidak ada percakapan, tidak ada pekerjaan yang harus dikejar. Hanya ada aku dan pikiranku sendiri. Di tengah keheningan itu tiba-tiba muncul perasaan aneh: selama ini aku merasa mengenal diriku, tetapi apakah aku benar-benar pernah melihat diriku sendiri? Sejak kecil aku membawa banyak cerita tentang diriku. Ada suara-suara yang pernah berkata bahwa aku orang yang begini, bahwa aku tidak cukup begitu, bahwa aku seharusnya menjadi seperti itu. Tanpa sadar semua kata itu menempel seperti bayangan yang terus mengikuti ke mana pun aku pergi. Ketika aku memikirkan diriku, yang muncul bukan diriku yang hidup saat ini, melainkan kumpulan cerita lama yang tersimpan di dalam kepala. Kadang aku membayangkan diriku sebagai seseorang yang kuat, kadang sebagai seseorang yang rapuh. Kadang aku merasa diriku baik, kadang merasa penuh kekurangan. Semua gambaran itu datang silih berganti seperti awan yang bergerak di langit. Anehnya, aku m...
Beberapa hari setelah ia pergi, rumah terasa lebih sunyi dari biasanya. Tidak ada perubahan besar sebenarnya. Kursi masih berada di tempat yang sama, cangkir di dapur masih tersusun rapi, dan halaman masih menerima cahaya pagi seperti biasa. Namun ada sesuatu yang tidak terlihat, sesuatu yang hilang dari ruang-ruang yang dulu terasa hidup. Saya sering duduk sendiri di sore hari, mengingat percakapan-percakapan kecil yang dulu terasa biasa saja. Tentang hal-hal remeh: cerita perjalanan, keluhan ringan, atau tawa yang muncul tanpa alasan penting. Saat itu semua terasa sederhana. Baru sekarang saya menyadari bahwa kesederhanaan itulah yang membuat kenangan menjadi hangat. Ketika seseorang pergi, yang paling terasa bukan hanya kepergiannya, tetapi ruang kosong yang ditinggalkannya. Kenangan tiba-tiba muncul di tempat yang tidak diduga: di meja makan, di jalan yang pernah dilalui bersama, bahkan dalam lagu yang dulu pernah didengar bersama. Setiap ingatan membawa sedikit rasa kehilangan. Pa...