Belakangan saya sering melihat fenomena yang menarik di media sosial. Seorang artis yang sebelumnya dikenal dengan musik dan dunia hiburan tiba-tiba mengumumkan bahwa ia ingin berhenti bernyanyi. Ada yang mulai memelihara jenggot, memakai celana cingkrang, sementara sebagian perempuan memilih mengenakan cadar. Mereka menyebutnya hijrah. Di satu sisi, perubahan itu adalah pilihan pribadi yang patut dihormati. Tetapi di sisi lain, fenomena tersebut membuat saya bertanya: mengapa gelombang hijrah dengan corak Salafi atau yang sering oleh masyarakat disebut Wahabi begitu menarik bagi sebagian anak muda Indonesia? Jawabannya mungkin tidak sesederhana karena mereka “salah belajar agama”. Ada sesuatu yang sedang dicari. Sebagian anak muda mungkin menemukan kepastian dalam corak keberagamaan yang memberikan jawaban tegas: ini boleh, itu tidak boleh; ini sunnah, itu bidah; ini benar, itu salah. Di tengah kehidupan yang penuh ketidakpastian, kepastian seperti itu bisa terasa menenangkan. Penelit...
Belakangan saya sering melihat orang di media sosial dengan santai menulis di bio: atheist, agnostic, atau “tidak percaya Tuhan”. Saya kadang membacanya sambil menyeruput kopi dan berpikir, ternyata zaman sudah berubah. Dulu orang mungkin menyimpan pertanyaan tentang Tuhan sendirian di kamar. Sekarang pertanyaan itu bisa dipasang di profil, lengkap dengan foto dan emoji. Di Indonesia, keberanian semacam ini cukup menarik. Kita hidup di tengah masyarakat yang agama bukan sekadar urusan pribadi. Agama hadir dalam keluarga, sekolah, lingkungan kerja, pergaulan, bahkan dalam percakapan sederhana seperti, “Kamu agamanya apa?” Maka ketika seseorang mengatakan dirinya ateis atau agnostik, yang muncul bukan hanya diskusi tentang Tuhan. Identitas itu bisa membawa persoalan lain: dianggap aneh, sesat, sedang mencari perhatian, tidak bermoral, atau bahkan dianggap sedang menantang keyakinan orang lain. Padahal sebenarnya saya tidak terlalu tertarik dengan labelnya. Seseorang boleh saja ateis. Bol...