“Ketinggalan kereta hanya akan menyakitkan ketika kamu mengejarnya.” Saya menulis kalimat itu di halaman belakang buku catatan, entah untuk siapa. Mungkin untuk diri sendiri. Mungkin untuk seseorang yang pernah pergi tanpa sempat saya tahan. Atau mungkin untuk semua kereta yang pernah saya tunggu dengan cemas, lalu berangkat tepat ketika saya baru saja sampai di peron. Siang itu stasiun sedang ramai. Orang-orang berlarian membawa koper, tas, kardus, dan wajah-wajah yang dikejar waktu. Saya berdiri agak jauh dari papan keberangkatan. Kereta baru saja meninggalkan peron. Saya terlambat. Tidak banyak. Hanya beberapa menit. Tetapi beberapa menit kadang bisa menjadi jurang yang lebih lebar daripada bertahun-tahun. Saya sempat berlari. Napas tersengal. Sepatu hampir copot. Petugas sudah memberi tanda. Pintu kereta menutup. Saya melihat gerbong terakhir menjauh perlahan, seperti seseorang yang tahu saya masih berharap tetapi memilih tidak menoleh. Aneh, pikir saya, mengapa sesuatu yang sudah ...
Ada kenangan yang tidak pernah kita undang. Ia datang begitu saja pada suatu malam, ketika kita sedang duduk sendirian di dekat jendela, memandangi hujan yang turun perlahan di bawah cahaya lampu jalan. Tidak mengetuk pintu. Tidak mengucapkan salam. Tiba-tiba saja ia sudah duduk di sana, di suatu sudut pikiran yang selama ini kita kira sudah kosong. Malam itu aku sedang mendengarkan sebuah lagu lama. Lagu yang dulu pernah kami dengarkan bersama. Aku bahkan tidak tahu mengapa aku memilihnya. Mungkin jari-jariku hanya kebetulan menemukannya di antara daftar lagu yang sudah bertahun-tahun tidak kubuka. Ketika suara pertama terdengar, wajahnya muncul. Aku berhenti bernapas sejenak. Di luar jendela, hujan semakin rapat. Lampu-lampu kendaraan memanjang di jalan yang basah, seperti garis-garis cahaya yang sedang mencari jalan pulang. Untuk beberapa detik, aku merasa rindu. Rindu yang aneh. Bukan keinginan untuk bertemu dengannya. Bukan pula keinginan untuk mengulang masa lalu. Hanya rindu kep...