Di Indonesia, agama itu perkara serius. Saking seriusnya, kadang-kadang kita lupa menjadi manusia. Kita bisa sangat rajin membicarakan surga, tetapi bertengkar dengan tetangga karena suara musik. Kita bisa hafal banyak ayat tentang kasih sayang, tetapi mendadak kehilangan kasih sayang ketika mengetahui orang sebelah berbeda agama. Padahal tetangga tetap tetangga. Kalau dia sakit, yang kita dengar bukan agamanya. Yang terdengar adalah suara orang meminta pertolongan. Kalau rumahnya kebakaran, kita tidak sempat bertanya, “Maaf, sebelumnya agamanya apa?” Kita mengambil ember. Begitu sederhana. Kerukunan di Indonesia sebenarnya bukan barang baru. Pemerintah bahkan mencatat Indeks Kerukunan Umat Beragama 2025 mencapai 77,89, tertinggi dalam sebelas tahun pengukuran. Indeks itu melihat toleransi, kesetaraan, dan kebersamaan. Tetapi angka tetaplah angka. Kehidupan sehari-hari jauh lebih rumit. Sebab toleransi tidak pernah benar-benar diuji ketika kita sedang berada di seminar dan semua o...
Ada orang yang mengira kehilangan seseorang berarti kehilangan cinta. Saya dulu juga begitu. Ketika seseorang pergi, kita sibuk menghitung apa yang ikut dibawanya: senyumnya, suaranya, kebiasaan kecilnya, pesan-pesan yang dulu datang setiap pagi. Bahkan nomor teleponnya pun kadang masih kita simpan, meskipun kita tahu tidak akan pernah menelepon lagi. Aneh memang manusia ini. Barang yang sudah tidak berguna saja disimpan, apalagi kenangan. Saya pernah berpikir bahwa cinta harus berakhir dengan memiliki. Kalau tidak memiliki, berarti gagal. Kalau ditinggalkan, berarti kalah. Kalau orang yang kita cintai memilih orang lain, rasanya seperti kalah dalam pemilihan umum, hanya saja tidak ada surat suara untuk menggugat hasilnya. Padahal cinta barangkali bukan pertandingan. Ia lebih mirip perjalanan. Ada orang yang datang sebentar, kemudian pergi. Ada yang tinggal bertahun-tahun lalu tiba-tiba berubah menjadi kenangan. Ada pula yang kita kira akan menjadi rumah, ternyata hanya tempat berteduh...