Ada kenangan yang tidak pernah kita undang. Ia datang begitu saja pada suatu malam, ketika kita sedang duduk sendirian di dekat jendela, memandangi hujan yang turun perlahan di bawah cahaya lampu jalan. Tidak mengetuk pintu. Tidak mengucapkan salam. Tiba-tiba saja ia sudah duduk di sana, di suatu sudut pikiran yang selama ini kita kira sudah kosong. Malam itu aku sedang mendengarkan sebuah lagu lama. Lagu yang dulu pernah kami dengarkan bersama. Aku bahkan tidak tahu mengapa aku memilihnya. Mungkin jari-jariku hanya kebetulan menemukannya di antara daftar lagu yang sudah bertahun-tahun tidak kubuka. Ketika suara pertama terdengar, wajahnya muncul. Aku berhenti bernapas sejenak. Di luar jendela, hujan semakin rapat. Lampu-lampu kendaraan memanjang di jalan yang basah, seperti garis-garis cahaya yang sedang mencari jalan pulang. Untuk beberapa detik, aku merasa rindu. Rindu yang aneh. Bukan keinginan untuk bertemu dengannya. Bukan pula keinginan untuk mengulang masa lalu. Hanya rindu kep...
Pagi itu aku membuat dua cangkir kopi, seperti yang biasa kulakukan ketika dia masih tinggal di rumah ini. Baru setelah kopi selesai kuseduh, aku ingat bahwa dia sudah pergi tiga tahun lalu. Aku membawa kedua cangkir itu ke ruang tamu. Satu untukku, satu lagi untuk seseorang yang mungkin sudah tidak mengingat alamat rumah ini. Di luar, seekor kucing hitam duduk di pagar dan menatapku cukup lama. “Kau tahu dia pergi ke mana?” tanyaku. Kucing itu tidak menjawab. Aku tidak kecewa. Barangkali memang begitulah cara kehilangan bekerja. Ia tidak memberi jawaban. Ia hanya membuat kita tetap menyiapkan dua cangkir kopi untuk seseorang yang sudah tidak ada.