Ada satu pertanyaan yang belakangan ini menggangguku: ketika kita mengatakan “Tuhan itu ada”, sebenarnya apa yang kita maksud dengan kata ada? Kalimat itu terdengar sederhana. Sejak kecil kita mungkin sudah terbiasa mendengarnya. Tuhan ada, lalu Tuhan menciptakan alam, manusia, bumi, langit, dan segala sesuatu. Karena segala sesuatu yang kita lihat memiliki sebab, maka Tuhan dianggap sebagai sebab pertama dari semuanya. Tetapi semakin kupikirkan, semakin terasa ada sesuatu yang belum selesai. Kalau segala sesuatu membutuhkan pencipta, lalu Tuhan diciptakan oleh siapa? Jawaban yang biasanya muncul: Tuhan tidak diciptakan. Tuhan sudah ada dengan sendirinya. Di situlah aku berhenti sebentar. Kalau Tuhan boleh dikatakan ada tanpa diciptakan, mengapa alam semesta tidak boleh dipertanyakan dengan cara yang sama? Mengapa harus selalu diasumsikan bahwa alam membutuhkan pencipta, sementara Tuhan justru boleh menjadi pengecualian? Pertanyaan ini bukan untuk membuktikan bahwa Tuhan tidak ada. Aku...
“Ketinggalan kereta hanya akan menyakitkan ketika kamu mengejarnya.” Saya menulis kalimat itu di halaman belakang buku catatan, entah untuk siapa. Mungkin untuk diri sendiri. Mungkin untuk seseorang yang pernah pergi tanpa sempat saya tahan. Atau mungkin untuk semua kereta yang pernah saya tunggu dengan cemas, lalu berangkat tepat ketika saya baru saja sampai di peron. Siang itu stasiun sedang ramai. Orang-orang berlarian membawa koper, tas, kardus, dan wajah-wajah yang dikejar waktu. Saya berdiri agak jauh dari papan keberangkatan. Kereta baru saja meninggalkan peron. Saya terlambat. Tidak banyak. Hanya beberapa menit. Tetapi beberapa menit kadang bisa menjadi jurang yang lebih lebar daripada bertahun-tahun. Saya sempat berlari. Napas tersengal. Sepatu hampir copot. Petugas sudah memberi tanda. Pintu kereta menutup. Saya melihat gerbong terakhir menjauh perlahan, seperti seseorang yang tahu saya masih berharap tetapi memilih tidak menoleh. Aneh, pikir saya, mengapa sesuatu yang sudah ...