Langsung ke konten utama

Postingan

Menjadi Peneliti bagi Pikiran Sendiri

Ada satu kebiasaan yang baru kusadari belakangan ini. Hampir setiap hari aku begitu sibuk menilai dunia, tetapi hampir tidak pernah benar-benar memperhatikan pikiranku sendiri. Aku tahu siapa yang salah di media sosial. Aku tahu siapa yang munafik, siapa yang sombong, siapa yang paling benar. Anehnya, aku jarang bertanya, "Mengapa aku begitu mudah marah?" atau "Dari mana sebenarnya rasa takut ini muncul?" Barangkali perjalanan paling jauh bukan pergi ke gunung, bukan menyeberangi lautan, melainkan masuk ke dalam kepala sendiri. Aku pernah mencoba duduk sendirian tanpa musik, tanpa ponsel, tanpa melakukan apa pun. Baru beberapa menit, pikiranku sudah berlari ke mana-mana. Mengingat percakapan kemarin. Mengkhawatirkan besok. Membayangkan sesuatu yang belum tentu terjadi. Rupanya selama ini bukan dunia yang ribut. Pikirankulah yang tidak pernah benar-benar diam. Sejak saat itu aku mulai mencoba sesuatu yang sederhana. Bukan mengusir pikiran, bukan melawannya. Hanya mel...
Postingan terbaru

Barangkali Kita Tidak Sibuk, Hanya Takut Berhenti

Belakangan ini aku sering bertanya pada diri sendiri, kenapa rasanya hidup makin cepat? Padahal jam masih tetap dua puluh empat jam sehari. Matahari masih terbit dari timur. Langit masih berganti warna setiap sore. Yang berubah mungkin bukan waktunya, tetapi kita. Aku ingat dulu, selesai bekerja rasanya memang selesai. Orang pulang, duduk di teras, mengobrol dengan tetangga, lalu tidur. Hari berganti begitu saja. Sekarang, selesai bekerja bukan berarti pekerjaan selesai. Masih ada pesan yang harus dibalas, ada notifikasi yang harus dibuka, ada kursus yang katanya harus diikuti, ada target yang terus bertambah. Bahkan ketika tubuh sedang rebah di kasur, pikiran masih sibuk mengejar sesuatu. Aneh ya. Tidak ada yang benar-benar menyuruh kita. Tidak ada orang yang berdiri di depan rumah sambil berkata, "Kamu harus lebih sukses." Tidak ada yang memaksa membuka media sosial berkali-kali dalam sehari. Tidak ada yang meminta kita membandingkan hidup dengan orang lain. Tetapi hampir s...

Belajar Melihat Islam dari Sejarah, Bukan Hanya dari Mimbar

Beberapa bulan terakhir, aku cukup sering mendengarkan podcast Mun'im Sirry dan Al Makin. Awalnya hanya karena penasaran. Lama-kelamaan aku sadar, yang mereka lakukan bukan sedang mengajak orang meninggalkan agama, tetapi mengajak melihat agama dari jendela yang lebih lebar. Selama ini aku tumbuh dengan keyakinan bahwa Islam adalah sesuatu yang sudah selesai. Seolah semua jawaban sudah tersedia, tinggal diterima dan dijalankan. Tapi setelah membaca beberapa tulisan mereka, muncul pertanyaan yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan: bagaimana kalau yang selama ini kuanggap sebagai "Islam" ternyata lebih banyak merupakan hasil tafsir manusia daripada agama itu sendiri? Mun'im Sirry berkali-kali mengingatkan bahwa wahyu dan tafsir adalah dua hal yang berbeda. Wahyu diyakini berasal dari Tuhan, tetapi begitu wahyu dipahami, dijelaskan, diterjemahkan, lalu dijadikan hukum, semuanya sudah memasuki wilayah manusia. Dan manusia, sebagaimana kita tahu, selalu membawa pengalama...