Pagi itu aku membuat dua cangkir kopi, seperti yang biasa kulakukan ketika dia masih tinggal di rumah ini. Baru setelah kopi selesai kuseduh, aku ingat bahwa dia sudah pergi tiga tahun lalu. Aku membawa kedua cangkir itu ke ruang tamu. Satu untukku, satu lagi untuk seseorang yang mungkin sudah tidak mengingat alamat rumah ini. Di luar, seekor kucing hitam duduk di pagar dan menatapku cukup lama. “Kau tahu dia pergi ke mana?” tanyaku. Kucing itu tidak menjawab. Aku tidak kecewa. Barangkali memang begitulah cara kehilangan bekerja. Ia tidak memberi jawaban. Ia hanya membuat kita tetap menyiapkan dua cangkir kopi untuk seseorang yang sudah tidak ada.
Pada suatu sore, aku duduk sendirian di sebuah kedai kopi dekat stasiun. Di meja sebelah, seorang perempuan membaca kitab. Di sudut ruangan, seorang lelaki tua mengenakan kalung salib sedang minum teh. Di luar, seorang pemuda dengan pakaian khas agamanya berjalan tergesa-gesa menuju halte. Aku memperhatikan mereka tanpa alasan tertentu. Tiba-tiba aku berpikir: mungkin Tuhan mendengar terlalu banyak bahasa. Aku tidak tahu bagaimana Tuhan membedakan doa-doa itu. Mungkin ada doa yang disampaikan dalam bahasa Arab. Ada yang dalam bahasa Indonesia. Ada yang melalui mantra. Ada yang melalui nyanyian. Ada pula yang hanya berupa tangisan seseorang yang tidak tahu harus berbicara kepada siapa. Aku pernah bertanya kepada seorang teman: “Kalau Tuhan cuma satu, kenapa manusia punya begitu banyak agama?” Ia mengaduk kopinya. “Karena manusia punya banyak cara untuk mencari-Nya.” Jawaban itu sederhana. Terlalu sederhana, bahkan. Tetapi sejak saat itu aku sering memikirkannya. Barangkali keberagaman a...