Aku pernah berpikir bahwa hidup ini sederhana: cukup bahagia, maka semuanya selesai. Seolah-olah kebahagiaan adalah garis akhir yang jika berhasil dicapai, hidup akan tenang untuk selamanya. Pikiran itu terdengar masuk akal, sampai suatu hari aku menyadari betapa rapuhnya kebahagiaan jika dijadikan tujuan utama. Aku mengingat satu fase hidup ketika aku berkata pada diriku sendiri, “Nanti kalau sudah punya ini, aku akan bahagia.” Lalu “ini” tercapai—pekerjaan, pengakuan, stabilitas. Tapi yang datang bukan kebahagiaan yang menetap, melainkan jeda singkat. Seperti menarik napas sebentar sebelum kecemasan baru muncul dengan wajah yang berbeda. Dari situlah aku mulai curiga: mungkin ada yang keliru dengan cara kita memahami bahagia. Secara psikologis, kebahagiaan bukan kondisi tetap, melainkan emosi yang sifatnya sementara. Otak manusia bekerja dengan mekanisme adaptasi. Apa pun yang hari ini membuat kita senang, besok akan terasa biasa. Psikologi menyebutnya hedonic adaptation—kita terbias...