Belakangan ini aku sering memikirkan satu pertanyaan yang dulu tidak pernah berani kutanyakan. Ketika aku mengatakan percaya kepada Tuhan, sebenarnya kepada siapa aku percaya? Kepada Tuhan itu sendiri, atau kepada gambaran tentang Tuhan yang selama ini diwariskan kepadaku? Sejak kecil aku belajar mengenal Tuhan dari orang tua, guru, ustaz, buku, dan lingkungan tempat aku tumbuh. Mereka mengenalkan siapa Tuhan, apa yang Tuhan sukai, apa yang Tuhan benci, bagaimana cara beribadah, bahkan bagaimana cara memandang orang yang berbeda keyakinan. Saat itu aku menerimanya begitu saja. Rasanya tidak ada alasan untuk bertanya lebih jauh. Namun semakin banyak membaca sejarah agama, aku mulai menyadari sesuatu yang sederhana tetapi mengusik. Ternyata manusia sejak dulu sama-sama berbicara tentang Tuhan, tetapi tidak pernah benar-benar berbicara dengan cara yang sama. Bahkan dalam satu agama, lahir banyak mazhab, banyak ulama, banyak tafsir, dan kadang saling berbeda pendapat. Mereka membaca kitab ...