Pagi itu tetap datang seperti biasa. Matahari terbit tanpa suara takbir yang menggetarkan dada seperti dulu. Tidak ada baju baru yang disiapkan malam sebelumnya, tidak ada rencana berkunjung ke banyak rumah. Hari raya kali ini terasa lebih sunyi—bukan karena sendiri, tapi karena ada sesuatu yang berubah di dalam cara memaknainya. Saya tetap duduk bersama keluarga. Makan bersama, saling menyapa, tertawa kecil. Tidak ada yang hilang dari kebersamaan itu. Justru terasa lebih jujur. Tidak tergesa-gesa, tidak sibuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Namun di tengah suasana itu, saya menyadari bahwa selama ini mungkin saya terlalu sibuk dengan bentuk perayaannya, bukan dengan maknanya. Dulu, hari raya selalu identik dengan keramaian. Pakaian terbaik, hidangan melimpah, kunjungan tanpa henti. Ada kegembiraan, tapi juga ada kelelahan yang jarang diakui. Kita sibuk memastikan semuanya terlihat sempurna. Tanpa sadar, perayaan itu menjadi seperti kewajiban sosial. Harus terlihat bahagia, ...