Langsung ke konten utama

Walk The Talk

Dalam bahasa arab dikenal dengan ilmu yang artinya pengetahuan dan amal yang artinya laku atau praktik atas ilmu yang diketahuinya. Ilmu tanpa amal akan jadi omong kosong dan amal tanpa ilmu akan jadi sia-sia.

Pengetahuan dan laku saling berkaitan untuk memberikan dasar sebuah tindakan ada pengetahuannya, tidak asal-asalan dan punya sanad (asal muasal) pengetahuan. Begitu juga bentuk dari pembuktian sebuah pengetahua sebaiknya diwujudkan dalam laku nyata, bukan hanya sekadar teori belaka.

Penguat pengetahuan dan laku adalah usia, dimana jam terbang atau konsistensi melakukan pegetahuan dan laku dalam rentang waktu lamanya yang menentukan kualitas dari pengetahuan dan laku. Maka mereka yang usianya lebih tua biasanya punya kebijaksanaan yang jarang didapatkan oleh anak muda. 

Agak heran jika ada anak muda yang baru tahu dari satu buku yang dia baca dan membahas tentang kesadaran tanpa mendalami dengan melakukan laku dalam rentang waktu dan konsitensi yang cukup.

Walk the talk yang artinya lakukan apa yang dikatakan merupakan wilayah integritas dan kualitas seseorang dalam menunjukkan bahwa dia bukan lah seorang yang omong kosong.

Setiap orang bisa bicara mengenai apa pun yang baru ia ketahuinya, namun jarang orang yang bisa diam ketika dia tidak tahu dan di luar kapabilitasnya dalam bicara. Apalagi ia tahu bahwa dia baru sekadar tahu belum memahami.

Sekadar tahu berarti baru membaca dan memahami berarti dia sudah mempelajari, mendalami, melakukan dan merasakannya. Orang yang paham sudah bisa membuktikan apa yang diketahuinya dengan validasi laku yang telah dia lakukan.

Tidak ada salahnya untuk bilang saya baru sekadar tahu belum paham, saya baru sekadar membahas pengetahuan dan belum melakukan apa yang saya ketahui. 

Ada yang mengatakan tidak perlu melakukan, yang penting kita tahu dari para ahli dan kita bagikan pengetahuan ini agar kita mengetahuinya dengan benar dan tepat. 

Menurut saya jika tujuanya adalah berbagi tanpa menggurui, caranya santun dan memaksakan pengetahuannya kepada orang lain, ini sah-sah saja. Karena bisa saja bermanfaat baginya untuk menambah pengetahuan yang belum dia punya.

Namun apapun itu, pengetahuan, laku dan usia adalah komponen yang menentukan kualitas seseorang dalam segala tindakan. Ketahui apa yang kita lakukan dan lakukan apa yang kita ketahui, ini menjadi bekal kita untuk berpijak dalam bertindak dan usia dari konsistensi menentukan kedalaman pemahaman kita.

Komentar

Tulisan Populer

Apa Beda Suka, Senang, dan Cinta?

Apa beda suka, senang, dan cinta? Selama anda masih belum bisa membedakan ketiga hal itu, maka anda akan salah dalam memaknai cinta. Saya ilustrasikan dalam cerita, Anda membeli hp Android karena melihat banyak teman-teman yang memilikinya dan terlihat keren, saat itu anda berada di wilayah SUKA. Dan suka merupakan wilayah NAFSU. Ketika anda mengetahui fitur, fasilitas dan manfaat Android yang lebih hebat dibandingkan HP jenis lain, maka saat itu anda berada diwilayah SENANG. Dan senang itu tidak menentu, dapat berubah-ubah tergantung kepada MOOD. Saat BOSAN, bersiaplah untuk mengganti HP jenis baru yang lebih canggih. Jadi jelaslah bahwa, Selama ini CINTA yang kita yakini sebagai cinta baru berada dalam wilayah SUKA dan SENANG. BOHONG! Jika anda berkata, gue JATUH CINTA pada pandangan pertama. Sesungguhnya saat itu anda sedang berkata, gue NAFSU dalam pandangan pertama. Mengapa demikian? Karena cinta yang anda maknai baru sebatas SUKA. Suka dengan wajahnya yang cantik, se...

Nggak Apa-apa Jelek yang Penting Tobrut!?

"Tiket habis, Bro. Ternyata yang nonton konser hari ini bukan cuma aku sama kamu,” kataku sambil merogoh kantong celana. Di antrean panjang yang melingkar di sekitar stadion, aku dan Arap terjebak dalam suasana yang serba riuh. Kami terpaksa mengalihkan rencana, mencoba mencari hiburan lain di tengah kekecewaan. Arap merogoh saku dan mengeluarkan sebatang rokok. "Yah, mau gimana lagi. Kita nongkrong aja di tempat biasa. Siapa tahu ada cewek cakep lewat,” katanya setengah bercanda, sambil menyulut rokoknya. Kembali ke dua jam sebelumnya, suasana di kampus baru saja usai saat aku dan Arap memutuskan untuk berburu tiket konser mendadak. Sialnya, tiket itu habis sebelum kami sempat mengantre. “Ya sudah, ke warung Bu Wowiek aja. Di sana pasti ada cerita baru,” usul Arap, mencoba menghidupkan kembali semangat yang sempat luntur. Di warung Bu Wowiek, suasana lebih lengang. Hanya beberapa pelanggan tetap yang duduk sambil menikmati kopi. Kami segera memilih tempat duduk di pojokan, m...