Langsung ke konten utama

Istiqomah Sebuah Perubahan yang Dinamis dan Adaptif

Saya melihat mereka yang menganggap istiqomah adalah tindakan yang dilakukan secara konsisten yang berulang-ulang dan tidak berubah.


Dianggapnya semakin orang lama berada di suatu tempat dalam jangka waktu yang lama itu disebut istiqomah.

Menurut saya itu bukan istiqomah namun ini yang disebut dengan betah atau nyaman mau berlama-lama di tempat yang sama dengan orang yang itu-itu saja.

Saya lebih setuju jika istiqomah memiliki makna perubahan yang dinamis dan adaptif, bukan yang sifatnya statis dan labil.

Perubahan yang dinamis menciptakan gerakan yang inovatif dan kreatif, artinya dia tidak bisa diam di satu tempat, membuat terobosan baru dan mempunya cara berfikir yang kritis.

Perubahan yang adaptif membuat orang selalu bisa menyesuaikan diri dalam segala kondisi, tidak kaku dan tidak menyebalkan.

Istiqomah menjadikan perubahan tampil sebagai hal yang menyenangkan, membuat perubahan berdampak baik bagi dirinya dan orang lain.

An-Nawani memaknai istiqomah sebagai tetap di dalam ketaatan. Sehingga istiqomah sendiri memiliki pengertian bahwa seseorang senantiasa ada di dalam ketaatan dan di atas jalan lurus di dalam menjalankan ibadah kepada Allah Swt.

Untuk pendapat ini saya lumayan suka dimana ada spesifikasi tetap di dalam ketaatan kepada Allah. Jika yang dikatakan tetap di dalam ketaatan ini adalah segala bentuk kebaikan yang sifatnya universal dan tidak merugikan orang lain, saya setuju namun jangan digiring dengan pemaknaan orang yang sudah berubah secara pemikiran.

Bagi saya perubahan pemikiran tidak berkaitan tentang keistiqomahan seseorang. Yang terjadi pada orang tersebut merupakan perluasan sudut pandang dan memilih meninggalkan pemikiran yang sebelumnya.

Istiqomah sebagai perubahan yang dinamis dan adaptif ini saya nilai sebagai perubahan yang diharapkan oleh banyak orang, hanya saja kebanyakan yang bingung sampai tidak tahu caranya untuk bisa istiqomah.

Hal ini disebabkan oleh kurangnya alasan atau motivasi yang mendasari tindakan yang diinginkan untuk berubah. Semakin besar motivasinya, semakin besar dorongan untuk melakukan perubahan di dalam dirinya. Perubahan ini pun ditujukan kepada diri sendiri, bukan untuk orang lain. Perubahan yang membuat dirinya terus belajar dan menjadi orang yang lebih baik dari hari kemarin.


Komentar

Tulisan Populer

Apa Beda Suka, Senang, dan Cinta?

Apa beda suka, senang, dan cinta? Selama anda masih belum bisa membedakan ketiga hal itu, maka anda akan salah dalam memaknai cinta. Saya ilustrasikan dalam cerita, Anda membeli hp Android karena melihat banyak teman-teman yang memilikinya dan terlihat keren, saat itu anda berada di wilayah SUKA. Dan suka merupakan wilayah NAFSU. Ketika anda mengetahui fitur, fasilitas dan manfaat Android yang lebih hebat dibandingkan HP jenis lain, maka saat itu anda berada diwilayah SENANG. Dan senang itu tidak menentu, dapat berubah-ubah tergantung kepada MOOD. Saat BOSAN, bersiaplah untuk mengganti HP jenis baru yang lebih canggih. Jadi jelaslah bahwa, Selama ini CINTA yang kita yakini sebagai cinta baru berada dalam wilayah SUKA dan SENANG. BOHONG! Jika anda berkata, gue JATUH CINTA pada pandangan pertama. Sesungguhnya saat itu anda sedang berkata, gue NAFSU dalam pandangan pertama. Mengapa demikian? Karena cinta yang anda maknai baru sebatas SUKA. Suka dengan wajahnya yang cantik, se...

Nggak Apa-apa Jelek yang Penting Tobrut!?

"Tiket habis, Bro. Ternyata yang nonton konser hari ini bukan cuma aku sama kamu,” kataku sambil merogoh kantong celana. Di antrean panjang yang melingkar di sekitar stadion, aku dan Arap terjebak dalam suasana yang serba riuh. Kami terpaksa mengalihkan rencana, mencoba mencari hiburan lain di tengah kekecewaan. Arap merogoh saku dan mengeluarkan sebatang rokok. "Yah, mau gimana lagi. Kita nongkrong aja di tempat biasa. Siapa tahu ada cewek cakep lewat,” katanya setengah bercanda, sambil menyulut rokoknya. Kembali ke dua jam sebelumnya, suasana di kampus baru saja usai saat aku dan Arap memutuskan untuk berburu tiket konser mendadak. Sialnya, tiket itu habis sebelum kami sempat mengantre. “Ya sudah, ke warung Bu Wowiek aja. Di sana pasti ada cerita baru,” usul Arap, mencoba menghidupkan kembali semangat yang sempat luntur. Di warung Bu Wowiek, suasana lebih lengang. Hanya beberapa pelanggan tetap yang duduk sambil menikmati kopi. Kami segera memilih tempat duduk di pojokan, m...