Langsung ke konten utama

Dimana Keadilan Allah?

Melalui pertanyaan dapat membuat seseorang untuk berpikir secara kritis. Pada saat kita mendapatkan ketidakadilan hidup, lumrah sekali kita mengajukan pertanyaan dimana keadilan Allah?

Memang tidak ada balasan jawabannya, namun menanyakan dimana letak keadilan Allah merupakan bentuk dongkol dan kemarahan kita atas kehidupan yang terlihat begitu menyebalkan. 

Kita yang kerja keras, ini kok malah orang lain yang lebih berhasil. Ternyata faktor penentu keberhasilan bukan berdiri sendiri karena kerja keras saja, masih ada faktor pendukung lainnya yang membuat seseorang berhasil.

Kita merasa sia-sia dan dikecewakan oleh kehidupan sehingga mengajukan pertanyaan, dimana keadilan Allah? Mengapa Allah tidak adil? Kenapa Allah pilih kasih? dan semua pertanyaan tersebut tidak akan ada jawabannya dan kita secara tidak langsung marah kepada Allah.

Manusia membutuhkan kambing hitam atas kesalahan yang dia lakukan sendiri. Selain sering menyalahkan setan yang menjadi penyebab segala bentuk kejahatan, kini sudah saatnya Allah menjadi sosok yang bisa dikambing hitamkan.

Toh selama ini setan dan Allah tidak pernah membalas kemarahan dan tuduhan penyebab kesalahan yang kita perbuat. Setidaknya hati kita lega dan lapang karena sudah memberikan kesalahan itu kepada subjek lain, yang penting bukan dirinya yang terkena kesalahan.

Allah selalu memberikan keadilannya, sebagaimana dengan namanya yang maha adil. Tidak akan pernah meleset sedikitpun mengenai keadilan yang Dia berikan kepada hambanya. 

Sebaiknya kita mengintropeksi diri dan menanyakan keadilan tersebut kepada diri sendiri, sejauh mana kita sudah adil dalam mengadili diri kita sendiri yang belum maksimal dalam berbuat, kurang disiplin dan mudah menyerah sebelum berjuang.

Dimana keadilan Allah? jawabannya dikembalikan kepada diri kita sendiri, bukan untuk Allah namun memang sebaiknya kita yang mau merenung kembali dan memperbaiki diri sendiri sendiri.

Allah sudah maha adil, kita lah yang belum mau mengadili diri sendiri dalam menegakkan keadilan dengan semangat dan perjuangan yang paling maksimal, setelah itu baru tawakal, memasrahkan semuanya yang terbaik bagaimana maunya Allah.

Orang merasa Allah tidak adil, biasanya karena melupakan tawakal. Tidak memberikan semua hasil terbaik dari sisi Allah, bukan dari sisi seorang makhluk, Sebagaimana Allah bersabda, yang terbaik menurutmu belum tentu terbaik di sisi Allah.



Komentar

Tulisan Populer

Apa Beda Suka, Senang, dan Cinta?

Apa beda suka, senang, dan cinta? Selama anda masih belum bisa membedakan ketiga hal itu, maka anda akan salah dalam memaknai cinta. Saya ilustrasikan dalam cerita, Anda membeli hp Android karena melihat banyak teman-teman yang memilikinya dan terlihat keren, saat itu anda berada di wilayah SUKA. Dan suka merupakan wilayah NAFSU. Ketika anda mengetahui fitur, fasilitas dan manfaat Android yang lebih hebat dibandingkan HP jenis lain, maka saat itu anda berada diwilayah SENANG. Dan senang itu tidak menentu, dapat berubah-ubah tergantung kepada MOOD. Saat BOSAN, bersiaplah untuk mengganti HP jenis baru yang lebih canggih. Jadi jelaslah bahwa, Selama ini CINTA yang kita yakini sebagai cinta baru berada dalam wilayah SUKA dan SENANG. BOHONG! Jika anda berkata, gue JATUH CINTA pada pandangan pertama. Sesungguhnya saat itu anda sedang berkata, gue NAFSU dalam pandangan pertama. Mengapa demikian? Karena cinta yang anda maknai baru sebatas SUKA. Suka dengan wajahnya yang cantik, se...

Nggak Apa-apa Jelek yang Penting Tobrut!?

"Tiket habis, Bro. Ternyata yang nonton konser hari ini bukan cuma aku sama kamu,” kataku sambil merogoh kantong celana. Di antrean panjang yang melingkar di sekitar stadion, aku dan Arap terjebak dalam suasana yang serba riuh. Kami terpaksa mengalihkan rencana, mencoba mencari hiburan lain di tengah kekecewaan. Arap merogoh saku dan mengeluarkan sebatang rokok. "Yah, mau gimana lagi. Kita nongkrong aja di tempat biasa. Siapa tahu ada cewek cakep lewat,” katanya setengah bercanda, sambil menyulut rokoknya. Kembali ke dua jam sebelumnya, suasana di kampus baru saja usai saat aku dan Arap memutuskan untuk berburu tiket konser mendadak. Sialnya, tiket itu habis sebelum kami sempat mengantre. “Ya sudah, ke warung Bu Wowiek aja. Di sana pasti ada cerita baru,” usul Arap, mencoba menghidupkan kembali semangat yang sempat luntur. Di warung Bu Wowiek, suasana lebih lengang. Hanya beberapa pelanggan tetap yang duduk sambil menikmati kopi. Kami segera memilih tempat duduk di pojokan, m...