Langsung ke konten utama

Pergi dan Menghilang Tanpa Alasan

Banyak orang yang setelah dighosting merasa butuh alasan untuk menjelaskan kepergiannya yang terjadi secara tiba-tiba. Perilaku ghosting ini biasa pergi secara tiba-tiba dan bisa juga datang semaunya.


Pokoknya kelakukannya persis dengan setan atau hantu (ghost). Sebaiknya memang kita tidak perlu berekspektasi lebih dengan tindakan ghosting untuk menjelaskan dan mengkonfirmasi apapun, lebih baik lepaskan dan hempaskan.

Kepergian selalu berhasil menciptakan kehilangan. Jangan menganggap yang selalu ada akan selamanya menetap, karena akan tiba masanya dia akan pergi juga, beberapa pergi dengan pilihannya dan beberapa lagi pergi dengan terpaksa.

Kehilangan muncul dari perasaan yang menginginkan orang tersebut hidup, menetap, selalu ada dan bersama dengan dirinya. Padahal ketika bersama biasanya terasa biasa saja dan lebih sering mengabaikannya.

Merayakan kehilangan adalah mengubah suasana hati yang sedang kehilanngan dengan memahami arti bahwa ini memang sudah waktunya pergi, tidak usah dicari, nanti juga biasa karena lama-lama terbiasa dan terlatih oleh waktu dan kehilangan.

Keberadaan kepergian itu sama dengan kedatangan, keduanya saling mengisi satu sama lain untuk menyeimbangkan dan bergantian dalam mengambil peran di dalam kehidupan. Kepergian berperan sebagai perasaan ganjil dan kedatangan berperan sebagai perasaan genap.

Memahami momen pergantian kepergian dan kedatangan ini membuat hati kita lebih tenang. Yang pergi diganti dengan yang datang dan yang datang berganti dengan yang pergi. Momen ini alami dan memang kehidupan menghadirkannya agar kita bisa belajar dan bijaksana.

Melatih diri untuk tidak melekat dengan sesuatu apapun yang sejatinya tidak ada yang abadi. Sesekali melekat boleh saja, yang penting kita tahu waktunya untuk bisa berlepas diri dari kemelekatan. Namun masalahnya kita belum ahli dalam latihan melepaskan kemelekatan ini, jadi lebih baik selalu sadar dan waspada dalam melihat segalanya, tahan diri dan sebaiknya jangan coba-coba melekat.



Komentar

Tulisan Populer

Apa Beda Suka, Senang, dan Cinta?

Apa beda suka, senang, dan cinta? Selama anda masih belum bisa membedakan ketiga hal itu, maka anda akan salah dalam memaknai cinta. Saya ilustrasikan dalam cerita, Anda membeli hp Android karena melihat banyak teman-teman yang memilikinya dan terlihat keren, saat itu anda berada di wilayah SUKA. Dan suka merupakan wilayah NAFSU. Ketika anda mengetahui fitur, fasilitas dan manfaat Android yang lebih hebat dibandingkan HP jenis lain, maka saat itu anda berada diwilayah SENANG. Dan senang itu tidak menentu, dapat berubah-ubah tergantung kepada MOOD. Saat BOSAN, bersiaplah untuk mengganti HP jenis baru yang lebih canggih. Jadi jelaslah bahwa, Selama ini CINTA yang kita yakini sebagai cinta baru berada dalam wilayah SUKA dan SENANG. BOHONG! Jika anda berkata, gue JATUH CINTA pada pandangan pertama. Sesungguhnya saat itu anda sedang berkata, gue NAFSU dalam pandangan pertama. Mengapa demikian? Karena cinta yang anda maknai baru sebatas SUKA. Suka dengan wajahnya yang cantik, se...

Nggak Apa-apa Jelek yang Penting Tobrut!?

"Tiket habis, Bro. Ternyata yang nonton konser hari ini bukan cuma aku sama kamu,” kataku sambil merogoh kantong celana. Di antrean panjang yang melingkar di sekitar stadion, aku dan Arap terjebak dalam suasana yang serba riuh. Kami terpaksa mengalihkan rencana, mencoba mencari hiburan lain di tengah kekecewaan. Arap merogoh saku dan mengeluarkan sebatang rokok. "Yah, mau gimana lagi. Kita nongkrong aja di tempat biasa. Siapa tahu ada cewek cakep lewat,” katanya setengah bercanda, sambil menyulut rokoknya. Kembali ke dua jam sebelumnya, suasana di kampus baru saja usai saat aku dan Arap memutuskan untuk berburu tiket konser mendadak. Sialnya, tiket itu habis sebelum kami sempat mengantre. “Ya sudah, ke warung Bu Wowiek aja. Di sana pasti ada cerita baru,” usul Arap, mencoba menghidupkan kembali semangat yang sempat luntur. Di warung Bu Wowiek, suasana lebih lengang. Hanya beberapa pelanggan tetap yang duduk sambil menikmati kopi. Kami segera memilih tempat duduk di pojokan, m...