Langsung ke konten utama

Jangan Sampai Keracunan Kata-Kata Motivasi

Kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda, setidaknya itu yang sering dikatakan oleh para motivator untuk orang yang sedang mengalami kegagalan. Hati orang yang gagal butuh dihibur dengan motivasi yang membuatnya tetap semangat dan melihat bersama kegagalan itu ada keberhasilan yang tertunda.

Tanpa motivasi seperti itu kegagalan akan diratapi setiap hari sebagai nasib sial dan menyedihkan. Kegagalan mesti dihadapi dengan optimis dan sukacita dengan cara disenang-senangi dengan harapan suatu saat akan berhasil. 

Kapan waktunya berhasil? entahlah, katanya usaha tidak akan mengkhianati hasil. Lagi-lagi kita sering diajak oleh kalimat motivasi untuk terus berharap dan bekerja keras meraih semua keinginan.

Saya senang menyimpan kata-kata motivasi yang bertebaran di media sosial dengan tujuan untuk memotivasi diri sendiri dan menginspirasi orang lain ketika disebarkan ulang di status media sosial.

Saya merasa perlu kata-kata motivasi yang diharapkan bisa membantu diri saya disaat sedang terpuruk dan perlu sedikit pencerahan dengan membaca kata-kata motivasi.

Dampaknya tidak signifikan mengubah kondisi mental namun tidak terlalu buruk juga sebagai pertolongan pertama ketika membutuhkan sugesti dan afirmasi positif.

Kemudian saya seperti orang yang kecanduan dimotivasi dengan kata-kata motivasi yang ada di dalam buku dan di media sosial. Semakin saya rajin baca kata-kata motivasi, sugesti dan afirmasi positif pada akhirnya bosan dan malas sendiri seperti orang yang kena autoimun.

Kata-kata motivasi, sugesti dan afirmasi positif efeknya malah biasa saja dan tidak ada pengaruh apa-apa. Apa ada yang salah dengan diri saya? Saya mulai mencari akar penyebab masalah yang terjadi dalam diri dan menemukan penyebabnya yang ternyata saya sedang mengalami toxic positivity.

Toxic positivity adalah perilaku yang mendorong seseorang untuk berusaha keras bertindak dan berfikir positif hingga menekan emosi negatif keluar.

Jika seseorang menjadi terlalu positif sehingga menekan habis-habisan emosi buruk yang keluar. Ini mampu menyebabkan stres berlebihan dan membuat orang tersebut tidak bisa rileks.

Ternyata menjadi si paling positif dan si paling baik hati ada kalanya tidak baik juga, yang terjadi malah menekan emosi negatif yang semestinya dilepaskan. Ya, memang sebaiknya emosi negatif itu dihempaskan bukan ditekan dengan kata-kata motivasi, sugesti dan afirmasi positif.

Saya coba menyempatkan diri untuk berteriak dengan keras di dalam kolam air di bak mandi rumah untuk melepaskan kepenatan. Kadang saya juga misuh-misuh sendiri sambil memakai masker dengan suara pelan di tengah keramaian atau saat sepi saya keraskan suaranya sampai lega.


Komentar

Tulisan Populer

Apa Beda Suka, Senang, dan Cinta?

Apa beda suka, senang, dan cinta? Selama anda masih belum bisa membedakan ketiga hal itu, maka anda akan salah dalam memaknai cinta. Saya ilustrasikan dalam cerita, Anda membeli hp Android karena melihat banyak teman-teman yang memilikinya dan terlihat keren, saat itu anda berada di wilayah SUKA. Dan suka merupakan wilayah NAFSU. Ketika anda mengetahui fitur, fasilitas dan manfaat Android yang lebih hebat dibandingkan HP jenis lain, maka saat itu anda berada diwilayah SENANG. Dan senang itu tidak menentu, dapat berubah-ubah tergantung kepada MOOD. Saat BOSAN, bersiaplah untuk mengganti HP jenis baru yang lebih canggih. Jadi jelaslah bahwa, Selama ini CINTA yang kita yakini sebagai cinta baru berada dalam wilayah SUKA dan SENANG. BOHONG! Jika anda berkata, gue JATUH CINTA pada pandangan pertama. Sesungguhnya saat itu anda sedang berkata, gue NAFSU dalam pandangan pertama. Mengapa demikian? Karena cinta yang anda maknai baru sebatas SUKA. Suka dengan wajahnya yang cantik, se...

Nggak Apa-apa Jelek yang Penting Tobrut!?

"Tiket habis, Bro. Ternyata yang nonton konser hari ini bukan cuma aku sama kamu,” kataku sambil merogoh kantong celana. Di antrean panjang yang melingkar di sekitar stadion, aku dan Arap terjebak dalam suasana yang serba riuh. Kami terpaksa mengalihkan rencana, mencoba mencari hiburan lain di tengah kekecewaan. Arap merogoh saku dan mengeluarkan sebatang rokok. "Yah, mau gimana lagi. Kita nongkrong aja di tempat biasa. Siapa tahu ada cewek cakep lewat,” katanya setengah bercanda, sambil menyulut rokoknya. Kembali ke dua jam sebelumnya, suasana di kampus baru saja usai saat aku dan Arap memutuskan untuk berburu tiket konser mendadak. Sialnya, tiket itu habis sebelum kami sempat mengantre. “Ya sudah, ke warung Bu Wowiek aja. Di sana pasti ada cerita baru,” usul Arap, mencoba menghidupkan kembali semangat yang sempat luntur. Di warung Bu Wowiek, suasana lebih lengang. Hanya beberapa pelanggan tetap yang duduk sambil menikmati kopi. Kami segera memilih tempat duduk di pojokan, m...