Langsung ke konten utama

Parfum dan Bukan Sekadar Wangi

Sejak pertengahan tahun 2021 saya mencoba hobi baru di dunia parfum, kebetulan di facebook ternyata saya sudah tergabung di grup parfum. Ketertarikan mengenai parfum ini sebenarnya semenjak saya duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama, biasa menggunakan parfum non alkohol ketika hendak pergi ke masjid untuk shalat berjamaah.

Sampai ketika Sekolah Menengah Atas dan Kuliah saya berjualan parfum ke teman-teman dengan untung sekitar 200 rupiah. Pada saat itu dengan keuntungan 2000 rupiah lumayan untuk menambah uang jajan, apalagi banyak teman yang berlangganan membeli ulang ketika parfumnya sudah habis.

Ternyata dunia parfum sangat menarik perhatian saya, terlebih dengan pengetahuannya yang tidak cukup sekadar semprot dan wangi saja. Ada berbagai istilah yang saya pelajari selama mendalami dunia parfum dan mengkoleksi beberapa jenis parfum.

Parfum ternyata punya tiga lapis wangi ada top notes, middle notes dan base notes. Sederhananya ketika kita mencium atau mensniff parfum dalam beberapa waktu tertentu ada perpindahan notes mulai dari top ke middle hingga ke base notes.

Keterampilan membedakan aroma ini bergantung dari latihan yang coba kita lakukan ketika memiliki parfum, memang bagi yang asal wangi yang kita ketahui cukup wangi saja dan tidak penting mengetahui perpindahan notes ke notes tersebut.

Namun ada lagi yang penting diketahui juga yaitu ada yang namanya daya tahan (longevity), daya jangkau (projection) dan waktu tinggal (sillage). Setiap parfum berbeda-beda daya tahannya, ada yang cepat hilang wanginya, hanya beberapa menit saja terciumnya dan ada yang tahan lama tercium selama 7 jam lebih. 

Parfum juga punya performa daya jangkau yang tercium di jarak 1 meter, 30 centimeter dan ada juga yang hanya tercium di kulit atau baju saja. Terakhir parfum punya waktu tinggal yaitu ketika orang yang memakai parfum pergi, wanginya masih tertinggal dan tercium dalam beberapa saat.

Dan masih ada banyak lagi istilah lain kalau ingin membahas semua hal tentang parfum, sementara kita batasi hanya sampai sini saja bahasan mengenai parfum dan hal-hal lainnya. 

Sampai saat ini saya masih hobi mengkoleksi parfum, bukan cuma ingin tercium wangi ditambah saya bisa membuat orang nyaman dengan kehadiran saya ketika duduk berdekatan. Kalau mau menggunakan motivasi agama, memakai parfum itu sunnah nabi, lumayan dapat pahala sunnah.

Komentar

Tulisan Populer

Apa Beda Suka, Senang, dan Cinta?

Apa beda suka, senang, dan cinta? Selama anda masih belum bisa membedakan ketiga hal itu, maka anda akan salah dalam memaknai cinta. Saya ilustrasikan dalam cerita, Anda membeli hp Android karena melihat banyak teman-teman yang memilikinya dan terlihat keren, saat itu anda berada di wilayah SUKA. Dan suka merupakan wilayah NAFSU. Ketika anda mengetahui fitur, fasilitas dan manfaat Android yang lebih hebat dibandingkan HP jenis lain, maka saat itu anda berada diwilayah SENANG. Dan senang itu tidak menentu, dapat berubah-ubah tergantung kepada MOOD. Saat BOSAN, bersiaplah untuk mengganti HP jenis baru yang lebih canggih. Jadi jelaslah bahwa, Selama ini CINTA yang kita yakini sebagai cinta baru berada dalam wilayah SUKA dan SENANG. BOHONG! Jika anda berkata, gue JATUH CINTA pada pandangan pertama. Sesungguhnya saat itu anda sedang berkata, gue NAFSU dalam pandangan pertama. Mengapa demikian? Karena cinta yang anda maknai baru sebatas SUKA. Suka dengan wajahnya yang cantik, se...

Nggak Apa-apa Jelek yang Penting Tobrut!?

"Tiket habis, Bro. Ternyata yang nonton konser hari ini bukan cuma aku sama kamu,” kataku sambil merogoh kantong celana. Di antrean panjang yang melingkar di sekitar stadion, aku dan Arap terjebak dalam suasana yang serba riuh. Kami terpaksa mengalihkan rencana, mencoba mencari hiburan lain di tengah kekecewaan. Arap merogoh saku dan mengeluarkan sebatang rokok. "Yah, mau gimana lagi. Kita nongkrong aja di tempat biasa. Siapa tahu ada cewek cakep lewat,” katanya setengah bercanda, sambil menyulut rokoknya. Kembali ke dua jam sebelumnya, suasana di kampus baru saja usai saat aku dan Arap memutuskan untuk berburu tiket konser mendadak. Sialnya, tiket itu habis sebelum kami sempat mengantre. “Ya sudah, ke warung Bu Wowiek aja. Di sana pasti ada cerita baru,” usul Arap, mencoba menghidupkan kembali semangat yang sempat luntur. Di warung Bu Wowiek, suasana lebih lengang. Hanya beberapa pelanggan tetap yang duduk sambil menikmati kopi. Kami segera memilih tempat duduk di pojokan, m...