Awalnya saya mengira dunia akan sedikit berubah saat saya berhenti sering muncul di media sosial. Setidaknya, ada satu dua orang yang bertanya, “Kok jarang posting?” atau “Kamu ke mana?” Tapi nyatanya, tidak ada yang benar-benar berubah. Timeline tetap bergerak, isu tetap datang dan pergi, orang-orang tetap tertawa, marah, jatuh cinta, dan patah hati. Dunia baik-baik saja, meski saya tidak lagi rajin muncul di layar kecil bernama media sosial.
Dulu, saya cukup aktif. Menulis gagasan, membagikan foto, mengomentari isu, sesekali berdebat di kolom komentar. Rasanya seperti sedang “hadir” di banyak tempat sekaligus. Ada kepuasan ketika tulisan disukai, dibagikan, atau dikomentari. Seolah eksistensi saya mendapat stempel: terlihat, diakui, dianggap ada. Media sosial menjadi semacam cermin—tempat saya memastikan bahwa saya masih diingat.
Pelan-pelan, semuanya terasa melelahkan. Bukan karena kehabisan ide, tapi karena terlalu sering menjelaskan diri sendiri. Saya mulai mengurangi unggahan. Dari yang tadinya rutin, jadi sesekali. Dari yang tadinya reflektif, jadi lebih diam. Anehnya, hidup justru terasa lebih tenang. Pikiran tidak lagi sibuk memikirkan respons orang lain. Menulis kembali menjadi urusan pribadi, bukan konsumsi publik.
Kini saya sadar, eksis di media sosial bukan penentu nilai diri. Kehadiran saya tidak ditentukan oleh seberapa sering muncul di layar orang lain. Dunia tidak runtuh saat saya absen, dan itu tidak apa-apa. Ada ruang baru yang tercipta: ruang untuk hidup tanpa perlu terus-menerus disaksikan. Kadang, justru dengan tidak terlihat, saya merasa lebih benar-benar ada.
Komentar
Posting Komentar