Agama dan Tuhan hampir selalu hadir dalam kehidupan manusia sebagai sesuatu yang diyakini. Sejak kecil, manusia diperkenalkan pada nama Tuhan, aturan ibadah, doa, dan kisah-kisah suci yang membentuk cara pandang tentang makna hidup. Keyakinan memberi rasa aman, arah, dan identitas. Namun di balik itu, muncul pertanyaan filsafat yang jarang diajukan dengan jujur: apakah Tuhan hanya bisa didekati melalui keyakinan? Atau mungkinkah agama dan Tuhan dipahami tanpa harus percaya lebih dulu?
Dalam perjalanan sejarah, agama lahir dari pengalaman eksistensial manusia menghadapi ketakutan, kematian, dan keterbatasan. Ketika manusia tidak mampu menjelaskan alam, penderitaan, dan nasib, keyakinan menjadi jawaban. Tuhan dipersonifikasikan, diberi sifat, aturan, dan kehendak. Dari sini, agama berkembang sebagai sistem: dogma, ritual, hukum, dan otoritas. Perlahan, Tuhan yang seharusnya menjadi misteri justru berubah menjadi konsep yang diwariskan, dipertahankan, dan dibela. Di titik ini, keyakinan sering kali menggantikan pencarian.
Namun filsafat mengajukan pendekatan berbeda. Ia tidak bertanya “apa yang harus dipercaya?”, melainkan “apa yang sungguh-sungguh dialami?”. Tanpa keyakinan, agama tidak lagi dilihat sebagai kebenaran mutlak, melainkan sebagai peta—bukan wilayah itu sendiri. Tuhan tidak diasumsikan sebagai sosok di luar sana yang harus diyakini, melainkan sebagai pertanyaan terbuka tentang hakikat keberadaan. Dalam sudut pandang ini, ketuhanan bukan objek iman, tetapi ruang keheningan yang belum diberi nama.
Hidup tanpa keyakinan bukan berarti hidup tanpa makna. Justru sebaliknya, ia menuntut kejujuran radikal. Ketika keyakinan dilepaskan, manusia dipaksa berhadapan langsung dengan ketakutan, kesepian, dan ketidaktahuan. Tidak ada janji surga sebagai pelarian, tidak ada ancaman neraka sebagai penekan. Yang tersisa hanyalah kehidupan sebagaimana adanya—rapuh, sementara, dan penuh pertanyaan. Di sinilah kemungkinan religiositas baru muncul: kepekaan, tanggung jawab, dan rasa takjub terhadap kehidupan itu sendiri.
Agama tanpa keyakinan berubah fungsi. Ia tidak lagi menjadi klaim kebenaran, tetapi cermin batin. Ritual menjadi latihan kesadaran, doa menjadi keheningan, kitab suci menjadi refleksi simbolik, bukan perintah literal. Tuhan tidak disembah karena takut atau berharap imbalan, tetapi didekati melalui kesadaran akan keterhubungan segala sesuatu. Ketuhanan tidak berada di langit jauh, melainkan hadir dalam keheningan pikiran yang berhenti menuntut jawaban.
Pada akhirnya, filsafat mengajak kita menyadari bahwa mungkin Tuhan bukan sesuatu yang harus dipercaya, melainkan sesuatu yang tidak bisa dipikirkan. Ketika keyakinan runtuh, ruang terbuka. Di ruang itulah manusia belajar rendah hati: mengakui bahwa ia tidak tahu. Dan mungkin, justru dalam ketidaktahuan itulah, agama menemukan kembali kesuciannya, dan Tuhan berhenti menjadi konsep—menjadi kehadiran yang tak terkatakan.
Komentar
Posting Komentar