Langsung ke konten utama

Sudah Umroh dan Haji Tetapi Tetap Korupsi

Banyak orang berangkat umroh dan haji dengan harapan pulang sebagai manusia baru: lebih sabar, lebih lembut, lebih jujur, dan lebih peduli. Namun kenyataan sering kali tidak sesederhana itu. Umroh dan haji bukan penentu otomatis kualitas akhlak seseorang, apalagi jaminan kemajuan peradaban Islam. Ia bisa menjadi titik balik, tapi juga bisa berhenti sebagai pengalaman spiritual yang selesai di bandara kepulangan.

Setelah berkali-kali melihat pola yang sama. Ada yang baru pulang dari Tanah Suci, gelarnya bertambah “Haji”, tapi cara bicaranya masih merendahkan, cara berbisnisnya tetap licik, cara memperlakukan orang lain tak berubah. Dari sudut pandang psikologi, ini bisa dipahami. Perjalanan spiritual yang intens tidak selalu diikuti integrasi psikologis. Emosi haru, rasa takzim, dan euforia religius sering bersifat sementara jika tidak dibarengi refleksi dan perubahan perilaku sadar.

Dalam psikologi, dikenal istilah spiritual bypassing: seseorang menggunakan pengalaman religius untuk merasa “lebih suci”, tanpa menyelesaikan luka batin, ego, atau pola kepribadian yang bermasalah. Umroh dan haji bisa menjadi panggung pembenaran diri, bukan cermin evaluasi diri. Ritual dijalani dengan khusyuk, tetapi setelah itu kehidupan lama kembali dihidupkan seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

Saya pernah berbincang dengan seorang teman yang berkata, “Di sana saya menangis setiap thawaf.” Tapi beberapa bulan kemudian, ia kembali marah-marah di rumah, korupsi waktu kerja, dan gemar menghakimi. Tangis itu nyata, tapi transformasi tidak terjadi, karena pengalaman spiritualnya berhenti di rasa, tidak turun ke kesadaran dan tindakan.

Haji dan umroh memang sarat simbol: ihram, thawaf, sa’i, wukuf. Namun simbol tidak otomatis mengubah karakter. Dalam psikologi perubahan perilaku, yang dibutuhkan adalah latihan berulang, kesadaran diri, dan keberanian mengubah kebiasaan lama. Tanpa itu, ibadah hanya menjadi memori emosional, bukan proses pembentukan akhlak.

Refleksinya menjadi tajam ketika kita bicara peradaban Islam. Peradaban tidak dibangun oleh banyaknya orang yang sudah ke Mekkah, tetapi oleh kejujuran sosial, etika publik, keadilan, ilmu, dan empati. Jika haji dan umroh tidak melahirkan kepedulian pada yang lemah, tidak mengurangi keserakahan, dan tidak menumbuhkan keberanian melawan ketidakadilan, maka ia gagal berkontribusi pada kemajuan umat Islam.

Haji dan umroh adalah puncak ritual, bukan fondasi moral. Fondasinya justru ada di kehidupan sehari-hari—bagaimana seseorang bersikap setelah pulang. Tanah Suci mungkin mengubah suasana hati, tetapi akhlak hanya berubah jika kesadaran ikut bekerja. Tanpa itu, perjalanan suci hanyalah perjalanan jauh yang indah, namun tidak benar-benar membawa kita ke mana-mana.

Komentar

Tulisan Populer

Apa Beda Suka, Senang, dan Cinta?

Apa beda suka, senang, dan cinta? Selama anda masih belum bisa membedakan ketiga hal itu, maka anda akan salah dalam memaknai cinta. Saya ilustrasikan dalam cerita, Anda membeli hp Android karena melihat banyak teman-teman yang memilikinya dan terlihat keren, saat itu anda berada di wilayah SUKA. Dan suka merupakan wilayah NAFSU. Ketika anda mengetahui fitur, fasilitas dan manfaat Android yang lebih hebat dibandingkan HP jenis lain, maka saat itu anda berada diwilayah SENANG. Dan senang itu tidak menentu, dapat berubah-ubah tergantung kepada MOOD. Saat BOSAN, bersiaplah untuk mengganti HP jenis baru yang lebih canggih. Jadi jelaslah bahwa, Selama ini CINTA yang kita yakini sebagai cinta baru berada dalam wilayah SUKA dan SENANG. BOHONG! Jika anda berkata, gue JATUH CINTA pada pandangan pertama. Sesungguhnya saat itu anda sedang berkata, gue NAFSU dalam pandangan pertama. Mengapa demikian? Karena cinta yang anda maknai baru sebatas SUKA. Suka dengan wajahnya yang cantik, se...

Nggak Apa-apa Jelek yang Penting Tobrut!?

"Tiket habis, Bro. Ternyata yang nonton konser hari ini bukan cuma aku sama kamu,” kataku sambil merogoh kantong celana. Di antrean panjang yang melingkar di sekitar stadion, aku dan Arap terjebak dalam suasana yang serba riuh. Kami terpaksa mengalihkan rencana, mencoba mencari hiburan lain di tengah kekecewaan. Arap merogoh saku dan mengeluarkan sebatang rokok. "Yah, mau gimana lagi. Kita nongkrong aja di tempat biasa. Siapa tahu ada cewek cakep lewat,” katanya setengah bercanda, sambil menyulut rokoknya. Kembali ke dua jam sebelumnya, suasana di kampus baru saja usai saat aku dan Arap memutuskan untuk berburu tiket konser mendadak. Sialnya, tiket itu habis sebelum kami sempat mengantre. “Ya sudah, ke warung Bu Wowiek aja. Di sana pasti ada cerita baru,” usul Arap, mencoba menghidupkan kembali semangat yang sempat luntur. Di warung Bu Wowiek, suasana lebih lengang. Hanya beberapa pelanggan tetap yang duduk sambil menikmati kopi. Kami segera memilih tempat duduk di pojokan, m...