Kita sering mengira diri kita adalah pikiran kita. Apa yang ada di kepala dianggap sebagai “aku”: kekhawatiran, rencana, trauma, ambisi, dan ketakutan. Padahal, seperti yang dikatakan Eckhart Tolle dalam The Power of Now, “You are not your mind.” Pikiran hanyalah sesuatu yang muncul dan pergi. Ia datang seperti awan, lalu menghilang. Yang sering luput kita sadari: ada ruang yang lebih dulu ada sebelum pikiran muncul. Ruang itulah yang disebut kesadaran.
Kesadaran bukan sesuatu yang ribut. Ia tidak berkomentar, tidak menghakimi, dan tidak menyusun cerita. Ia hanya hadir. Pikiran bisa marah, takut, cemas, atau bahagia, tapi kesadaran hanya melihat semua itu. Dalam analogi Tolle, pikiran seperti aktor, sementara kesadaran adalah panggung. Tanpa panggung, aktor tak bisa tampil. Tanpa kesadaran, pikiran sebenarnya tidak punya arti apa-apa.
Masalahnya muncul ketika kita tertukar. Kita mengira aktor adalah panggung. Akibatnya, setiap pikiran terasa serius, personal, dan mutlak benar. Pikiran negatif dianggap ancaman. Pikiran gagal dianggap identitas. Dari sinilah lahir kecemasan, stres, dan penderitaan batin. Bukan karena hidup terlalu berat, tapi karena kita terlalu melekat pada apa yang lewat di kepala.
Jika ditarik sebab-akibatnya, semakin kita mengidentifikasi diri dengan pikiran, semakin besar penderitaan yang kita alami. Pikiran hidup di masa lalu dan masa depan. Ia mengulang luka lama atau membayangkan bencana yang belum tentu terjadi. Ketika kita larut di sana, kita kehilangan momen kini. Tubuh ada di sini, tapi batin entah ke mana. Inilah yang oleh Tolle disebut sebagai “ketidakhadiran dalam hidup.”
Sebaliknya, saat kita menyadari bahwa kita bukan pikiran, sesuatu berubah. Kita tidak perlu melawan pikiran atau memaksanya diam. Kita cukup menyadari: “Oh, ada pikiran.” Kesadaran ini membuat jarak. Pikiran tetap ada, tapi tidak lagi menguasai. Seperti suara radio di latar belakang—terdengar, tapi tidak harus diikuti.
Aku sendiri merasakannya dalam momen-momen sederhana. Saat duduk diam, tiba-tiba pikiran datang: soal pekerjaan, rasa bersalah, atau kekhawatiran. Dulu, aku ikut tenggelam. Sekarang, kadang aku hanya memperhatikan. Anehnya, pikiran itu melemah dengan sendirinya. Bukan karena dilawan, tapi karena disinari oleh kesadaran.
Di sinilah makna the power of now. Bukan kekuatan untuk mengubah dunia, tapi kekuatan untuk hadir sepenuhnya. Saat kita hadir, hidup terasa lebih sederhana. Masalah tetap ada, tapi tidak lagi membentuk identitas. Kita menyadari bahwa kita adalah ruang luas tempat semuanya datang dan pergi—bukan isi yang sementara itu.
Pada akhirnya, kebebasan batin bukan soal memiliki pikiran yang positif, tapi soal tidak lagi diperbudak oleh pikiran. Kita bukan aktor yang panik di atas panggung. Kita adalah panggung itu sendiri—diam, luas, dan cukup kuat untuk menampung apa pun yang muncul lalu lenyap.
Komentar
Posting Komentar