Langsung ke konten utama

Eksistensi Tuhan

Aku pernah duduk lama di ruang tunggu rumah sakit, menatap lantai yang dingin dan bau obat yang tak pernah benar-benar hilang. Di seberangku, seseorang menggenggam tasbih, bibirnya bergerak pelan. Di kursi lain, seorang lelaki hanya menunduk, menatap ponselnya tanpa doa apa pun. Keduanya sama-sama menunggu kabar. Sama-sama cemas. Sama-sama tak berdaya.

Saat itu aku mulai bertanya, pelan tapi jujur: apakah Tuhan benar-benar menentukan siapa yang sembuh dan siapa yang tidak?

Aku melihat orang yang berdoa dengan sepenuh hati tetap kehilangan. Aku juga melihat mereka yang tak pernah menyebut nama Tuhan justru pulang dengan senyum lega. Tidak ada pola yang bisa kutarik. Tidak ada rumus yang bisa dipercaya. Hidup berjalan dengan caranya sendiri—kadang lembut, sering kali kejam, dan nyaris selalu tak bisa ditebak.

Di situlah pikiranku mulai bergeser. Mungkin pertanyaan tentang “Tuhan ada atau tidak” selama ini terlalu dibebani harapan. Kita ingin Tuhan hadir sebagai penjamin. Sebagai pihak yang memastikan hidup berjalan adil. Padahal kenyataannya, hidup tak pernah menjanjikan keadilan.

Ketika seseorang sakit lalu berdoa dan sembuh, kita menyebutnya mukjizat. Ketika ia tetap sakit, kita bilang itu ujian. Tapi saat orang lain sembuh tanpa doa, kita terdiam. Bingung. Tak tahu harus menaruh makna di mana. Akhirnya, kita memilih diam atau menyederhanakan kenyataan agar hati tetap tenang.

Dari situ aku mulai memahami: mungkin keberadaan Tuhan—ada atau tidak—tidak berpengaruh besar pada mekanisme hidup itu sendiri. Tubuh tetap bekerja sesuai hukumnya. Waktu tetap berjalan tanpa menunggu iman siapa pun. Penyakit datang tanpa membaca keyakinan. Kesembuhan pun tak selalu mengetuk pintu orang yang paling taat.

Namun anehnya, meski begitu, hidup tetap bisa dijalani.

Aku bertemu orang beriman yang hidupnya damai, bukan karena doanya selalu dikabulkan, tapi karena ia menerima. Aku juga bertemu orang yang tak percaya Tuhan, namun hidupnya penuh kepedulian, kejujuran, dan kasih yang nyata. Mereka sama-sama mencintai keluarganya. Sama-sama takut kehilangan. Sama-sama berusaha menjadi manusia yang layak.

Di titik itu, pertanyaan tentang Tuhan berubah arah. Bukan lagi soal ada atau tidak, melainkan: apa yang kita lakukan dengan hidup yang sudah ada di tangan ini?

Jika Tuhan ada, barangkali Ia tak menuntut kita untuk selalu benar, melainkan untuk jujur. Jujur pada rasa takut, pada amarah, pada kebingungan. Jika Tuhan tidak ada, hidup tetap meminta tanggung jawab yang sama: bagaimana kita memperlakukan sesama ketika tak ada yang mengawasi.

Aku mulai melihat bahwa moral tidak selalu lahir dari langit. Kadang ia tumbuh dari pengalaman terluka. Dari kesadaran bahwa disakiti itu menyakitkan, maka aku tak ingin melakukannya pada orang lain.

Maka Tuhan ada tidak apa-apa. Tidak ada pun tidak apa-apa.

Karena yang membuat dunia sedikit lebih manusiawi bukanlah jawaban metafisik, melainkan tindakan kecil sehari-hari: menemani yang sakit, mendengarkan tanpa menghakimi, tidak merasa paling benar.

Pada akhirnya, mungkin Tuhan bukan soal keyakinan yang harus dipertahankan mati-matian, tetapi ruang sunyi tempat manusia belajar rendah hati. Dan hidup—dengan atau tanpa nama Tuhan—tetap menuntut hal yang sama: kejujuran, keberanian, dan kesediaan untuk mencintai tanpa jaminan apa pun.

Komentar

Tulisan Populer

Apa Beda Suka, Senang, dan Cinta?

Apa beda suka, senang, dan cinta? Selama anda masih belum bisa membedakan ketiga hal itu, maka anda akan salah dalam memaknai cinta. Saya ilustrasikan dalam cerita, Anda membeli hp Android karena melihat banyak teman-teman yang memilikinya dan terlihat keren, saat itu anda berada di wilayah SUKA. Dan suka merupakan wilayah NAFSU. Ketika anda mengetahui fitur, fasilitas dan manfaat Android yang lebih hebat dibandingkan HP jenis lain, maka saat itu anda berada diwilayah SENANG. Dan senang itu tidak menentu, dapat berubah-ubah tergantung kepada MOOD. Saat BOSAN, bersiaplah untuk mengganti HP jenis baru yang lebih canggih. Jadi jelaslah bahwa, Selama ini CINTA yang kita yakini sebagai cinta baru berada dalam wilayah SUKA dan SENANG. BOHONG! Jika anda berkata, gue JATUH CINTA pada pandangan pertama. Sesungguhnya saat itu anda sedang berkata, gue NAFSU dalam pandangan pertama. Mengapa demikian? Karena cinta yang anda maknai baru sebatas SUKA. Suka dengan wajahnya yang cantik, se...

Nggak Apa-apa Jelek yang Penting Tobrut!?

"Tiket habis, Bro. Ternyata yang nonton konser hari ini bukan cuma aku sama kamu,” kataku sambil merogoh kantong celana. Di antrean panjang yang melingkar di sekitar stadion, aku dan Arap terjebak dalam suasana yang serba riuh. Kami terpaksa mengalihkan rencana, mencoba mencari hiburan lain di tengah kekecewaan. Arap merogoh saku dan mengeluarkan sebatang rokok. "Yah, mau gimana lagi. Kita nongkrong aja di tempat biasa. Siapa tahu ada cewek cakep lewat,” katanya setengah bercanda, sambil menyulut rokoknya. Kembali ke dua jam sebelumnya, suasana di kampus baru saja usai saat aku dan Arap memutuskan untuk berburu tiket konser mendadak. Sialnya, tiket itu habis sebelum kami sempat mengantre. “Ya sudah, ke warung Bu Wowiek aja. Di sana pasti ada cerita baru,” usul Arap, mencoba menghidupkan kembali semangat yang sempat luntur. Di warung Bu Wowiek, suasana lebih lengang. Hanya beberapa pelanggan tetap yang duduk sambil menikmati kopi. Kami segera memilih tempat duduk di pojokan, m...