Aku dulu mengira tabayyun hanyalah milik satu ajaran. Kata yang sering diucapkan, tapi jarang dihidupi. Ia terdengar seperti nasihat moral—baik, benar, dan seharusnya dilakukan—namun tidak pernah benar-benar kutanya maknanya dalam hidup sehari-hari. Sampai suatu hari aku sadar, hampir semua konflik yang pernah kulihat berawal dari hal yang sama: tergesa-gesa.
Tergesa percaya.
Tergesa menyimpulkan.
Tergesa menunjuk siapa yang salah.
Pengalaman itu datang sederhana. Dari obrolan warung, dari pesan berantai, dari potongan cerita tentang seseorang yang “katanya begini” dan “katanya begitu”. Aku ikut hanyut, ikut mengangguk, ikut merasa tahu. Padahal yang kumiliki hanya serpihan cerita, bukan kenyataan utuh. Anehnya, perasaan paling kuat justru muncul bukan ketika aku tahu, tapi ketika aku merasa tahu.
Belakangan aku menyadari, tabayyun ternyata tidak berdiri sendirian. Di banyak tempat, dengan nama berbeda, manusia mengenal hal serupa. Ada yang menyebutnya menahan diri. Ada yang menyebutnya melihat dari jarak aman. Ada pula yang mengajarkan diam sebelum menilai. Kata-katanya berbeda, tapi geraknya sama: berhenti sejenak agar batin tidak dikuasai emosi.
Dalam hidup sosial, manusia cenderung mencari kepastian. Otak kita tak nyaman dengan ruang kosong. Ketika informasi belum lengkap, kita tergoda untuk mengisinya sendiri. Maka lahirlah prasangka. Bukan karena kita jahat, melainkan karena kita takut pada ketidakpastian. Tabayyun, dalam hal ini, bukan soal benar atau salah, melainkan keberanian untuk tidak segera menutup cerita.
Aku pernah memilih diam ketika orang-orang sibuk menghakimi. Awalnya terasa canggung. Seolah aku tidak punya sikap. Namun di situlah aku belajar: tidak semua sikap harus berupa vonis. Kadang sikap paling jujur adalah mengakui, “Aku belum tahu.”
Perlahan aku melihat, tujuan tabayyun bukanlah mencari siapa yang pantas disalahkan. Ia tidak bermuara pada kemenangan moral. Ia berakhir pada sesuatu yang lebih sunyi: kemampuan melihat sesuatu sebagaimana adanya. Tanpa bumbu kebencian. Tanpa keinginan untuk tampak benar.
Di titik ini, tabayyun terasa seperti latihan batin. Bukan latihan menjadi orang suci, tapi latihan menjadi manusia yang utuh. Manusia yang sadar bahwa hidup orang lain tak pernah sesederhana cerita yang sampai ke telinga kita. Ada luka yang tak terlihat. Ada konteks yang tak pernah kita masuki.
Jika tabayyun dilupakan, akibatnya mudah terlihat. Hubungan retak. Kepercayaan runtuh. Komunitas berubah menjadi ruang saling curiga. Sebaliknya, ketika jeda itu dihadirkan, sesuatu yang lain tumbuh: empati. Bukan empati yang menggurui, tapi empati yang lahir dari kesadaran bahwa kita pun bisa salah memahami.
Kini aku memandang tabayyun bukan sebagai kewajiban moral, melainkan cara menjaga kewarasan. Ia membantuku tidak larut dalam arus emosi kolektif. Membantuku berdiri sedikit ke belakang, melihat hidup dengan jarak yang lebih jujur.
Dan mungkin, pada akhirnya, tabayyun bukan tentang orang lain sama sekali. Ia tentang bagaimana aku memilih hadir di dunia ini—apakah sebagai hakim yang tergesa, atau sebagai manusia yang bersedia melihat dengan mata yang lebih tenang.
Komentar
Posting Komentar