Langsung ke konten utama

Tentang Kesadaran, Pakai Bahasa Bayi

Aku mau cerita tentang kesadaran tanpa istilah ribet, tanpa jargon langit-langit spiritual. Pakai kejadian harian saja.

Pagi, aku bikin kopi. Air dipanasin, bubuk kopi dimasukin, diseduh. Tapi kepalaku ke mana-mana. Sambil nunggu air mendidih, pikiranku sudah loncat ke kerjaan, tagihan, chat yang belum dibalas. Kopinya jadi, tapi rasanya hambar. Bukan karena kopinya jelek, tapi karena aku nggak benar-benar ada di situ.

Kesadaran itu momen ketika kita balik ke hal sederhana: menyadari apa yang sedang terjadi sekarang. Waktu aku berhenti sebentar, nyium aroma kopi, ngerasain panas gelas di tangan, di situ ada kesadaran. Nggak ada analisis. Nggak ada penilaian. Cuma tahu: “Oh, ini kopi. Hangat. Pahit.”

Kesadaran bukan mikir tentang hidup. Kesadaran itu sadar kalau kita lagi hidup.

Aku pernah serius belajar meditasi. Duduk rapi, punggung tegak, napas diatur. Lima menit pertama lumayan. Setelah itu, pikiran datang: “Ini sudah benar belum?” Lalu muncul target: “Harus tenang. Harus kosong.” Di situlah capeknya. Pikiran mau ditenangkan paksa, kayak nyuruh air laut berhenti bergelombang.

Padahal kesadaran nggak butuh usaha keras. Contohnya waktu kita nyetir motor. Kalau terlalu mikir, malah bahaya. Tapi saat fokus alami ke jalan, ke suara mesin, ke lampu merah, tubuh bergerak sendiri. Kita hadir. Itu kesadaran.

Atau saat lagi makan. Biasanya kita makan sambil scroll HP. Tahu-tahu piring kosong, tapi nggak ingat rasanya. Kesadaran itu saat satu suap dimakan dengan sadar. Rasanya asin. Teksturnya renyah. Sederhana. Tapi penuh.

Banyak orang mengira kesadaran itu kondisi tinggi: hening total, pikiran mati, pencerahan. Aku juga dulu mikir gitu. Ikut duduk lama, ikut teknik macam-macam. Ada yang bilang lihat cahaya, ada yang merasa menyatu dengan alam. Aku malah pegal dan bertanya-tanya, “Kenapa aku nggak ke mana-mana?”

Lama-lama aku sadar, mungkin kesadaran memang nggak ke mana-mana. Kita yang sering pergi.

Kesadaran bukan soal mengusir pikiran. Pikiran itu muncul-muncul saja, kayak notifikasi. Kesadaran itu tahu: “Oh, ada pikiran.” Selesai. Nggak dituruti, nggak dilawan.

Kesadaran itu hadir saat kita berhenti sebentar dari kebiasaan autopilot. Saat kita benar-benar dengar lawan bicara tanpa nyiapin jawaban. Saat kita ngerasain capek tanpa mengeluh. Saat kita tahu kita lagi sedih, tanpa drama tambahan.

Kesadaran bukan sesuatu yang harus dicapai. Ia sudah ada. Kita cuma sering terlalu sibuk untuk menyadarinya. Dan lucunya, ketika kita berhenti mengejar kesadaran, di situlah ia pelan-pelan muncul.

Komentar

Tulisan Populer

Apa Beda Suka, Senang, dan Cinta?

Apa beda suka, senang, dan cinta? Selama anda masih belum bisa membedakan ketiga hal itu, maka anda akan salah dalam memaknai cinta. Saya ilustrasikan dalam cerita, Anda membeli hp Android karena melihat banyak teman-teman yang memilikinya dan terlihat keren, saat itu anda berada di wilayah SUKA. Dan suka merupakan wilayah NAFSU. Ketika anda mengetahui fitur, fasilitas dan manfaat Android yang lebih hebat dibandingkan HP jenis lain, maka saat itu anda berada diwilayah SENANG. Dan senang itu tidak menentu, dapat berubah-ubah tergantung kepada MOOD. Saat BOSAN, bersiaplah untuk mengganti HP jenis baru yang lebih canggih. Jadi jelaslah bahwa, Selama ini CINTA yang kita yakini sebagai cinta baru berada dalam wilayah SUKA dan SENANG. BOHONG! Jika anda berkata, gue JATUH CINTA pada pandangan pertama. Sesungguhnya saat itu anda sedang berkata, gue NAFSU dalam pandangan pertama. Mengapa demikian? Karena cinta yang anda maknai baru sebatas SUKA. Suka dengan wajahnya yang cantik, se...

Nggak Apa-apa Jelek yang Penting Tobrut!?

"Tiket habis, Bro. Ternyata yang nonton konser hari ini bukan cuma aku sama kamu,” kataku sambil merogoh kantong celana. Di antrean panjang yang melingkar di sekitar stadion, aku dan Arap terjebak dalam suasana yang serba riuh. Kami terpaksa mengalihkan rencana, mencoba mencari hiburan lain di tengah kekecewaan. Arap merogoh saku dan mengeluarkan sebatang rokok. "Yah, mau gimana lagi. Kita nongkrong aja di tempat biasa. Siapa tahu ada cewek cakep lewat,” katanya setengah bercanda, sambil menyulut rokoknya. Kembali ke dua jam sebelumnya, suasana di kampus baru saja usai saat aku dan Arap memutuskan untuk berburu tiket konser mendadak. Sialnya, tiket itu habis sebelum kami sempat mengantre. “Ya sudah, ke warung Bu Wowiek aja. Di sana pasti ada cerita baru,” usul Arap, mencoba menghidupkan kembali semangat yang sempat luntur. Di warung Bu Wowiek, suasana lebih lengang. Hanya beberapa pelanggan tetap yang duduk sambil menikmati kopi. Kami segera memilih tempat duduk di pojokan, m...