Langsung ke konten utama

Takut Mati

Kemarin beberapa teman saya, mensharekan seorang tokoh yang meninggal, karena jasa nya yang begitu besar, begitu banyak yang datang untuk melayat dan menyolatkan jenazahnya.

Teringat dengan hal ini pikiran saya membawa kepada ingatan, jika kamu meninggal tidak perlu ditangisi tapi seharusnya berbahagia karena sudah selesai di kehidupan fisik dan melanjutkannya perjalanan berikutnya. Tidak perlu juga di hadiri oleh banyak orang, ingatlah saat kamu kembali itu perjalananmu sendiri. Jadi tidak perlu di tangisi dan di hadiri banyak orang. Berbahagialah, selamat melanjutkan perjalanan selanjutnya.

Kematian. Tiap orang yang bernafas pasti mati. Kullu nafsin dzaiqotul maut. Masalah terbesar dari kematian mengenai bagaimana pembalasan di akhirat nanti dan proses matinya seperti apa. Ketakutan yang menghantui perjalanan hidup manusia.

Pertanyaan tersebut tentu tidak bisa di jawab. Karena keduanya masih misteri. Yang bisa kita lakukan yakni melakukan yang terbaik dalam kehidupan. Selebihnya biarkan jadi misteri dan menikmati kehidupan yang terus dilalui.

Banyak orang yang takut dengan kematian. Padahal selama ia bernafas, pasti mengalami kematian. Sebab sudah pasti, mau tidak mau kematian akan datang menghapiri. Maka mulailah dengan menyambut kematian bukan lagi dengan ketakutan tapi seperti pertemuan terhadap kepastian.

Mengenai bagaimana perbuatan yang harus dipertanggung jawabkan ketika di akhirat, apakah masuk surga atau neraka. Kalau mau hitung hitungan, sudah jelas dosa dan kesalahan kita lebih banyak jumlahnya. Tapi memang hitungan matematis amal ibadah tersebut, kita tidak memilikinya secara akurat dan pasti sesuai benarnya versi kita.

Prasangka untuk memotivasi semangat ibadah kita dengan melakukan sebanyak banyaknya perbuatan berfaedah, dan meminimalisir perbuatan unfaedah. Itu saja yang baru bisa kita lakukan, selebihnya kita hanya bisa pasrah dan mengembalikan kualitas amal ibadah kita, apakah di terima atau tidak oleh Allah. Begitu yang dulu ustadz saya di kampung mengajarkan kepada saya.

Begitupun ketika pertanyaan seperti apa nanti proses kematian kita? kita semua yang membaca tulisan ini, tidak pernah ada yang mengetahuinya. Tidak perlu takut dan khawatir, karena rasa tersebut hanya menambah daftar memori yang ada di dunia pikiran kita.

Seperti misalnya saat melihat dengan penuh ketakutan orang yang mati secara tragis kecelakaan lalu lintas. Memori pikiran kita merekam dan menyimpan nya dengan rasa ketakutan, secara otomatis terdownload tersimpan di memori bawah sadar kita. Suatu saat nanti jika memori itu masih ada dan menjadi realita di kehidupan anda. Ini bahaya, bukan?

Jadi selain Allah telah merencanakan takdir kematian kita, sejatinya kita pun menyumbangkan tentang bagaimana kematian kita nanti. Oleh karena ini sambutlah dengan suka cita kedatangan kematian yang sudah pasti dan kita tidak bisa lari untuk menghindar.

Aku hanya Pulang, Bukan Pergi. (Gus Dur)

Cilegon, 15012018
Roby Martin

Komentar

Tulisan Populer

Apa Beda Suka, Senang, dan Cinta?

Apa beda suka, senang, dan cinta? Selama anda masih belum bisa membedakan ketiga hal itu, maka anda akan salah dalam memaknai cinta. Saya ilustrasikan dalam cerita, Anda membeli hp Android karena melihat banyak teman-teman yang memilikinya dan terlihat keren, saat itu anda berada di wilayah SUKA. Dan suka merupakan wilayah NAFSU. Ketika anda mengetahui fitur, fasilitas dan manfaat Android yang lebih hebat dibandingkan HP jenis lain, maka saat itu anda berada diwilayah SENANG. Dan senang itu tidak menentu, dapat berubah-ubah tergantung kepada MOOD. Saat BOSAN, bersiaplah untuk mengganti HP jenis baru yang lebih canggih. Jadi jelaslah bahwa, Selama ini CINTA yang kita yakini sebagai cinta baru berada dalam wilayah SUKA dan SENANG. BOHONG! Jika anda berkata, gue JATUH CINTA pada pandangan pertama. Sesungguhnya saat itu anda sedang berkata, gue NAFSU dalam pandangan pertama. Mengapa demikian? Karena cinta yang anda maknai baru sebatas SUKA. Suka dengan wajahnya yang cantik, se...

Nggak Apa-apa Jelek yang Penting Tobrut!?

"Tiket habis, Bro. Ternyata yang nonton konser hari ini bukan cuma aku sama kamu,” kataku sambil merogoh kantong celana. Di antrean panjang yang melingkar di sekitar stadion, aku dan Arap terjebak dalam suasana yang serba riuh. Kami terpaksa mengalihkan rencana, mencoba mencari hiburan lain di tengah kekecewaan. Arap merogoh saku dan mengeluarkan sebatang rokok. "Yah, mau gimana lagi. Kita nongkrong aja di tempat biasa. Siapa tahu ada cewek cakep lewat,” katanya setengah bercanda, sambil menyulut rokoknya. Kembali ke dua jam sebelumnya, suasana di kampus baru saja usai saat aku dan Arap memutuskan untuk berburu tiket konser mendadak. Sialnya, tiket itu habis sebelum kami sempat mengantre. “Ya sudah, ke warung Bu Wowiek aja. Di sana pasti ada cerita baru,” usul Arap, mencoba menghidupkan kembali semangat yang sempat luntur. Di warung Bu Wowiek, suasana lebih lengang. Hanya beberapa pelanggan tetap yang duduk sambil menikmati kopi. Kami segera memilih tempat duduk di pojokan, m...