Langsung ke konten utama

Cara Merespon Komentar Orang Lain

Tadi pagi masuk kerja ke kantor bertemu dengan teman yang kerja di lapangan, dari kejauhan saya sudah menebak jika saya bersalaman akan ada komentar yang dia berikan kepada saya.

Ramalan saya benar, dengan wajah yang di penuhi senyuman dan ucapan selamat tahun baru, di tambahi dengan komentar sekarang makin gendutan ya.. Alhamdulillah saya senang liatnya berarti kamu bahagia.

Dalam hati saya bergumam, hubungan gendut dan kebahagiaan itu emang ada? Kalau gendut ya itu masalah obesitas, perlu program diet. Sedangkan kebahagiaan bukan di ukur dari banyaknya makanan yang masuk di perut saya. Dangkal sekali, kebahagiaan saya diukur dari makanan yang masuk, bukankah jika urusan hidup hanya untuk mencari makan maka derajatnya mirip seperti yang dikeluarkannya (kotoran).

Manusia memang mudah dipengaruhi oleh pendapat, komentar, omongan orang lain. Terserah itu benar atau salah, jika pesan itu di sampaikan maka akan mempengaruhi apa apa yang ada di pikirannya.

Seperti saat dibilang, ih kok kamu terlihat lemas dan kusut begitu, tumben deh. Otomatis respon kita yang tadinya biasa biasa saja terpengaruhi menjadi seolah seperti yang dikomentarkan orang lain.

Apalagi saat dipuji, wah.. Kamu sekarang makin ganteng dan cerah ya. Luar biasa! Pujian ini ajaib. Bisa berdampak jadi GR dan tersipu sipu malu. Dan biasanya jika sudah di puji maka pun akan senang dengan orang tersebut. Padahal yang sebenarnya biasa biasa saja, namun karena pujian itulah mempengaruhi bahkan merubah sudut pandangnya mengenai wajah yang sebenarnya standar alias pasaran. Haha..

Respon dari komentar orang lain kepada kita, terkadang kita lebih sering diam dan merespon nya dalam hati, namun ada juga yang merespon nya dengan emosional karena terlalu baper dan tersinggung.

Baiknya respon kita santai saja mengenai komentar orang lain, karena kita tidak pernah bisa mengendalikan komentar orang lain. Kita hanya bisa mengendalikan diri kita sendiri terhadap komentar yang dilempar oleh orang lain.

Analogi nya begini, bau sampah tidak dapat kita salahkan karena memang bau, yang bisa kita lakukan adalah menutup hidung kita dan berpindah dari tempat itu. Mengerti? Jadi tergantung sikap kita, bukan menyalahkan orang lain yang berkomentar seperti itu.

Mungkin jika komentarnya baik, kita akan mudah membalas komentarnya. Namun jika buruk, kita harus bisa membalasnya dengan keterampilan tersendiri.

Pilihan sikapnya ada di kita. Apakah akan terpengaruh atau kita yang balik mempengaruhi orang tersebut. Dengan menjawab respon tersebut dengah kualitas sikap terbaik kita.

Pesannya adalah hadapi dengan tenang, dan jawablah dengan sikap terbaik yang anda miliki. Kalaupun mau marah karena tidak terima, marahlah dengan elegan. Maksudnya marahlah sehingga membuat dia kesal, setelah dia kesal dan marah, anda kembali tenang, seolah tidak ada masalah apa apa. Dengan begitu, nilai anda seri, satu sama. Haha..

Cilegon, 02012018
Roby Martin

Komentar

Tulisan Populer

Apa Beda Suka, Senang, dan Cinta?

Apa beda suka, senang, dan cinta? Selama anda masih belum bisa membedakan ketiga hal itu, maka anda akan salah dalam memaknai cinta. Saya ilustrasikan dalam cerita, Anda membeli hp Android karena melihat banyak teman-teman yang memilikinya dan terlihat keren, saat itu anda berada di wilayah SUKA. Dan suka merupakan wilayah NAFSU. Ketika anda mengetahui fitur, fasilitas dan manfaat Android yang lebih hebat dibandingkan HP jenis lain, maka saat itu anda berada diwilayah SENANG. Dan senang itu tidak menentu, dapat berubah-ubah tergantung kepada MOOD. Saat BOSAN, bersiaplah untuk mengganti HP jenis baru yang lebih canggih. Jadi jelaslah bahwa, Selama ini CINTA yang kita yakini sebagai cinta baru berada dalam wilayah SUKA dan SENANG. BOHONG! Jika anda berkata, gue JATUH CINTA pada pandangan pertama. Sesungguhnya saat itu anda sedang berkata, gue NAFSU dalam pandangan pertama. Mengapa demikian? Karena cinta yang anda maknai baru sebatas SUKA. Suka dengan wajahnya yang cantik, se...

Nggak Apa-apa Jelek yang Penting Tobrut!?

"Tiket habis, Bro. Ternyata yang nonton konser hari ini bukan cuma aku sama kamu,” kataku sambil merogoh kantong celana. Di antrean panjang yang melingkar di sekitar stadion, aku dan Arap terjebak dalam suasana yang serba riuh. Kami terpaksa mengalihkan rencana, mencoba mencari hiburan lain di tengah kekecewaan. Arap merogoh saku dan mengeluarkan sebatang rokok. "Yah, mau gimana lagi. Kita nongkrong aja di tempat biasa. Siapa tahu ada cewek cakep lewat,” katanya setengah bercanda, sambil menyulut rokoknya. Kembali ke dua jam sebelumnya, suasana di kampus baru saja usai saat aku dan Arap memutuskan untuk berburu tiket konser mendadak. Sialnya, tiket itu habis sebelum kami sempat mengantre. “Ya sudah, ke warung Bu Wowiek aja. Di sana pasti ada cerita baru,” usul Arap, mencoba menghidupkan kembali semangat yang sempat luntur. Di warung Bu Wowiek, suasana lebih lengang. Hanya beberapa pelanggan tetap yang duduk sambil menikmati kopi. Kami segera memilih tempat duduk di pojokan, m...