Langsung ke konten utama

Praktik Politik Uang di Partai Islam

Alasan partai politik membawa ideologi tertentu di dalam kampanye politiknya karena mengetahui basis massa ideologi apalagi diperkuat dengan mengusung identitas agama memiliki fanatisme yang kuat dalam menyuarakan pilihannya.

Memilih partai politik Islam artinya milih wakil rakyat yang berasaskan Islam dan harapannya bisa membawa pesan moral di dalam kebijakan-kebijakan politis yang dapat mensejahterakan masyarakat banyak.

Kalau saja semua partai politik mau jujur, mereka menggunakan politik uang untuk bisa menang di daerah pemilihan. Tidak terlepas dengan partai politik yang berasaskan Islam, menggunakan politik uang adalah siasat yang lazim digunakan untuk mencapai kemenangan suara seperti yang diharapkan.

Tidak cukup menggunakan spanduk dan baliho yang besar, uang dengan besaran tertentu dibutuhkan untuk mendorong suara di suatu daerah semakin besar, di samping membuat kontrak politik dan membangun fasilitas umum di masyarakat.

Uang yang ada dikumpulkan oleh para kader partai politik, baik dari donatur, anggota dewan terpilih, dana bantuan dari Dewan Pengurus Pusat dan kucuran dana dari simpatisan yang punya kepentingan jika menang dan kalau kalah terhitung sebagai hutang yang harus dibayarkan.

Untuk kota Serang, warga biasa menerima uang minimal 100 ribu untuk pemilihan anggota legislatif kemarin. Di kota Cilegon ada calon anggota legislatif yang memberikan 200 ribu per orang. Dengan kata lain para calon anggota legislatif sudah tahu besaran angka uang yang harus dikeluarkan jika ingin mendapatkan jumlah suara yang diharapkan.

Kader partai politik Islam ada yang mensiasatinya bukan dengan uang, namun membagikan buku, gantungan kunci, kaos partai, peralatan masak, kipas dan tentu diselipkan foto calon wakil rakyat yang ingin mengambil hati masyarakat.

Pesta demokrasi di Indonesia merupakan ajang transaksional, ada jual beli suara di dalamnya. Masyarakat memerlukan alat tukar atas jasanya memilih calon pemimpin dengan sejumlah uang atau barang tertentu.

Selain jualan agama dengan mendoktrin masyarakat agar memilihnya, kuasa uang pun mesti dilakukan agar menggerakkan ke lumbung suara. Meski ada saja yang menolak politik uang, sebagian besar masyarakat lebih senang menerima sejumlah uang.

Politik uang sudah menjadi transaksi politik, di mana masyarakat ingin uang dan wakil rakyat bisa mendapatkan balik modal dari gaji dan bisnisnya setelah menjadi pejabat di pemerintahan.

Komentar

Tulisan Populer

Apa Beda Suka, Senang, dan Cinta?

Apa beda suka, senang, dan cinta? Selama anda masih belum bisa membedakan ketiga hal itu, maka anda akan salah dalam memaknai cinta. Saya ilustrasikan dalam cerita, Anda membeli hp Android karena melihat banyak teman-teman yang memilikinya dan terlihat keren, saat itu anda berada di wilayah SUKA. Dan suka merupakan wilayah NAFSU. Ketika anda mengetahui fitur, fasilitas dan manfaat Android yang lebih hebat dibandingkan HP jenis lain, maka saat itu anda berada diwilayah SENANG. Dan senang itu tidak menentu, dapat berubah-ubah tergantung kepada MOOD. Saat BOSAN, bersiaplah untuk mengganti HP jenis baru yang lebih canggih. Jadi jelaslah bahwa, Selama ini CINTA yang kita yakini sebagai cinta baru berada dalam wilayah SUKA dan SENANG. BOHONG! Jika anda berkata, gue JATUH CINTA pada pandangan pertama. Sesungguhnya saat itu anda sedang berkata, gue NAFSU dalam pandangan pertama. Mengapa demikian? Karena cinta yang anda maknai baru sebatas SUKA. Suka dengan wajahnya yang cantik, se...

Nggak Apa-apa Jelek yang Penting Tobrut!?

"Tiket habis, Bro. Ternyata yang nonton konser hari ini bukan cuma aku sama kamu,” kataku sambil merogoh kantong celana. Di antrean panjang yang melingkar di sekitar stadion, aku dan Arap terjebak dalam suasana yang serba riuh. Kami terpaksa mengalihkan rencana, mencoba mencari hiburan lain di tengah kekecewaan. Arap merogoh saku dan mengeluarkan sebatang rokok. "Yah, mau gimana lagi. Kita nongkrong aja di tempat biasa. Siapa tahu ada cewek cakep lewat,” katanya setengah bercanda, sambil menyulut rokoknya. Kembali ke dua jam sebelumnya, suasana di kampus baru saja usai saat aku dan Arap memutuskan untuk berburu tiket konser mendadak. Sialnya, tiket itu habis sebelum kami sempat mengantre. “Ya sudah, ke warung Bu Wowiek aja. Di sana pasti ada cerita baru,” usul Arap, mencoba menghidupkan kembali semangat yang sempat luntur. Di warung Bu Wowiek, suasana lebih lengang. Hanya beberapa pelanggan tetap yang duduk sambil menikmati kopi. Kami segera memilih tempat duduk di pojokan, m...