Langsung ke konten utama

Bagaimana Perasaan Kader Politik yang Tidak Jadi Apa-Apa?

Keputusan final politik ditentukan oleh para elite politik yang ada di partai politik, entah itu berada di tangan Ketua Umum, Majelis Syuro, hingga bisa juga ditentukan oleh titipan orang yang paling berpengaruh meski berada di luar partai.

Perhitungan orang tersebut berasal dari kader partai atau bukan, bukan soal yang terlalu penting, yang penting potensi menangnya besar dan didukung oleh logistik yang cukup untuk sampai kepada tujuan kemenangan politik.

Point of view kader partai yang merasa banyak kontribusinya untuk partai dan terlebih kepada umat, pasti di sudut hatinya yang paling dalam merasa kenapa bukan saya atau si fulan yang lebih pantas mendapatkan amanah pemimpin ini?

Pertanyaan tersebut jika dijawab dengan sikap kami dengar dan taat, langsung bisa menerima begitu saja. Ya, namanya juga para pemimpin partai sudah memilih dan menetapkan orang tersebut, kader partai hanya bisa menuruti dan mengikuti apa maunya para pemimpin.

Sebaliknya jika disikapi dengan kritis dan melihat jenjang pengkaderan partai yang cukup panjang, bahkan semenjak di bangku Sekolah dan Kampus, semestinya pertanyaan tersebut membutuhkan penjelasan yang masuk akal dan boleh menolak penunjukan seseorang yang baru anak kemarin masuk partai.

Bayangkan jadi kader partai sudah belasan bahkan puluhan tahun, disisihkan oleh sekelas orang baru yang masuk partai dan terhitung baru beberapa tahun dan itu pun masuk ke penjaringan partai tanpa jenjang pengkaderan dan belum teruji militansinya.

Saya memahami perasaan para kader partai yang menolak tetapi mau tidak mau harus taat dengan keputusan para pemimpin partai. Saya tahu banyak kader partai yang lebih loyal yang habis-habisan kontribusinya tanpa dibayar sepeser uang pun, namun kembali lagi selalu pusat otoritas tertinggi tidak bisa dibantah ada di tangan elite politik.

Pada akhirnya kader partai yang penurut itu tidak menjadi apa-apa, sebatas hamba Allah yang bermodalkan ketulusan, semangat berjuang dan berdarah-darah demi orang yang dianggap bisa mewakili dirinya dan masyarakat.

Komentar

Tulisan Populer

Apa Beda Suka, Senang, dan Cinta?

Apa beda suka, senang, dan cinta? Selama anda masih belum bisa membedakan ketiga hal itu, maka anda akan salah dalam memaknai cinta. Saya ilustrasikan dalam cerita, Anda membeli hp Android karena melihat banyak teman-teman yang memilikinya dan terlihat keren, saat itu anda berada di wilayah SUKA. Dan suka merupakan wilayah NAFSU. Ketika anda mengetahui fitur, fasilitas dan manfaat Android yang lebih hebat dibandingkan HP jenis lain, maka saat itu anda berada diwilayah SENANG. Dan senang itu tidak menentu, dapat berubah-ubah tergantung kepada MOOD. Saat BOSAN, bersiaplah untuk mengganti HP jenis baru yang lebih canggih. Jadi jelaslah bahwa, Selama ini CINTA yang kita yakini sebagai cinta baru berada dalam wilayah SUKA dan SENANG. BOHONG! Jika anda berkata, gue JATUH CINTA pada pandangan pertama. Sesungguhnya saat itu anda sedang berkata, gue NAFSU dalam pandangan pertama. Mengapa demikian? Karena cinta yang anda maknai baru sebatas SUKA. Suka dengan wajahnya yang cantik, se...

Nggak Apa-apa Jelek yang Penting Tobrut!?

"Tiket habis, Bro. Ternyata yang nonton konser hari ini bukan cuma aku sama kamu,” kataku sambil merogoh kantong celana. Di antrean panjang yang melingkar di sekitar stadion, aku dan Arap terjebak dalam suasana yang serba riuh. Kami terpaksa mengalihkan rencana, mencoba mencari hiburan lain di tengah kekecewaan. Arap merogoh saku dan mengeluarkan sebatang rokok. "Yah, mau gimana lagi. Kita nongkrong aja di tempat biasa. Siapa tahu ada cewek cakep lewat,” katanya setengah bercanda, sambil menyulut rokoknya. Kembali ke dua jam sebelumnya, suasana di kampus baru saja usai saat aku dan Arap memutuskan untuk berburu tiket konser mendadak. Sialnya, tiket itu habis sebelum kami sempat mengantre. “Ya sudah, ke warung Bu Wowiek aja. Di sana pasti ada cerita baru,” usul Arap, mencoba menghidupkan kembali semangat yang sempat luntur. Di warung Bu Wowiek, suasana lebih lengang. Hanya beberapa pelanggan tetap yang duduk sambil menikmati kopi. Kami segera memilih tempat duduk di pojokan, m...