Beberapa waktu terakhir, saya sadar satu hal kecil yang ternyata berdampak besar: apa yang saya baca di media sosial ikut menentukan suasana hati saya sepanjang hari. Dulu saya membuka ponsel tanpa pikir panjang. Scroll berita, lihat komentar, pindah ke video, lalu ke topik lain yang sedang ramai. Rasanya seperti biasa saja. Tapi lama-lama saya mulai merasa lelah—bukan karena aktivitasnya, tapi karena isi yang saya konsumsi.
Ada hari-hari ketika saya belum melakukan apa-apa, tapi sudah merasa kesal. Kadang marah pada hal yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan hidup saya. Kadang juga overthinking tentang sesuatu yang bahkan tidak saya alami sendiri. Semua itu datang hanya dari membaca dan melihat.
Saya mulai memperhatikan pola yang terjadi. Setiap kali saya membaca berita yang penuh konflik, drama, atau kemarahan, perasaan saya ikut terseret. Saya jadi lebih mudah tersinggung, lebih cepat menilai, bahkan kadang ikut berdebat dalam pikiran sendiri. Padahal saya hanya duduk diam, tidak benar-benar terlibat.
Dari situ saya sadar, tidak semua informasi layak dikonsumsi terus-menerus. Media sosial memang tidak pernah berhenti menyajikan hal baru. Tapi bukan berarti semuanya harus kita lihat. Ada banyak hal yang hanya membuat pikiran penuh, tanpa benar-benar memberi manfaat.
Saya kemudian mulai mencoba hal sederhana: memilih. Tidak semua berita saya buka. Tidak semua komentar saya baca. Bahkan tidak semua hal yang viral saya anggap penting. Awalnya terasa aneh, seperti ketinggalan sesuatu. Tapi setelah beberapa waktu, saya justru merasa lebih ringan.
Ketika saya mengurangi paparan hal-hal yang memicu emosi negatif, pikiran saya jadi lebih tenang. Tidak banyak suara di kepala. Tidak banyak bayangan buruk yang muncul tiba-tiba. Saya juga jadi lebih fokus pada hal-hal yang benar-benar ada di depan saya—pekerjaan, keluarga, dan diri sendiri.
Saya tidak mengatakan bahwa kita harus menutup diri dari informasi. Dunia tetap perlu diketahui. Tapi ada perbedaan antara mengetahui dan tenggelam. Kita bisa tetap update tanpa harus ikut larut dalam setiap emosi yang disajikan.
Kadang kita merasa harus tahu segalanya, padahal tidak semua hal butuh perhatian kita. Ada berita yang penting, ada juga yang hanya memancing reaksi. Jika semua dikonsumsi tanpa saringan, pikiran kita akan penuh oleh hal-hal yang sebenarnya tidak perlu kita bawa.
Sekarang saya lebih berhati-hati. Bukan karena takut, tapi karena sadar bahwa apa yang masuk ke pikiran akan memengaruhi cara saya melihat hidup. Jika saya terus mengisi diri dengan kemarahan, maka saya akan mudah marah. Jika saya terus melihat konflik, maka dunia akan terasa penuh konflik.
Sebaliknya, ketika saya memilih informasi yang lebih tenang, lebih jernih, atau sekadar tidak memancing emosi berlebihan, hidup terasa lebih seimbang. Saya masih bisa berpikir kritis, tapi tidak harus gelisah.
Pada akhirnya, menjaga pikiran itu mirip seperti menjaga makanan yang kita konsumsi. Tidak semua yang tersedia harus dimakan. Ada yang perlu dibatasi, ada yang perlu dihindari, dan ada yang memang lebih baik ditinggalkan.
Dan mungkin, di tengah derasnya informasi hari ini, kemampuan untuk memilih bukan lagi pilihan tambahan, tapi kebutuhan agar kita tetap waras.
Komentar
Posting Komentar