Langsung ke konten utama

Kewahabi-Wahabian

Tidak sedikit yang takut dan nyalakan tanda bahaya dengan keberadaan tokoh dan ajaran wahabi yang dianggap bisa melunturkan tradisi islam ala nahdliyin (NU). Saya punya pengalaman sedikit di bangku sekolah melihat langsung perkembangan Salafy Wahabi di Indonesia, bukan hanya jadi pengamat yang julid menyinyir namun ikut duduk dalam taklim rutin dan membaca buku-buku mereka.

Tidak tanggung-tanggung istri saya pun pernah mengajar di sekolah yang menjadi basis Salafy Wahabi terbesar di kota saya bermukim. Kiranya beberapa bukti dan pengalaman ini bisa saya ajukan sebagai sharing bahwa mereka memang punya ajaran yang boleh diwaspadai tetapi jangan terlalu berlebihan juga.

Di dalam tubuh Salafy Wahabi sendiri mengalami perpecahan di kalangan tokohnya, adanya perbedaan pengambilan pendapat dalam perkara cabang. Detailnya tidak saya jelaskan di sini, yang pasti mereka terbagi beberapa bagian dan yang paling besar juga populer adalah Salafy Wahabi dari Radio Ar Rodja, di kemudian hari muncul tokoh-tokoh antara lain, Khalid Basalamah dan Syafiq Riza Basalamah.

Tentang pendapat mereka melarang tradisi tahlilan, maulid nabi, isra mi'raj dan seterusnya itu benar adanya, kategorinya masuk ke dalam bid'ah dholalah dan masuk neraka. Bagi mereka perayaan besar umat Islam yang sesuai sunnah hanya ada dua, yakni Idul Fitri dan Idul Adha.

Kemudian tuduhan kalangan Wahabi itu bukan hanya di rombongannya Salafy, namun juga ada di dalam tubuh PKS atau Tarbiyah, Muhammadiyah, dan Persis. Ini ada benarnya juga, mereka memang melarang tradisi yang biasa dilakukan oleh kalangan NU. Meski ada beberapa orang yang moderat untuk menerima tradisi tersebut, entah karena alasan politis atau memang sudah menerima tradisi tersebut.

Klaim bahwa Salafy Wahabi bukan seperti yang dituduhkan oleh kalangan NU atau khususnya Banser yang sering membubarkan kajian mereka, sebaiknya ada tokoh agama yang mau melakukan islah di kedua belah pihak agar tidak terjadi kegaduhan terus menerus.

Pelabelan yang diberikan kepada golongan tertentu yang dianggap menolak ajaran tradisi NU seperti tahlilan, maulidan dan seterusnya. Saya tahu penjelasan dari mereka adalah ini bukan aliran Islam tertentu, ini adalah ajaran murni yang di bawakan oleh Salafy atau para pengikut Salafus Shaleh dan dipopulerkan oleh Pembaharu (Mujtahid) Muhammad Abdullah Bin Abdul Wahab yang kemudian dikenal sebagai Wahabi.

Saya kurang setuju dengan pembubaran kajian Salafy Wahaby oleh Banser, sekaligus sekali lagi meminta para tokoh NU dan Salafy Wahabi mau duduk bersama bersilaturahmi dan bertabayun satu sama lain. Namun sampai sejauh ini, mereka belum melakukannya, entah karena alasan apa. Mungkin karena mereka masih memegang semangat assobiyah atau fanatisme golongannya sendiri sehingga secara tidak langsung umat digiring untuk saling gontok-gontokkan antar golongan Islam.



Komentar

Tulisan Populer

Apa Beda Suka, Senang, dan Cinta?

Apa beda suka, senang, dan cinta? Selama anda masih belum bisa membedakan ketiga hal itu, maka anda akan salah dalam memaknai cinta. Saya ilustrasikan dalam cerita, Anda membeli hp Android karena melihat banyak teman-teman yang memilikinya dan terlihat keren, saat itu anda berada di wilayah SUKA. Dan suka merupakan wilayah NAFSU. Ketika anda mengetahui fitur, fasilitas dan manfaat Android yang lebih hebat dibandingkan HP jenis lain, maka saat itu anda berada diwilayah SENANG. Dan senang itu tidak menentu, dapat berubah-ubah tergantung kepada MOOD. Saat BOSAN, bersiaplah untuk mengganti HP jenis baru yang lebih canggih. Jadi jelaslah bahwa, Selama ini CINTA yang kita yakini sebagai cinta baru berada dalam wilayah SUKA dan SENANG. BOHONG! Jika anda berkata, gue JATUH CINTA pada pandangan pertama. Sesungguhnya saat itu anda sedang berkata, gue NAFSU dalam pandangan pertama. Mengapa demikian? Karena cinta yang anda maknai baru sebatas SUKA. Suka dengan wajahnya yang cantik, se...

Nggak Apa-apa Jelek yang Penting Tobrut!?

"Tiket habis, Bro. Ternyata yang nonton konser hari ini bukan cuma aku sama kamu,” kataku sambil merogoh kantong celana. Di antrean panjang yang melingkar di sekitar stadion, aku dan Arap terjebak dalam suasana yang serba riuh. Kami terpaksa mengalihkan rencana, mencoba mencari hiburan lain di tengah kekecewaan. Arap merogoh saku dan mengeluarkan sebatang rokok. "Yah, mau gimana lagi. Kita nongkrong aja di tempat biasa. Siapa tahu ada cewek cakep lewat,” katanya setengah bercanda, sambil menyulut rokoknya. Kembali ke dua jam sebelumnya, suasana di kampus baru saja usai saat aku dan Arap memutuskan untuk berburu tiket konser mendadak. Sialnya, tiket itu habis sebelum kami sempat mengantre. “Ya sudah, ke warung Bu Wowiek aja. Di sana pasti ada cerita baru,” usul Arap, mencoba menghidupkan kembali semangat yang sempat luntur. Di warung Bu Wowiek, suasana lebih lengang. Hanya beberapa pelanggan tetap yang duduk sambil menikmati kopi. Kami segera memilih tempat duduk di pojokan, m...