Langsung ke konten utama

Pondok Pesantren Az Zaitun dan Negara Islam Indonesia (NII)

Saya cukup lama mengetahui keterlibatan gerakan islam Negara Islam Indonesia (NII) yang berpusat di pondok pesantren Az Zaitun, terlebih ada beberapa teman saya di masa sekolah dan kuliah dahulu dikenal sebagai kader NII.


Kehebatan NII ini terlihat pada keahlian mereka dalam mengkader anggota baru. Cara dakwahnya bukan memakai cara yang seperti biasanya ceramah ke masjid-masjid, mereka menggunakan cara dakwah fardiyah atau dakwah yang menyasar kepada orang perorang.

Mereka sudah punya target yang spesifik dan potensial untuk ditarik harta dan tenaganya untuk kepentingan gerakan NII. Saya sendiri punya pengalaman ketika kuliah dikader oleh NII dengan cara diajak diskusi dan debat mengenai masalah Indonesia dan Islam sebagai solusinya. Sekitar 1 jam saya diberikan dalil dan logika agar saya masuk NII dan hasilnya jelas gagal.

Mereka belum tahu semenjak bangku sekolah sering bergesekan dengan kader NII dan pengetahuan saya mengenai gerakan keislaman cukup mampu melawan serta membalas doktrin yang coba ditanamkan kepada keyakinan saya.

Untuk yang ramai sekarang ini mengenai keanehan solat di pondok pesantren Az Zaitun, saya tidak menilainya sebagai sebuah keanehan yang berarti sebab isu mengenai NII dan keterkaitannya dengan Az Zaitun sering dipergulirkan ketika mendekati masa pemilihan presiden, dengan kata lain sering digandengkan bersamaan dengan isu politik.

Hampir setiap di tahun politik isu mengenai keberadaan NII ini yang tujuannya mungkin untuk memecah konsentrasi masyarakat demi menutupi isu politik yang lebih besar dan punya potensi mengganggu kepentingan penguasa.

NII sebagai gerakan masih tetap ada walaupun mereka terpecah beberapa faksi dan ada yang sudah pindah dengan berbaiat kepada amir atau pimpinan yang dipilihnya. Seperti yang saya ketahui di Cilegon, anggota NII banyak yang keluar dan memisahkan diri dengan mengikuti amir Abu Bakar Ba'ayir di Jamaah Anshotut Tauhid (JAT), selain itu ada juga yang ke Jamaah Anshorus Syariah (JAS) dan Jamaah Anshorud Daulah (JAD).

Gerakan mereka terpecah pecah seperti ini karena adanya perbedaan pendapat mengenai seuatu keputusan di internal organisasinya. Ketika ada gerbong amir atau pemimpin yang keluar, para anggota biasanya ikut kepada gerbong amir yang mengajaknya. Mereka memang terorganisir dan struktural dalam mengelola jamaahnya.

Sebagai organisasi yang dahulunya militer Daulah Islam/Tentara Islam Indonesia atau DI/TII yang berjasa dalam sumbangsihnya di kemerdekaan Indonesia, mereka mewarisi semangat perjuangan mendirikan Indonesia lebih baik lagi dengan asas nilai agama Islam atau memperjuangkan tegaknya khilafah islamiyah.

Komentar

Tulisan Populer

Apa Beda Suka, Senang, dan Cinta?

Apa beda suka, senang, dan cinta? Selama anda masih belum bisa membedakan ketiga hal itu, maka anda akan salah dalam memaknai cinta. Saya ilustrasikan dalam cerita, Anda membeli hp Android karena melihat banyak teman-teman yang memilikinya dan terlihat keren, saat itu anda berada di wilayah SUKA. Dan suka merupakan wilayah NAFSU. Ketika anda mengetahui fitur, fasilitas dan manfaat Android yang lebih hebat dibandingkan HP jenis lain, maka saat itu anda berada diwilayah SENANG. Dan senang itu tidak menentu, dapat berubah-ubah tergantung kepada MOOD. Saat BOSAN, bersiaplah untuk mengganti HP jenis baru yang lebih canggih. Jadi jelaslah bahwa, Selama ini CINTA yang kita yakini sebagai cinta baru berada dalam wilayah SUKA dan SENANG. BOHONG! Jika anda berkata, gue JATUH CINTA pada pandangan pertama. Sesungguhnya saat itu anda sedang berkata, gue NAFSU dalam pandangan pertama. Mengapa demikian? Karena cinta yang anda maknai baru sebatas SUKA. Suka dengan wajahnya yang cantik, se...

Nggak Apa-apa Jelek yang Penting Tobrut!?

"Tiket habis, Bro. Ternyata yang nonton konser hari ini bukan cuma aku sama kamu,” kataku sambil merogoh kantong celana. Di antrean panjang yang melingkar di sekitar stadion, aku dan Arap terjebak dalam suasana yang serba riuh. Kami terpaksa mengalihkan rencana, mencoba mencari hiburan lain di tengah kekecewaan. Arap merogoh saku dan mengeluarkan sebatang rokok. "Yah, mau gimana lagi. Kita nongkrong aja di tempat biasa. Siapa tahu ada cewek cakep lewat,” katanya setengah bercanda, sambil menyulut rokoknya. Kembali ke dua jam sebelumnya, suasana di kampus baru saja usai saat aku dan Arap memutuskan untuk berburu tiket konser mendadak. Sialnya, tiket itu habis sebelum kami sempat mengantre. “Ya sudah, ke warung Bu Wowiek aja. Di sana pasti ada cerita baru,” usul Arap, mencoba menghidupkan kembali semangat yang sempat luntur. Di warung Bu Wowiek, suasana lebih lengang. Hanya beberapa pelanggan tetap yang duduk sambil menikmati kopi. Kami segera memilih tempat duduk di pojokan, m...