Langsung ke konten utama

Prof Zulys; Cocokologi antara Sains dan Agama

Saya pernah melihat sebuah video yang membuat saya berhenti cukup lama. Seorang pembicara mencoba menghubungkan pengetahuan sains dengan ajaran agama. Beberapa fakta ilmiah dipakai untuk menunjukkan bahwa sesuatu yang sudah tertulis dalam agama ternyata benar secara ilmiah.

Sekilas terdengar meyakinkan.

Masalahnya muncul ketika kita bertanya: apakah agama memang membutuhkan sains untuk membuktikan kebenarannya?

Menurut saya, di sinilah kita perlu berhenti sebentar. Mencocokkan setiap ayat, hadis, atau kisah keagamaan dengan temuan sains bukan selalu cara yang tepat untuk memahami keduanya. Sebab sains dan agama bekerja dengan cara yang berbeda.

Sains berdiri di atas pengetahuan yang selalu terbuka untuk diperiksa kembali. Sebuah teori dapat diterima hari ini, kemudian diperbaiki ketika ditemukan bukti baru. Kesalahan bukan sesuatu yang harus disembunyikan. Justru kesediaan mengakui kesalahan adalah bagian dari kekuatan sains.

Agama memiliki posisi yang berbeda bagi orang beriman. Ketika sebuah ajaran diyakini berasal dari Tuhan, ia tidak ditempatkan sebagai hipotesis yang setiap saat harus menunggu hasil laboratorium. Karena itu, membawa sains untuk menjadi “stempel pembenaran” agama justru bisa membuat keduanya berada dalam posisi yang aneh.

Contohnya Isra Mi'raj.

Peristiwa tersebut merupakan bagian penting dalam keyakinan Islam. Tetapi ketika kita mencoba menjelaskan perjalanan Nabi Muhammad dalam Isra Mi'raj menggunakan teori fisika tertentu, kemudian menyatakan bahwa teori tersebut membuktikan peristiwa tersebut secara ilmiah, kita sebenarnya sudah memasuki wilayah yang perlu sangat hati-hati.

Sains membutuhkan sesuatu yang dapat diperiksa, diuji, dan dibandingkan dengan bukti. Sementara pengalaman keagamaan tidak selalu hadir dalam bentuk yang bisa diuji dengan cara seperti itu.

Hal serupa terjadi pada pembahasan tentang sayap lalat. Ada hadis yang menyebut bahwa pada salah satu sayap lalat terdapat penyakit dan pada sayap lainnya terdapat penawarnya. Kemudian muncul berbagai upaya menghubungkannya dengan penelitian mikrobiologi tertentu.

Boleh saja penelitian tentang lalat dilakukan.

Boleh juga kita merasa menarik ketika hasil penelitian tampak memiliki kemiripan dengan suatu teks keagamaan. Tetapi mengatakan bahwa penelitian tersebut otomatis membuktikan kebenaran hadis secara ilmiah adalah persoalan lain.

Kita perlu memisahkan antara “menemukan kemiripan” dan “membuktikan”.

Ini penting karena kalau setiap penemuan ilmiah harus dicari padanannya dalam teks agama, kita bisa terjebak dalam kebiasaan mencari-cari kecocokan setelah fakta ditemukan. Ketika cocok, kita merasa menemukan mukjizat. Ketika tidak cocok, kita mencari penjelasan lain. Akhirnya, apa pun hasilnya selalu dibuat terlihat sesuai.

Padahal sains tidak bekerja seperti itu.

Sains justru menarik karena ia memberi kesempatan kepada kenyataan untuk mengatakan, “Kamu salah.”

Bagi saya, agama tidak menjadi lebih rendah hanya karena tidak semua ajarannya dapat dijelaskan dengan laboratorium. Sebaliknya, sains juga tidak perlu dipaksa menjadi pembela agama.

Keduanya bisa dihormati tanpa harus dicampuradukkan.

Agama berbicara tentang keyakinan, makna, nilai, dan pengalaman manusia terhadap sesuatu yang dianggap transenden. Sains berbicara tentang dunia yang dapat diteliti melalui bukti dan pengujian.

Jika keduanya bertemu, pertemuan itu sebaiknya dilakukan dengan kejujuran. Bukan dengan mencari pembenaran.

Karena kalau kita benar-benar menghargai sains, kita harus bersedia menerima kemungkinan bahwa suatu dugaan kita keliru.

Dan kalau kita benar-benar menghargai agama, kita juga tidak perlu membuatnya bergantung pada hasil penelitian laboratorium agar terasa benar.

Kadang-kadang, membiarkan dua hal berdiri pada tempatnya masing-masing justru merupakan bentuk penghormatan yang paling sederhana.

Komentar

Tulisan Populer

Apa Beda Suka, Senang, dan Cinta?

Apa beda suka, senang, dan cinta? Selama anda masih belum bisa membedakan ketiga hal itu, maka anda akan salah dalam memaknai cinta. Saya ilustrasikan dalam cerita, Anda membeli hp Android karena melihat banyak teman-teman yang memilikinya dan terlihat keren, saat itu anda berada di wilayah SUKA. Dan suka merupakan wilayah NAFSU. Ketika anda mengetahui fitur, fasilitas dan manfaat Android yang lebih hebat dibandingkan HP jenis lain, maka saat itu anda berada diwilayah SENANG. Dan senang itu tidak menentu, dapat berubah-ubah tergantung kepada MOOD. Saat BOSAN, bersiaplah untuk mengganti HP jenis baru yang lebih canggih. Jadi jelaslah bahwa, Selama ini CINTA yang kita yakini sebagai cinta baru berada dalam wilayah SUKA dan SENANG. BOHONG! Jika anda berkata, gue JATUH CINTA pada pandangan pertama. Sesungguhnya saat itu anda sedang berkata, gue NAFSU dalam pandangan pertama. Mengapa demikian? Karena cinta yang anda maknai baru sebatas SUKA. Suka dengan wajahnya yang cantik, se...

Nggak Apa-apa Jelek yang Penting Tobrut!?

"Tiket habis, Bro. Ternyata yang nonton konser hari ini bukan cuma aku sama kamu,” kataku sambil merogoh kantong celana. Di antrean panjang yang melingkar di sekitar stadion, aku dan Arap terjebak dalam suasana yang serba riuh. Kami terpaksa mengalihkan rencana, mencoba mencari hiburan lain di tengah kekecewaan. Arap merogoh saku dan mengeluarkan sebatang rokok. "Yah, mau gimana lagi. Kita nongkrong aja di tempat biasa. Siapa tahu ada cewek cakep lewat,” katanya setengah bercanda, sambil menyulut rokoknya. Kembali ke dua jam sebelumnya, suasana di kampus baru saja usai saat aku dan Arap memutuskan untuk berburu tiket konser mendadak. Sialnya, tiket itu habis sebelum kami sempat mengantre. “Ya sudah, ke warung Bu Wowiek aja. Di sana pasti ada cerita baru,” usul Arap, mencoba menghidupkan kembali semangat yang sempat luntur. Di warung Bu Wowiek, suasana lebih lengang. Hanya beberapa pelanggan tetap yang duduk sambil menikmati kopi. Kami segera memilih tempat duduk di pojokan, m...