Saya pernah melihat sebuah video yang membuat saya berhenti cukup lama. Seorang pembicara mencoba menghubungkan pengetahuan sains dengan ajaran agama. Beberapa fakta ilmiah dipakai untuk menunjukkan bahwa sesuatu yang sudah tertulis dalam agama ternyata benar secara ilmiah.
Sekilas terdengar meyakinkan.
Masalahnya muncul ketika kita bertanya: apakah agama memang membutuhkan sains untuk membuktikan kebenarannya?
Menurut saya, di sinilah kita perlu berhenti sebentar. Mencocokkan setiap ayat, hadis, atau kisah keagamaan dengan temuan sains bukan selalu cara yang tepat untuk memahami keduanya. Sebab sains dan agama bekerja dengan cara yang berbeda.
Sains berdiri di atas pengetahuan yang selalu terbuka untuk diperiksa kembali. Sebuah teori dapat diterima hari ini, kemudian diperbaiki ketika ditemukan bukti baru. Kesalahan bukan sesuatu yang harus disembunyikan. Justru kesediaan mengakui kesalahan adalah bagian dari kekuatan sains.
Agama memiliki posisi yang berbeda bagi orang beriman. Ketika sebuah ajaran diyakini berasal dari Tuhan, ia tidak ditempatkan sebagai hipotesis yang setiap saat harus menunggu hasil laboratorium. Karena itu, membawa sains untuk menjadi “stempel pembenaran” agama justru bisa membuat keduanya berada dalam posisi yang aneh.
Contohnya Isra Mi'raj.
Peristiwa tersebut merupakan bagian penting dalam keyakinan Islam. Tetapi ketika kita mencoba menjelaskan perjalanan Nabi Muhammad dalam Isra Mi'raj menggunakan teori fisika tertentu, kemudian menyatakan bahwa teori tersebut membuktikan peristiwa tersebut secara ilmiah, kita sebenarnya sudah memasuki wilayah yang perlu sangat hati-hati.
Sains membutuhkan sesuatu yang dapat diperiksa, diuji, dan dibandingkan dengan bukti. Sementara pengalaman keagamaan tidak selalu hadir dalam bentuk yang bisa diuji dengan cara seperti itu.
Hal serupa terjadi pada pembahasan tentang sayap lalat. Ada hadis yang menyebut bahwa pada salah satu sayap lalat terdapat penyakit dan pada sayap lainnya terdapat penawarnya. Kemudian muncul berbagai upaya menghubungkannya dengan penelitian mikrobiologi tertentu.
Boleh saja penelitian tentang lalat dilakukan.
Boleh juga kita merasa menarik ketika hasil penelitian tampak memiliki kemiripan dengan suatu teks keagamaan. Tetapi mengatakan bahwa penelitian tersebut otomatis membuktikan kebenaran hadis secara ilmiah adalah persoalan lain.
Kita perlu memisahkan antara “menemukan kemiripan” dan “membuktikan”.
Ini penting karena kalau setiap penemuan ilmiah harus dicari padanannya dalam teks agama, kita bisa terjebak dalam kebiasaan mencari-cari kecocokan setelah fakta ditemukan. Ketika cocok, kita merasa menemukan mukjizat. Ketika tidak cocok, kita mencari penjelasan lain. Akhirnya, apa pun hasilnya selalu dibuat terlihat sesuai.
Padahal sains tidak bekerja seperti itu.
Sains justru menarik karena ia memberi kesempatan kepada kenyataan untuk mengatakan, “Kamu salah.”
Bagi saya, agama tidak menjadi lebih rendah hanya karena tidak semua ajarannya dapat dijelaskan dengan laboratorium. Sebaliknya, sains juga tidak perlu dipaksa menjadi pembela agama.
Keduanya bisa dihormati tanpa harus dicampuradukkan.
Agama berbicara tentang keyakinan, makna, nilai, dan pengalaman manusia terhadap sesuatu yang dianggap transenden. Sains berbicara tentang dunia yang dapat diteliti melalui bukti dan pengujian.
Jika keduanya bertemu, pertemuan itu sebaiknya dilakukan dengan kejujuran. Bukan dengan mencari pembenaran.
Karena kalau kita benar-benar menghargai sains, kita harus bersedia menerima kemungkinan bahwa suatu dugaan kita keliru.
Dan kalau kita benar-benar menghargai agama, kita juga tidak perlu membuatnya bergantung pada hasil penelitian laboratorium agar terasa benar.
Kadang-kadang, membiarkan dua hal berdiri pada tempatnya masing-masing justru merupakan bentuk penghormatan yang paling sederhana.
Komentar
Posting Komentar