Langsung ke konten utama

Menemukan Jalan Tengah antara Hijrah dan Wahabisme

Belakangan saya sering melihat fenomena yang menarik di media sosial. Seorang artis yang sebelumnya dikenal dengan musik dan dunia hiburan tiba-tiba mengumumkan bahwa ia ingin berhenti bernyanyi. Ada yang mulai memelihara jenggot, memakai celana cingkrang, sementara sebagian perempuan memilih mengenakan cadar. Mereka menyebutnya hijrah.

Di satu sisi, perubahan itu adalah pilihan pribadi yang patut dihormati. Tetapi di sisi lain, fenomena tersebut membuat saya bertanya: mengapa gelombang hijrah dengan corak Salafi atau yang sering oleh masyarakat disebut Wahabi begitu menarik bagi sebagian anak muda Indonesia?

Jawabannya mungkin tidak sesederhana karena mereka “salah belajar agama”.

Ada sesuatu yang sedang dicari.

Sebagian anak muda mungkin menemukan kepastian dalam corak keberagamaan yang memberikan jawaban tegas: ini boleh, itu tidak boleh; ini sunnah, itu bidah; ini benar, itu salah. Di tengah kehidupan yang penuh ketidakpastian, kepastian seperti itu bisa terasa menenangkan. Penelitian Noorhaidi Hasan menunjukkan bahwa Salafisme di Indonesia berkembang melalui berbagai jaringan pendidikan, pusat pengajaran, dan agen dakwah, bukan melalui satu organisasi tunggal.

Karena itu, menurut saya, menghadapi fenomena ini dengan sekadar mengatakan “Wahabi itu sesat” justru tidak banyak menyelesaikan persoalan.

Orang yang sedang mencari pegangan biasanya tidak akan berhenti hanya karena kita menyuruhnya berhenti. Ia justru mungkin semakin mencari komunitas yang memberikan jawaban lebih tegas.

Saya teringat pada gagasan Nurcholish Madjid tentang keterbukaan dan toleransi. Dalam kajian terhadap pemikirannya, Cak Nur menekankan pentingnya sikap terbuka, penghormatan terhadap perbedaan, dan penolakan terhadap fanatisme yang membuat seseorang merasa hanya dirinya yang memiliki otoritas kebenaran.

Quraish Shihab juga baru-baru ini menekankan bahwa keberagaman praktik keagamaan yang memiliki dasar tidak semestinya menjadi alasan umat Islam untuk saling bertentangan. Baginya, keseragaman mutlak tidak perlu dipaksakan.

Saya kira gagasan seperti itu penting ketika kita berbicara tentang hijrah.

Jenggot bukan masalah.

Cadar bukan masalah.

Celana cingkrang bukan masalah.

Bahkan seseorang memilih berhenti bermusik karena keyakinannya juga merupakan persoalan yang perlu ditempatkan pada pilihan keagamaannya sendiri.

Yang menjadi persoalan adalah ketika simbol-simbol tersebut berubah menjadi ukuran untuk menentukan kualitas manusia.

Seseorang berjenggot belum tentu lebih berakhlak daripada orang yang tidak berjenggot. Perempuan bercadar tidak otomatis lebih baik daripada perempuan yang tidak bercadar. Orang yang meninggalkan musik tidak otomatis lebih bertakwa daripada musisi.

Begitu pula sebaliknya.

Kita tidak bisa mengukur seluruh isi hati seseorang hanya dari pakaian yang dikenakannya.

Mungkin inilah jalan tengah yang selama ini kita butuhkan: tidak memusuhi orang yang berbeda, tetapi juga tidak berhenti berpikir kritis terhadap gagasan yang dibawanya.

Kita bisa memahami akar gerakan Salafi tanpa harus menerimanya seluruhnya. Kita bisa mengkritik gagasannya tanpa membenci orangnya. Kita bisa mempertahankan tradisi pesantren tanpa menganggap semua orang yang berbeda sebagai ancaman.

Sebab pada akhirnya, agama seharusnya tidak berhenti pada bentuk yang terlihat.

Ia mesti sampai kepada akhlak.

Kalau hijrah membuat seseorang lebih jujur, lebih sabar, lebih rendah hati, lebih menghormati orang lain, dan lebih bermanfaat bagi lingkungan, saya kira ada sesuatu yang tumbuh di sana.

Tetapi kalau hijrah justru membuat seseorang semakin mudah merendahkan orang lain hanya karena cara salat, pakaian, musik, mazhab, atau tradisi yang berbeda, mungkin ada sesuatu yang perlu diperiksa kembali.

Barangkali kita terlalu sibuk bertanya, “Apakah dia sudah sesuai dengan kelompok kita?”

Padahal pertanyaan yang lebih sederhana adalah:

“Setelah belajar agama, apakah dia menjadi manusia yang lebih baik?”

Di situlah ukuran yang menurut saya jauh lebih penting.

Sebab perbedaan dalam cara beragama mungkin akan selalu ada.

Tetapi akhlak seharusnya menjadi tempat kita bertemu.

Komentar

Tulisan Populer

Apa Beda Suka, Senang, dan Cinta?

Apa beda suka, senang, dan cinta? Selama anda masih belum bisa membedakan ketiga hal itu, maka anda akan salah dalam memaknai cinta. Saya ilustrasikan dalam cerita, Anda membeli hp Android karena melihat banyak teman-teman yang memilikinya dan terlihat keren, saat itu anda berada di wilayah SUKA. Dan suka merupakan wilayah NAFSU. Ketika anda mengetahui fitur, fasilitas dan manfaat Android yang lebih hebat dibandingkan HP jenis lain, maka saat itu anda berada diwilayah SENANG. Dan senang itu tidak menentu, dapat berubah-ubah tergantung kepada MOOD. Saat BOSAN, bersiaplah untuk mengganti HP jenis baru yang lebih canggih. Jadi jelaslah bahwa, Selama ini CINTA yang kita yakini sebagai cinta baru berada dalam wilayah SUKA dan SENANG. BOHONG! Jika anda berkata, gue JATUH CINTA pada pandangan pertama. Sesungguhnya saat itu anda sedang berkata, gue NAFSU dalam pandangan pertama. Mengapa demikian? Karena cinta yang anda maknai baru sebatas SUKA. Suka dengan wajahnya yang cantik, se...

Nggak Apa-apa Jelek yang Penting Tobrut!?

"Tiket habis, Bro. Ternyata yang nonton konser hari ini bukan cuma aku sama kamu,” kataku sambil merogoh kantong celana. Di antrean panjang yang melingkar di sekitar stadion, aku dan Arap terjebak dalam suasana yang serba riuh. Kami terpaksa mengalihkan rencana, mencoba mencari hiburan lain di tengah kekecewaan. Arap merogoh saku dan mengeluarkan sebatang rokok. "Yah, mau gimana lagi. Kita nongkrong aja di tempat biasa. Siapa tahu ada cewek cakep lewat,” katanya setengah bercanda, sambil menyulut rokoknya. Kembali ke dua jam sebelumnya, suasana di kampus baru saja usai saat aku dan Arap memutuskan untuk berburu tiket konser mendadak. Sialnya, tiket itu habis sebelum kami sempat mengantre. “Ya sudah, ke warung Bu Wowiek aja. Di sana pasti ada cerita baru,” usul Arap, mencoba menghidupkan kembali semangat yang sempat luntur. Di warung Bu Wowiek, suasana lebih lengang. Hanya beberapa pelanggan tetap yang duduk sambil menikmati kopi. Kami segera memilih tempat duduk di pojokan, m...