Beberapa tahun lalu, kalau ada orang bilang mau ikut yoga, saya mungkin membayangkan orang yang duduk bersila dengan mata terpejam, memakai pakaian serba putih, lalu berbicara tentang ketenangan hidup sambil memandang matahari terbit.
Sekarang pemandangannya sudah berbeda.
Yoga ada di mana-mana. Di studio, hotel, taman kota, pusat kebugaran, bahkan di media sosial. Pesertanya juga macam-macam. Anak muda, ibu-ibu, bapak-bapak, pekerja kantoran, sampai orang yang mungkin awalnya hanya ikut karena diajak teman.
Saya sendiri pernah melihat orang yang baru mencoba yoga dengan wajah penuh percaya diri. Lima menit kemudian, kakinya sudah seperti sedang mencari alamat. Tubuhnya diminta meliuk ke kanan, sementara pikirannya mungkin sedang bertanya, “Kenapa saya melakukan ini?”
Memang, yoga dari luar terlihat sederhana. Tinggal tarik napas, buang napas, lalu tubuh digerakkan ke berbagai posisi. Kenyataannya, ketika badan sudah kaku seperti gagang sapu, gerakan yang bagi instruktur terlihat mudah bisa terasa seperti ujian nasional.
“Tarik napas.”
Saya tarik napas.
“Hembuskan perlahan.”
Saya hembuskan.
“Sekarang tangan ke atas, badan condong ke depan.”
Saya menurut.
Dalam hati saya berkata, “Ini olahraga atau negosiasi dengan persendian?”
Tetapi setelah beberapa kali latihan, tubuh perlahan mulai terbiasa. Gerakan yang sebelumnya sulit menjadi lebih mudah. Tubuh terasa lebih lentur, dan kita mulai mengenal bagian-bagian tubuh yang selama ini jarang diajak bekerja sama.
Yang menarik dari yoga bukan hanya gerakannya. Ada perhatian pada napas. Tarikan dan hembusan napas membuat seseorang berhenti sebentar dari kesibukan. Di tengah hidup yang sering terburu-buru, kita diajak melakukan sesuatu yang sangat sederhana: bernapas dan menyadarinya.
Karena itu yoga kini diikuti banyak kalangan. Orang datang bukan hanya untuk membuat tubuh lebih fleksibel, tetapi juga mencari ruang untuk berhenti sejenak. Setelah seharian bekerja di depan komputer, mengurus rumah, mengejar target, menghadapi kemacetan, atau menghadapi drama grup WhatsApp keluarga, tubuh dan pikiran memang kadang membutuhkan jeda.
Namun yoga juga tidak lepas dari perdebatan. Ada sebagian kalangan Muslim yang berpandangan bahwa yoga sebaiknya dihindari atau bahkan mengharamkannya karena melihat adanya unsur tertentu yang dianggap berkaitan dengan tradisi keagamaan lain. Di sisi lain, banyak orang mempraktikkannya sebagai aktivitas olahraga dan relaksasi, tanpa mengadopsi keyakinan keagamaan tertentu.
Di sinilah menurut saya penting untuk melihat praktiknya secara jernih. Seseorang bisa mengambil manfaat dari gerakan fisik dan latihan pernapasan tanpa harus mengikuti seluruh latar belakang budaya atau kepercayaan yang pernah melekat pada yoga. Sebaliknya, orang yang memiliki keyakinan berbeda tentu berhak menentukan batas yang sesuai dengan keyakinannya.
Yoga mungkin tidak perlu dijadikan sesuatu yang terlalu sakral atau terlalu menakutkan.
Ia bisa saja sesederhana olahraga.
Tubuh digerakkan agar tidak kaku.
Napas diperhatikan agar tidak selalu terburu-buru.
Pikiran diberi kesempatan untuk beristirahat.
Dan kalau setelah selesai yoga badan malah pegal semua, ya mungkin itu bukan pencerahan.
Itu cuma tanda bahwa badan kita selama ini memang kurang diajak kompromi.
Komentar
Posting Komentar