Begitu pintu ditutup, saya langsung melepas sepatu dan melemparkannya ke sudut. Tidak rapi memang. Tapi anehnya, di rumah sendiri kita sering tidak terlalu peduli pada hal-hal yang biasanya ingin kita tampilkan sempurna di hadapan orang lain.
Saya duduk di lantai.
Diam.
Tidak ada yang perlu saya buktikan.
Tidak ada yang perlu saya jelaskan.
Mungkin inilah rumah yang sebenarnya.
Selama ini kita sering mengira rumah adalah bangunan. Ada tembok, pintu, jendela, kamar tidur, dapur, dan tagihan listrik yang datang setiap bulan seperti tamu yang tidak pernah lupa alamat.
Tetapi semakin lama saya merasa rumah bukan sekadar tempat kita tinggal.
Rumah adalah tempat kita boleh berhenti menjadi siapa-siapa.
Di luar sana kita punya banyak peran. Menjadi pekerja, pasangan, orang tua, teman, tetangga, bahkan kadang menjadi manusia yang kelihatan baik-baik saja padahal sebenarnya sedang ingin rebahan seharian.
Di rumah, semua peran itu boleh dilepas.
Kita boleh diam.
Boleh gagal.
Boleh menangis.
Boleh makan nasi dengan telur ketika sebenarnya tadi sudah berencana hidup sehat.
Tidak ada yang perlu memberi tepuk tangan.
Dan justru di situlah rumah terasa paling manusiawi.
Saya kemudian berpikir, jangan-jangan selama ini kita terlalu sibuk mencari rumah di luar diri sendiri. Mencari penerimaan dari orang lain, mencari pujian, mencari seseorang yang membuat kita merasa cukup. Kita pergi ke mana-mana, padahal tempat pulangnya belum tentu jauh.
Mungkin rumah itu ada di dalam diri.
Tempat kita bisa berkata, “Ya sudah, hari ini saya memang tidak hebat. Tidak apa-apa.”
Mencintai diri sendiri ternyata bukan selalu membeli sesuatu yang mahal atau memberi hadiah kepada diri sendiri. Kadang sesederhana tidak memaki diri sendiri ketika melakukan kesalahan.
Kadang cukup tidur ketika lelah.
Kadang cukup mengatakan tidak.
Kadang cukup berhenti mengejar orang yang memang tidak ingin tinggal.
Sore itu saya masih duduk di lantai.
Rumah tetap berantakan.
Hidup juga belum selesai.
Masalah masih ada.
Tetapi untuk pertama kalinya hari itu, saya merasa pulang.
Bukan karena berada di sebuah rumah.
Melainkan karena akhirnya saya tidak sedang melarikan diri dari diri sendiri.
Komentar
Posting Komentar