Ada kalanya hidup hanya membutuhkan satu kalimat sederhana: yang sudah selesai, ya sudah selesai.
Dulu saya mengira semua hal harus dibereskan sampai benar-benar tuntas. Kalau ada masalah, harus dicari jawabannya. Kalau ada hubungan yang berakhir, harus tahu siapa yang salah. Kalau ada perkataan yang menyakitkan, harus dijelaskan. Kalau ada kegagalan, harus dicari alasan mengapa itu terjadi.
Ternyata tidak selalu begitu.
Ada hal-hal yang memang selesai tanpa penjelasan. Ada orang yang pergi tanpa sempat memberikan alasan. Ada pekerjaan yang berhenti sebelum sempurna. Ada rencana yang sudah dibuat dengan hati-hati, tetapi akhirnya tidak pernah terjadi.
Kita sering membuat sesuatu yang sudah selesai menjadi hidup kembali karena terus memikirkannya.
Saya pernah mengalami hal seperti itu. Sebuah kejadian sudah berlalu bertahun-tahun, tetapi setiap kali mengingatnya, saya seperti membuka kembali pintu yang sebenarnya sudah saya tutup. Kejadiannya memang sudah selesai, tetapi saya sendiri yang terus menghidupkannya melalui ingatan.
Barangkali menerima bahwa sesuatu telah selesai bukan berarti kita menganggapnya tidak penting. Justru karena pernah penting, kita perlu memberinya tempat yang layak dalam hidup: sebagai pengalaman, bukan sebagai tempat tinggal.
Ada perbedaan antara mengingat dan tinggal di masa lalu.
Kita boleh mengingat orang yang pernah dekat. Boleh mengenang keputusan yang pernah salah. Boleh sesekali bertanya, “Bagaimana kalau waktu itu saya memilih berbeda?” Tetapi setelah itu, mungkin kita perlu kembali melihat hari ini.
Sebab hidup tidak berhenti hanya karena satu cerita berakhir.
Kadang kita terlalu sibuk memperbaiki halaman lama sampai lupa bahwa halaman berikutnya sudah menunggu untuk ditulis.
Maka ketika sesuatu memang telah selesai, mungkin kita tidak perlu terus mencari kalimat penutup yang sempurna.
Cukup katakan kepada diri sendiri:
Sudah selesai.
Lalu tarik napas.
Besok pagi, kita bangun lagi.
Dan hidup berjalan seperti biasa.
Komentar
Posting Komentar