Langsung ke konten utama

Ia Mengaku Ateis dan Agnostik

Belakangan saya sering melihat orang di media sosial dengan santai menulis di bio: atheist, agnostic, atau “tidak percaya Tuhan”. Saya kadang membacanya sambil menyeruput kopi dan berpikir, ternyata zaman sudah berubah. Dulu orang mungkin menyimpan pertanyaan tentang Tuhan sendirian di kamar. Sekarang pertanyaan itu bisa dipasang di profil, lengkap dengan foto dan emoji.

Di Indonesia, keberanian semacam ini cukup menarik. Kita hidup di tengah masyarakat yang agama bukan sekadar urusan pribadi. Agama hadir dalam keluarga, sekolah, lingkungan kerja, pergaulan, bahkan dalam percakapan sederhana seperti, “Kamu agamanya apa?”

Maka ketika seseorang mengatakan dirinya ateis atau agnostik, yang muncul bukan hanya diskusi tentang Tuhan. Identitas itu bisa membawa persoalan lain: dianggap aneh, sesat, sedang mencari perhatian, tidak bermoral, atau bahkan dianggap sedang menantang keyakinan orang lain.

Padahal sebenarnya saya tidak terlalu tertarik dengan labelnya.

Seseorang boleh saja ateis. Boleh agnostik. Boleh beriman dengan sangat kuat. Boleh pula sedang bingung dan belum tahu harus berada di mana.

Yang menurut saya lebih menarik adalah: setelah semua keyakinan itu dimiliki, lalu apa yang dilakukan seseorang terhadap hidupnya?

Saya pernah berpikir bahwa manusia terlalu sibuk menentukan siapa yang benar tentang Tuhan, sampai lupa bertanya apakah keyakinannya membuat ia menjadi manusia yang lebih baik.

Kalau seseorang percaya kepada Tuhan dan keyakinan itu membuatnya lebih jujur, tidak mudah menyakiti orang, mau membantu tetangga, menghormati perbedaan, dan tidak merasa dirinya paling suci, saya kira itu jauh lebih berarti daripada sekadar tulisan “saya religius” di media sosial.

Sebaliknya, kalau seseorang tidak percaya Tuhan tetapi hidupnya tetap penuh tanggung jawab, tidak menipu, tidak merugikan orang lain, mampu menolong ketika orang membutuhkan, dan menghormati kebebasan orang lain, saya juga tidak melihat alasan untuk buru-buru menghakiminya hanya karena label tersebut.

Barangkali persoalannya memang bukan pada ada atau tidaknya label.

Kita sering mengira identitas adalah sesuatu yang harus diumumkan agar keberadaan kita diakui. Padahal tidak semua hal dalam diri perlu menjadi pengumuman publik.

Saya sendiri lebih suka melihat apa yang tumbuh dari keyakinan seseorang daripada mendengar bagaimana ia menyebut keyakinannya.

Sebab manusia bisa sangat religius dalam ucapan tetapi kasar dalam perilaku. Bisa sangat rajin membicarakan Tuhan tetapi tidak punya belas kasihan kepada manusia. Sebaliknya, ada orang yang tidak banyak bicara soal agama tetapi kehadirannya justru membuat orang lain merasa aman.

Pada akhirnya, ateis, agnostik, maupun orang beragama tetap menghadapi persoalan yang sama: bagaimana menjalani hidup bersama manusia lain.

Kita tetap harus bekerja, mencintai, kehilangan, sakit, menua, dan suatu hari mati.

Jadi mungkin tidak perlu terlalu sibuk memenangkan perdebatan tentang label.

Kalau keyakinan kita benar-benar memiliki nilai, biarkan ia terlihat dari cara kita hidup.

Tidak perlu diumumkan setiap hari.

Cukup terasa manfaatnya bagi orang-orang yang kebetulan hidup di sekitar kita.

Komentar

Tulisan Populer

Apa Beda Suka, Senang, dan Cinta?

Apa beda suka, senang, dan cinta? Selama anda masih belum bisa membedakan ketiga hal itu, maka anda akan salah dalam memaknai cinta. Saya ilustrasikan dalam cerita, Anda membeli hp Android karena melihat banyak teman-teman yang memilikinya dan terlihat keren, saat itu anda berada di wilayah SUKA. Dan suka merupakan wilayah NAFSU. Ketika anda mengetahui fitur, fasilitas dan manfaat Android yang lebih hebat dibandingkan HP jenis lain, maka saat itu anda berada diwilayah SENANG. Dan senang itu tidak menentu, dapat berubah-ubah tergantung kepada MOOD. Saat BOSAN, bersiaplah untuk mengganti HP jenis baru yang lebih canggih. Jadi jelaslah bahwa, Selama ini CINTA yang kita yakini sebagai cinta baru berada dalam wilayah SUKA dan SENANG. BOHONG! Jika anda berkata, gue JATUH CINTA pada pandangan pertama. Sesungguhnya saat itu anda sedang berkata, gue NAFSU dalam pandangan pertama. Mengapa demikian? Karena cinta yang anda maknai baru sebatas SUKA. Suka dengan wajahnya yang cantik, se...

Nggak Apa-apa Jelek yang Penting Tobrut!?

"Tiket habis, Bro. Ternyata yang nonton konser hari ini bukan cuma aku sama kamu,” kataku sambil merogoh kantong celana. Di antrean panjang yang melingkar di sekitar stadion, aku dan Arap terjebak dalam suasana yang serba riuh. Kami terpaksa mengalihkan rencana, mencoba mencari hiburan lain di tengah kekecewaan. Arap merogoh saku dan mengeluarkan sebatang rokok. "Yah, mau gimana lagi. Kita nongkrong aja di tempat biasa. Siapa tahu ada cewek cakep lewat,” katanya setengah bercanda, sambil menyulut rokoknya. Kembali ke dua jam sebelumnya, suasana di kampus baru saja usai saat aku dan Arap memutuskan untuk berburu tiket konser mendadak. Sialnya, tiket itu habis sebelum kami sempat mengantre. “Ya sudah, ke warung Bu Wowiek aja. Di sana pasti ada cerita baru,” usul Arap, mencoba menghidupkan kembali semangat yang sempat luntur. Di warung Bu Wowiek, suasana lebih lengang. Hanya beberapa pelanggan tetap yang duduk sambil menikmati kopi. Kami segera memilih tempat duduk di pojokan, m...