Langsung ke konten utama

Healing Jalur Konser King Nassar

Saya beberapakali melihat konser Nassar di Tiktok, yang saya cari bukan merdu suaranya, saya ingin menikmati cara Nassar menghibur penonton dengan cara khasnya. 

Saya sering curiga, ini konser atau acara terapi massal?

Nassar bukan cuma datang untuk menyanyi. Ia seperti membawa satu paket hiburan lengkap: suara yang bagus, kostum yang kadang bikin kita bertanya-tanya, aksi panggung yang tidak ada remnya, dan lawakan yang muncul di sela-sela lagu. Rasanya seperti menonton penyanyi, komedian, sekaligus manusia yang sedang sangat menikmati dirinya sendiri di atas panggung.

Padahal kalau mau mengingat perjalanan kariernya, Nassar bukan orang yang muncul kemarin sore. Ia dikenal luas sejak menjadi jebolan Kontes Dangdut Indonesia (KDI). Dari panggung kompetisi itu, namanya kemudian terus bertahan dan berkembang menjadi salah satu figur dangdut yang punya karakter panggung sangat kuat.

Yang menarik justru bukan hanya bagaimana ia bernyanyi, tetapi bagaimana ia membuat orang merasa terlibat dalam pertunjukan.

Ada penyanyi yang membuat penonton diam karena terpukau suaranya. Nassar membuat penonton tertawa, berteriak, berjoget, lalu tiba-tiba ikut bernyanyi. Ia seperti tidak membiarkan siapa pun berdiri terlalu serius.

Saya melihat potongan-potongan videonya setelah konser. Di kolom komentar, banyak netizen bercanda bahwa menonton konser Nassar adalah bentuk “healing jalur konser King Nassar”.

Tentu saja itu bukan terapi dalam pengertian medis. Tapi saya mengerti kenapa candaan itu muncul.

Kadang kita memang tidak butuh nasihat panjang.

Kita cuma butuh seseorang memakai kostum yang tidak masuk akal, menyanyi dengan penuh percaya diri, lalu membuat ribuan orang tertawa bersama-sama.

Mungkin itulah yang sering dilupakan dari hiburan. Ia tidak harus selalu bermakna besar. Kadang manfaatnya justru karena selama beberapa jam kita berhenti memikirkan cicilan, pekerjaan, hubungan yang rumit, berita yang bikin emosi, dan segala persoalan hidup yang biasanya ikut masuk sampai kamar tidur.

Nassar mungkin tidak datang membawa solusi untuk hidup kita.

Ia cuma datang membawa panggung.

Membawa suara.

Membawa tawa.

Membawa kostum yang entah siapa yang merancang.

Barangkali kesehatan mental kadang memang tidak selalu membutuhkan kalimat motivasi.

Kadang cukup King Nassar.

Komentar

Tulisan Populer

Apa Beda Suka, Senang, dan Cinta?

Apa beda suka, senang, dan cinta? Selama anda masih belum bisa membedakan ketiga hal itu, maka anda akan salah dalam memaknai cinta. Saya ilustrasikan dalam cerita, Anda membeli hp Android karena melihat banyak teman-teman yang memilikinya dan terlihat keren, saat itu anda berada di wilayah SUKA. Dan suka merupakan wilayah NAFSU. Ketika anda mengetahui fitur, fasilitas dan manfaat Android yang lebih hebat dibandingkan HP jenis lain, maka saat itu anda berada diwilayah SENANG. Dan senang itu tidak menentu, dapat berubah-ubah tergantung kepada MOOD. Saat BOSAN, bersiaplah untuk mengganti HP jenis baru yang lebih canggih. Jadi jelaslah bahwa, Selama ini CINTA yang kita yakini sebagai cinta baru berada dalam wilayah SUKA dan SENANG. BOHONG! Jika anda berkata, gue JATUH CINTA pada pandangan pertama. Sesungguhnya saat itu anda sedang berkata, gue NAFSU dalam pandangan pertama. Mengapa demikian? Karena cinta yang anda maknai baru sebatas SUKA. Suka dengan wajahnya yang cantik, se...

Nggak Apa-apa Jelek yang Penting Tobrut!?

"Tiket habis, Bro. Ternyata yang nonton konser hari ini bukan cuma aku sama kamu,” kataku sambil merogoh kantong celana. Di antrean panjang yang melingkar di sekitar stadion, aku dan Arap terjebak dalam suasana yang serba riuh. Kami terpaksa mengalihkan rencana, mencoba mencari hiburan lain di tengah kekecewaan. Arap merogoh saku dan mengeluarkan sebatang rokok. "Yah, mau gimana lagi. Kita nongkrong aja di tempat biasa. Siapa tahu ada cewek cakep lewat,” katanya setengah bercanda, sambil menyulut rokoknya. Kembali ke dua jam sebelumnya, suasana di kampus baru saja usai saat aku dan Arap memutuskan untuk berburu tiket konser mendadak. Sialnya, tiket itu habis sebelum kami sempat mengantre. “Ya sudah, ke warung Bu Wowiek aja. Di sana pasti ada cerita baru,” usul Arap, mencoba menghidupkan kembali semangat yang sempat luntur. Di warung Bu Wowiek, suasana lebih lengang. Hanya beberapa pelanggan tetap yang duduk sambil menikmati kopi. Kami segera memilih tempat duduk di pojokan, m...