Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2026

Ketika Petarung Datang, Jangan Berharap Diskusi

Peristiwa Heri Pras yang dikeroyok tentu menyisakan keprihatinan. Banyak orang menyayangkan aksi kekerasan tersebut. Namun, kalau kita melihat rangkaian peristiwanya, ada satu hal yang menurut saya perlu dipikirkan: sebenarnya, apa yang kita harapkan dari pertemuan yang sejak awal sudah dibangun dengan suasana permusuhan? Heri Pras disebut telah melontarkan sebutan “setan bisu” kepada Ustaz Abdul Somad (UAS) dan Ustaz Adi Hidayat (UAH). Pernyataan itu kemudian menambah panas suasana, terlebih setelah muncul tantangan duel dengan Yudi Cahyadi, yang sama-sama dikenal sebagai petarung. Maka, ketika para petarung datang, rasanya agak naif jika kita membayangkan akan ada diskusi yang tenang, pertukaran gagasan, atau adu argumentasi. Bukankah sejak awal nuansanya memang sudah mengarah pada adu fisik? Saya tidak sedang membenarkan pengeroyokan. Menghina seseorang bukan alasan untuk mengeroyoknya. Tantangan duel pun tidak otomatis memberikan pembenaran bagi orang lain untuk ikut menyerang. Ada...

Ketika Aktivis Kampus Menjadi Anggota Partai Politik

Saya selalu tertarik melihat perjalanan seorang aktivis kampus setelah mereka lulus kuliah. Dulu, ketika masih menjadi mahasiswa, mereka begitu lantang mengkritik kebijakan pemerintah, turun ke jalan membawa spanduk, berorasi di depan gedung DPR, atau menggelar diskusi tentang ketimpangan sosial. Mereka bicara tentang keadilan, demokrasi, keberpihakan kepada rakyat kecil, dan perubahan sistem politik. Namun, beberapa tahun kemudian, sebagian dari mereka justru terlihat mengenakan jas partai, menghadiri rapat konsolidasi, menjadi pengurus, bahkan ikut mengampanyekan calon kepala daerah atau calon anggota legislatif. Mereka yang dahulu berdiri di luar kekuasaan, kini memilih masuk ke dalam salah satu kendaraan politik untuk melanjutkan perjuangannya. Apakah ini sebuah pengkhianatan terhadap idealisme mahasiswa? Saya kira tidak sesederhana itu. Kampus memang bukan hanya tempat memperoleh gelar akademik. Ia juga menjadi ruang belajar politik. Di sana, mahasiswa belajar mengorganisasi massa...

Aku yang Mana?

Suatu malam, saya pernah duduk sendirian tanpa melakukan apa-apa. Tidak sedang berdoa, tidak sedang membaca, juga tidak sedang memikirkan sesuatu secara sengaja. Hanya duduk dan memperhatikan apa yang muncul di dalam diri. Tiba-tiba ada pikiran tentang pekerjaan. Lalu muncul ingatan tentang seseorang. Setelah itu perasaan khawatir tentang masa depan. Belum selesai satu pikiran, sudah datang pikiran lainnya. Begitu juga perasaan. Kadang senang, kadang sedih, kadang kesal, lalu entah bagaimana berubah menjadi biasa saja. Saya kemudian bertanya: kalau semua itu datang dan pergi, sebenarnya siapa yang sedang mengalami semuanya? Selama ini kita begitu mudah mengatakan, "Saya sedang marah", "Saya sedang takut", atau "Saya sedang kecewa". Seolah-olah semua perasaan itu adalah diri kita sendiri. Padahal kemarahan bisa hilang, ketakutan bisa mereda, dan kesedihan suatu hari bisa berubah menjadi kebahagiaan. Pikiran pun demikian. Hari ini kita memikirkan sesuatu den...