Ada satu pertanyaan yang belakangan ini menggangguku: ketika kita mengatakan “Tuhan itu ada”, sebenarnya apa yang kita maksud dengan kata ada?
Kalimat itu terdengar sederhana. Sejak kecil kita mungkin sudah terbiasa mendengarnya. Tuhan ada, lalu Tuhan menciptakan alam, manusia, bumi, langit, dan segala sesuatu. Karena segala sesuatu yang kita lihat memiliki sebab, maka Tuhan dianggap sebagai sebab pertama dari semuanya.
Tetapi semakin kupikirkan, semakin terasa ada sesuatu yang belum selesai.
Kalau segala sesuatu membutuhkan pencipta, lalu Tuhan diciptakan oleh siapa?
Jawaban yang biasanya muncul: Tuhan tidak diciptakan. Tuhan sudah ada dengan sendirinya.
Di situlah aku berhenti sebentar.
Kalau Tuhan boleh dikatakan ada tanpa diciptakan, mengapa alam semesta tidak boleh dipertanyakan dengan cara yang sama? Mengapa harus selalu diasumsikan bahwa alam membutuhkan pencipta, sementara Tuhan justru boleh menjadi pengecualian?
Pertanyaan ini bukan untuk membuktikan bahwa Tuhan tidak ada. Aku hanya sedang mencoba melihat apakah alasan yang digunakan untuk mengatakan Tuhan ada memang sudah cukup kuat.
Ada pula kalimat yang sering kudengar: “Sesuatu tidak mungkin ada tanpa sebab.” Dari sini kemudian muncul kesimpulan bahwa pasti ada penyebab pertama, dan penyebab pertama itu disebut Tuhan.
Masalahnya, kalimat “segala sesuatu membutuhkan sebab” tampaknya langsung berhenti ketika sampai pada Tuhan. Tuhan tidak membutuhkan sebab karena Tuhan adalah sebab pertama.
Aku lalu bertanya: apakah kita benar-benar menemukan jawaban, atau hanya memindahkan pertanyaan satu langkah lebih jauh?
Mungkin memang ada sesuatu yang menjadi dasar dari keberadaan alam. Mungkin juga alam semesta memiliki penjelasan yang belum sepenuhnya kita pahami. Bahkan mungkin pertanyaan “siapa yang menciptakan alam?” sejak awal terlalu sederhana untuk persoalan sebesar ini.
Sains sendiri tidak otomatis membuktikan Tuhan atau membantah Tuhan. Sains lebih banyak bertanya bagaimana sesuatu terjadi berdasarkan hal-hal yang dapat diamati. Filsafat bergerak lebih jauh: mengapa kita menganggap bahwa segala sesuatu harus memiliki pencipta? Apa arti “ada”? Apakah “sebelum alam semesta” bahkan masuk akal jika waktu sendiri merupakan bagian dari alam semesta?
Semakin kupikirkan, semakin aku sadar bahwa kata “ada” ternyata tidak sesederhana yang selama ini kubayangkan.
Kita mengatakan meja ada karena bisa melihat dan menyentuhnya. Kita mengatakan pikiran ada karena mengalaminya. Tetapi ketika mengatakan Tuhan ada, kita sedang menggunakan kata yang sama untuk sesuatu yang oleh agama justru dianggap melampaui benda, ruang, dan waktu.
Lalu aku teringat pada pertanyaan yang lebih mendasar: apakah Tuhan harus “ada” dengan cara yang sama seperti benda-benda yang ada di dunia?
Mungkin di sinilah perdebatan tentang Tuhan sering mengalami kebuntuan. Kita mencoba membicarakan sesuatu yang dianggap melampaui dunia dengan bahasa yang dibuat untuk menjelaskan benda-benda di dalam dunia.
Aku tidak menemukan jawaban malam itu.
Tetapi mungkin memang bukan jawaban yang sedang kucari.
Aku hanya ingin berhenti sebentar dari kebiasaan mengatakan “Tuhan pasti ada” atau “Tuhan pasti tidak ada”, lalu bertanya lebih jujur: apa sebenarnya yang sedang kita maksud ketika mengucapkan kata Tuhan, sebab, ada, dan pencipta?
Sebab bisa jadi, sebelum memperdebatkan apakah Tuhan ada, kita perlu lebih dahulu memahami apa yang kita maksud dengan “ada”.
Dan mungkin justru di situlah filsafat dimulai: bukan ketika kita memiliki jawaban, tetapi ketika kita cukup berani mempertanyakan kata-kata yang selama ini kita anggap sudah jelas.
Komentar
Posting Komentar