Malam itu aku terbangun karena sebuah pertanyaan yang entah datang dari mana. "Siapa kamu?" Tidak ada siapa-siapa di kamar. Hanya suara kipas angin yang berputar pelan dan cahaya lampu jalan yang masuk melalui celah jendela. Aku mencoba tidur lagi, tetapi pertanyaan itu terus mengendap seperti batu kecil di dalam sepatu. Semakin kuabaikan, semakin terasa. Pagi harinya aku berdiri di depan cermin. "Aku." Jawaban itu terdengar begitu mudah. Tetapi siapa sebenarnya yang sedang kujawab? Apakah wajah yang mulai dipenuhi garis-garis halus itu adalah aku? Kalau suatu hari wajah ini berubah, apakah aku ikut berubah? Kalau namaku diganti, apakah aku menjadi orang lain? Kalau pekerjaanku hilang, apakah aku juga ikut hilang? Sepanjang perjalanan ke tempat kerja, pertanyaan itu tidak juga pergi. Di lampu merah, kulihat seorang pengemis menggendong anak kecil. Di seberang jalan, seorang pria berjas berjalan tergesa-gesa sambil terus berbicara melalui telepon. Di warung kopi, beb...