Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2026

Ketinggalan Kereta

“Ketinggalan kereta hanya akan menyakitkan ketika kamu mengejarnya.” Saya menulis kalimat itu di halaman belakang buku catatan, entah untuk siapa. Mungkin untuk diri sendiri. Mungkin untuk seseorang yang pernah pergi tanpa sempat saya tahan. Atau mungkin untuk semua kereta yang pernah saya tunggu dengan cemas, lalu berangkat tepat ketika saya baru saja sampai di peron. Siang itu stasiun sedang ramai. Orang-orang berlarian membawa koper, tas, kardus, dan wajah-wajah yang dikejar waktu. Saya berdiri agak jauh dari papan keberangkatan. Kereta baru saja meninggalkan peron. Saya terlambat. Tidak banyak. Hanya beberapa menit. Tetapi beberapa menit kadang bisa menjadi jurang yang lebih lebar daripada bertahun-tahun. Saya sempat berlari. Napas tersengal. Sepatu hampir copot. Petugas sudah memberi tanda. Pintu kereta menutup. Saya melihat gerbong terakhir menjauh perlahan, seperti seseorang yang tahu saya masih berharap tetapi memilih tidak menoleh. Aneh, pikir saya, mengapa sesuatu yang sudah ...

Ia yang Datang Diam-Diam

Ada kenangan yang tidak pernah kita undang. Ia datang begitu saja pada suatu malam, ketika kita sedang duduk sendirian di dekat jendela, memandangi hujan yang turun perlahan di bawah cahaya lampu jalan. Tidak mengetuk pintu. Tidak mengucapkan salam. Tiba-tiba saja ia sudah duduk di sana, di suatu sudut pikiran yang selama ini kita kira sudah kosong. Malam itu aku sedang mendengarkan sebuah lagu lama. Lagu yang dulu pernah kami dengarkan bersama. Aku bahkan tidak tahu mengapa aku memilihnya. Mungkin jari-jariku hanya kebetulan menemukannya di antara daftar lagu yang sudah bertahun-tahun tidak kubuka. Ketika suara pertama terdengar, wajahnya muncul. Aku berhenti bernapas sejenak. Di luar jendela, hujan semakin rapat. Lampu-lampu kendaraan memanjang di jalan yang basah, seperti garis-garis cahaya yang sedang mencari jalan pulang. Untuk beberapa detik, aku merasa rindu. Rindu yang aneh. Bukan keinginan untuk bertemu dengannya. Bukan pula keinginan untuk mengulang masa lalu. Hanya rindu kep...

Kopi dan Kehilangan

Pagi itu aku membuat dua cangkir kopi, seperti yang biasa kulakukan ketika dia masih tinggal di rumah ini. Baru setelah kopi selesai kuseduh, aku ingat bahwa dia sudah pergi tiga tahun lalu. Aku membawa kedua cangkir itu ke ruang tamu. Satu untukku, satu lagi untuk seseorang yang mungkin sudah tidak mengingat alamat rumah ini. Di luar, seekor kucing hitam duduk di pagar dan menatapku cukup lama. “Kau tahu dia pergi ke mana?” tanyaku. Kucing itu tidak menjawab. Aku tidak kecewa. Barangkali memang begitulah cara kehilangan bekerja. Ia tidak memberi jawaban. Ia hanya membuat kita tetap menyiapkan dua cangkir kopi untuk seseorang yang sudah tidak ada.

Lima Cara Berdoa

Pada suatu sore, aku duduk sendirian di sebuah kedai kopi dekat stasiun. Di meja sebelah, seorang perempuan membaca kitab. Di sudut ruangan, seorang lelaki tua mengenakan kalung salib sedang minum teh. Di luar, seorang pemuda dengan pakaian khas agamanya berjalan tergesa-gesa menuju halte. Aku memperhatikan mereka tanpa alasan tertentu. Tiba-tiba aku berpikir: mungkin Tuhan mendengar terlalu banyak bahasa. Aku tidak tahu bagaimana Tuhan membedakan doa-doa itu. Mungkin ada doa yang disampaikan dalam bahasa Arab. Ada yang dalam bahasa Indonesia. Ada yang melalui mantra. Ada yang melalui nyanyian. Ada pula yang hanya berupa tangisan seseorang yang tidak tahu harus berbicara kepada siapa. Aku pernah bertanya kepada seorang teman: “Kalau Tuhan cuma satu, kenapa manusia punya begitu banyak agama?” Ia mengaduk kopinya. “Karena manusia punya banyak cara untuk mencari-Nya.” Jawaban itu sederhana. Terlalu sederhana, bahkan. Tetapi sejak saat itu aku sering memikirkannya. Barangkali keberagaman a...

Agama Tetangga Sebelah

Di Indonesia, agama itu perkara serius. Saking seriusnya, kadang-kadang kita lupa menjadi manusia. Kita bisa sangat rajin membicarakan surga, tetapi bertengkar dengan tetangga karena suara musik. Kita bisa hafal banyak ayat tentang kasih sayang, tetapi mendadak kehilangan kasih sayang ketika mengetahui orang sebelah berbeda agama. Padahal tetangga tetap tetangga. Kalau dia sakit, yang kita dengar bukan agamanya. Yang terdengar adalah suara orang meminta pertolongan. Kalau rumahnya kebakaran, kita tidak sempat bertanya, “Maaf, sebelumnya agamanya apa?” Kita mengambil ember. Begitu sederhana. Kerukunan di Indonesia sebenarnya bukan barang baru. Pemerintah bahkan mencatat Indeks Kerukunan Umat Beragama 2025 mencapai 77,89, tertinggi dalam sebelas tahun pengukuran. Indeks itu melihat toleransi, kesetaraan, dan kebersamaan.  Tetapi angka tetaplah angka. Kehidupan sehari-hari jauh lebih rumit. Sebab toleransi tidak pernah benar-benar diuji ketika kita sedang berada di seminar dan semua o...

Kehilangan dan Kenangan

Ada orang yang mengira kehilangan seseorang berarti kehilangan cinta. Saya dulu juga begitu. Ketika seseorang pergi, kita sibuk menghitung apa yang ikut dibawanya: senyumnya, suaranya, kebiasaan kecilnya, pesan-pesan yang dulu datang setiap pagi. Bahkan nomor teleponnya pun kadang masih kita simpan, meskipun kita tahu tidak akan pernah menelepon lagi. Aneh memang manusia ini. Barang yang sudah tidak berguna saja disimpan, apalagi kenangan. Saya pernah berpikir bahwa cinta harus berakhir dengan memiliki. Kalau tidak memiliki, berarti gagal. Kalau ditinggalkan, berarti kalah. Kalau orang yang kita cintai memilih orang lain, rasanya seperti kalah dalam pemilihan umum, hanya saja tidak ada surat suara untuk menggugat hasilnya. Padahal cinta barangkali bukan pertandingan. Ia lebih mirip perjalanan. Ada orang yang datang sebentar, kemudian pergi. Ada yang tinggal bertahun-tahun lalu tiba-tiba berubah menjadi kenangan. Ada pula yang kita kira akan menjadi rumah, ternyata hanya tempat berteduh...

Tuhan itu Ada

Ada orang yang kalau ditanya tentang Tuhan, jawabannya cepat sekali. “Tuhan itu ada.” Selesai. Saya kadang iri kepada orang semacam ini. Hidupnya tampak praktis. Tidak perlu banyak berpikir. Tidak perlu begadang mempertanyakan alam semesta. Tidak perlu pusing memikirkan mengapa manusia yang katanya diciptakan Tuhan dengan baik justru bisa saling bunuh hanya gara-gara berebut sebidang tanah atau kursi kekuasaan. Cukup percaya. Saya sendiri agak repot. Saya percaya Tuhan ada, tetapi ketika ditanya seperti apa Tuhan itu, saya mulai gagap. Sebab kalau saya bisa menjelaskan Tuhan dengan lengkap, jangan-jangan yang saya jelaskan bukan Tuhan, melainkan hasil kerja otak saya sendiri. Manusia memang lucu. Tuhan yang tidak terbatas sering kita masukkan ke dalam kalimat yang terbatas. Yang Mahabesar kita masukkan ke dalam buku kecil. Yang tidak bisa diserupakan dengan apa pun kita beri gambar, simbol, pakaian, bahkan kadang-kadang kita buatkan kartu anggota. Lebih lucu lagi, setelah Tuhan selesai...

Ketika Aku Mencoba Memahami Tuhan

Belakangan ini aku mulai menyadari bahwa persoalan tentang Tuhan ternyata tidak sesederhana yang dulu kubayangkan. Dulu aku cukup bertanya, “Apakah Tuhan ada?” Setelah membaca lebih banyak dan melihat bagaimana manusia menjalani agama, pertanyaanku berubah: “Bagaimana sebenarnya aku memahami Tuhan?” Dari sini aku menemukan dua cara melihat agama yang menarik: hermeneutika dan fenomenologi. Hermeneutika mengajakku melihat agama melalui makna. Ketika aku membaca Al-Qur’an, misalnya, aku tidak hanya melihat kata-kata yang tertulis di halaman. Aku mulai bertanya: mengapa ayat itu disampaikan? Dalam keadaan seperti apa? Apa yang dimaksud manusia pada zaman itu? Dan ketika aku membacanya sekarang, apa yang sebenarnya sedang aku pahami? Aku kemudian sadar, setiap orang datang kepada kitab dengan membawa dirinya sendiri. Ada pengalaman masa kecil, budaya, pendidikan, ketakutan, harapan, bahkan luka. Karena itu, satu ayat bisa dipahami dengan cara berbeda oleh orang yang berbeda. Hermeneutika m...

Siapa Kamu?

Malam itu aku terbangun karena sebuah pertanyaan yang entah datang dari mana. "Siapa kamu?" Tidak ada siapa-siapa di kamar. Hanya suara kipas angin yang berputar pelan dan cahaya lampu jalan yang masuk melalui celah jendela. Aku mencoba tidur lagi, tetapi pertanyaan itu terus mengendap seperti batu kecil di dalam sepatu. Semakin kuabaikan, semakin terasa. Pagi harinya aku berdiri di depan cermin. "Aku." Jawaban itu terdengar begitu mudah. Tetapi siapa sebenarnya yang sedang kujawab? Apakah wajah yang mulai dipenuhi garis-garis halus itu adalah aku? Kalau suatu hari wajah ini berubah, apakah aku ikut berubah? Kalau namaku diganti, apakah aku menjadi orang lain? Kalau pekerjaanku hilang, apakah aku juga ikut hilang? Sepanjang perjalanan ke tempat kerja, pertanyaan itu tidak juga pergi. Di lampu merah, kulihat seorang pengemis menggendong anak kecil. Di seberang jalan, seorang pria berjas berjalan tergesa-gesa sambil terus berbicara melalui telepon. Di warung kopi, beb...

Tuhan yang Kukenal, atau Tuhan yang Diceritakan Orang Lain?

Belakangan ini aku sering memikirkan satu pertanyaan yang dulu tidak pernah berani kutanyakan. Ketika aku mengatakan percaya kepada Tuhan, sebenarnya kepada siapa aku percaya? Kepada Tuhan itu sendiri, atau kepada gambaran tentang Tuhan yang selama ini diwariskan kepadaku? Sejak kecil aku belajar mengenal Tuhan dari orang tua, guru, ustaz, buku, dan lingkungan tempat aku tumbuh. Mereka mengenalkan siapa Tuhan, apa yang Tuhan sukai, apa yang Tuhan benci, bagaimana cara beribadah, bahkan bagaimana cara memandang orang yang berbeda keyakinan. Saat itu aku menerimanya begitu saja. Rasanya tidak ada alasan untuk bertanya lebih jauh. Namun semakin banyak membaca sejarah agama, aku mulai menyadari sesuatu yang sederhana tetapi mengusik. Ternyata manusia sejak dulu sama-sama berbicara tentang Tuhan, tetapi tidak pernah benar-benar berbicara dengan cara yang sama. Bahkan dalam satu agama, lahir banyak mazhab, banyak ulama, banyak tafsir, dan kadang saling berbeda pendapat. Mereka membaca kitab ...

Membaca Al-Qur’an dari Tanah yang Kita Pijak

Mungkin selama ini kita terlalu sering membaca Al-Qur’an dengan mata yang mengarah ke masa lalu, tetapi lupa melihat tanah tempat kita berdiri. Kita membaca ayat-ayat yang lahir di Jazirah Arab berabad-abad lalu, kemudian membawanya ke Indonesia yang memiliki sejarah, bahasa, kebudayaan, dan persoalan yang sangat berbeda. Padahal, Al-Qur’an hari ini dibaca oleh manusia Nusantara: di masjid, pesantren, rumah sederhana, kampus, pasar, pabrik, bahkan melalui layar telepon genggam. Dari situlah muncul pertanyaan sederhana: bagaimana kalau Al-Qur’an dibaca dari pengalaman Nusantara? Bukan untuk mengubah Al-Qur’an. Bukan pula untuk mengganti ajaran Islam dengan budaya lokal. Tetapi untuk memahami bagaimana pesan Al-Qur’an dapat benar-benar hidup di tengah masyarakat yang kita jalani setiap hari. Sejarah menunjukkan bahwa Islam ketika datang ke Nusantara tidak bertemu dengan tanah yang kosong. Sudah ada masyarakat dengan adat, kepercayaan, bahasa, kesenian, dan kebiasaan yang beragam. Islam k...