Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2026

Menemukan Jalan Tengah antara Hijrah dan Wahabisme

Belakangan saya sering melihat fenomena yang menarik di media sosial. Seorang artis yang sebelumnya dikenal dengan musik dan dunia hiburan tiba-tiba mengumumkan bahwa ia ingin berhenti bernyanyi. Ada yang mulai memelihara jenggot, memakai celana cingkrang, sementara sebagian perempuan memilih mengenakan cadar. Mereka menyebutnya hijrah. Di satu sisi, perubahan itu adalah pilihan pribadi yang patut dihormati. Tetapi di sisi lain, fenomena tersebut membuat saya bertanya: mengapa gelombang hijrah dengan corak Salafi atau yang sering oleh masyarakat disebut Wahabi begitu menarik bagi sebagian anak muda Indonesia? Jawabannya mungkin tidak sesederhana karena mereka “salah belajar agama”. Ada sesuatu yang sedang dicari. Sebagian anak muda mungkin menemukan kepastian dalam corak keberagamaan yang memberikan jawaban tegas: ini boleh, itu tidak boleh; ini sunnah, itu bidah; ini benar, itu salah. Di tengah kehidupan yang penuh ketidakpastian, kepastian seperti itu bisa terasa menenangkan. Penelit...

Ia Mengaku Ateis dan Agnostik

Belakangan saya sering melihat orang di media sosial dengan santai menulis di bio: atheist, agnostic, atau “tidak percaya Tuhan”. Saya kadang membacanya sambil menyeruput kopi dan berpikir, ternyata zaman sudah berubah. Dulu orang mungkin menyimpan pertanyaan tentang Tuhan sendirian di kamar. Sekarang pertanyaan itu bisa dipasang di profil, lengkap dengan foto dan emoji. Di Indonesia, keberanian semacam ini cukup menarik. Kita hidup di tengah masyarakat yang agama bukan sekadar urusan pribadi. Agama hadir dalam keluarga, sekolah, lingkungan kerja, pergaulan, bahkan dalam percakapan sederhana seperti, “Kamu agamanya apa?” Maka ketika seseorang mengatakan dirinya ateis atau agnostik, yang muncul bukan hanya diskusi tentang Tuhan. Identitas itu bisa membawa persoalan lain: dianggap aneh, sesat, sedang mencari perhatian, tidak bermoral, atau bahkan dianggap sedang menantang keyakinan orang lain. Padahal sebenarnya saya tidak terlalu tertarik dengan labelnya. Seseorang boleh saja ateis. Bol...

Selesai

Ada kalanya hidup hanya membutuhkan satu kalimat sederhana: yang sudah selesai, ya sudah selesai. Dulu saya mengira semua hal harus dibereskan sampai benar-benar tuntas. Kalau ada masalah, harus dicari jawabannya. Kalau ada hubungan yang berakhir, harus tahu siapa yang salah. Kalau ada perkataan yang menyakitkan, harus dijelaskan. Kalau ada kegagalan, harus dicari alasan mengapa itu terjadi. Ternyata tidak selalu begitu. Ada hal-hal yang memang selesai tanpa penjelasan. Ada orang yang pergi tanpa sempat memberikan alasan. Ada pekerjaan yang berhenti sebelum sempurna. Ada rencana yang sudah dibuat dengan hati-hati, tetapi akhirnya tidak pernah terjadi. Kita sering membuat sesuatu yang sudah selesai menjadi hidup kembali karena terus memikirkannya. Saya pernah mengalami hal seperti itu. Sebuah kejadian sudah berlalu bertahun-tahun, tetapi setiap kali mengingatnya, saya seperti membuka kembali pintu yang sebenarnya sudah saya tutup. Kejadiannya memang sudah selesai, tetapi saya sendiri ya...

'Memburu Muhammad' Bukan tentang Memburu Nabi

Ada sesuatu yang menarik dari polemik Memburu Muhammad karya Feby Indirani. Sebuah buku yang seharusnya dibicarakan di ruang diskusi justru berhenti sebelum percakapan dimulai. Rencana bedah buku dalam Pekan Sastra Bogor 2026 dibatalkan setelah kelompok yang mengatasnamakan Front Persaudaraan Islam mempersoalkan judul buku dan tajuk diskusinya, bahkan menurut keterangan panitia dan penulis, disertai ancaman pengerahan massa. Demi keamanan, panitia akhirnya membatalkan acara tersebut. Yang kemudian menjadi pertanyaan adalah: apakah sebuah karya sastra boleh dinilai hanya dari judulnya? Memburu Muhammad bukan buku sejarah atau kitab agama. Buku ini merupakan kumpulan 19 cerita pendek yang menggunakan realisme magis dan satire untuk mengolah berbagai tema keislaman. Cerita yang menjadi judul buku, misalnya, menghadirkan tokoh dari masa lalu yang mencari sosok “Muhammad” di Indonesia modern. Ia menemukan banyak orang bernama Muhammad, tetapi nama itu tidak otomatis menjamin bahwa pemilikny...

Prof Zulys; Cocokologi antara Sains dan Agama

Saya pernah melihat sebuah video yang membuat saya berhenti cukup lama. Seorang pembicara mencoba menghubungkan pengetahuan sains dengan ajaran agama. Beberapa fakta ilmiah dipakai untuk menunjukkan bahwa sesuatu yang sudah tertulis dalam agama ternyata benar secara ilmiah. Sekilas terdengar meyakinkan. Masalahnya muncul ketika kita bertanya: apakah agama memang membutuhkan sains untuk membuktikan kebenarannya? Menurut saya, di sinilah kita perlu berhenti sebentar. Mencocokkan setiap ayat, hadis, atau kisah keagamaan dengan temuan sains bukan selalu cara yang tepat untuk memahami keduanya. Sebab sains dan agama bekerja dengan cara yang berbeda. Sains berdiri di atas pengetahuan yang selalu terbuka untuk diperiksa kembali. Sebuah teori dapat diterima hari ini, kemudian diperbaiki ketika ditemukan bukti baru. Kesalahan bukan sesuatu yang harus disembunyikan. Justru kesediaan mengakui kesalahan adalah bagian dari kekuatan sains. Agama memiliki posisi yang berbeda bagi orang beriman. Ketik...

Tren Yoga dengan Gerakan Meliuk-liuknya

Beberapa tahun lalu, kalau ada orang bilang mau ikut yoga, saya mungkin membayangkan orang yang duduk bersila dengan mata terpejam, memakai pakaian serba putih, lalu berbicara tentang ketenangan hidup sambil memandang matahari terbit. Sekarang pemandangannya sudah berbeda. Yoga ada di mana-mana. Di studio, hotel, taman kota, pusat kebugaran, bahkan di media sosial. Pesertanya juga macam-macam. Anak muda, ibu-ibu, bapak-bapak, pekerja kantoran, sampai orang yang mungkin awalnya hanya ikut karena diajak teman. Saya sendiri pernah melihat orang yang baru mencoba yoga dengan wajah penuh percaya diri. Lima menit kemudian, kakinya sudah seperti sedang mencari alamat. Tubuhnya diminta meliuk ke kanan, sementara pikirannya mungkin sedang bertanya, “Kenapa saya melakukan ini?” Memang, yoga dari luar terlihat sederhana. Tinggal tarik napas, buang napas, lalu tubuh digerakkan ke berbagai posisi. Kenyataannya, ketika badan sudah kaku seperti gagang sapu, gerakan yang bagi instruktur terlihat mudah...

Healing Jalur Konser King Nassar

Saya beberapakali melihat konser Nassar di Tiktok, yang saya cari bukan merdu suaranya, saya ingin menikmati cara Nassar menghibur penonton dengan cara khasnya.  Saya sering curiga, ini konser atau acara terapi massal? Nassar bukan cuma datang untuk menyanyi. Ia seperti membawa satu paket hiburan lengkap: suara yang bagus, kostum yang kadang bikin kita bertanya-tanya, aksi panggung yang tidak ada remnya, dan lawakan yang muncul di sela-sela lagu. Rasanya seperti menonton penyanyi, komedian, sekaligus manusia yang sedang sangat menikmati dirinya sendiri di atas panggung. Padahal kalau mau mengingat perjalanan kariernya, Nassar bukan orang yang muncul kemarin sore. Ia dikenal luas sejak menjadi jebolan Kontes Dangdut Indonesia (KDI). Dari panggung kompetisi itu, namanya kemudian terus bertahan dan berkembang menjadi salah satu figur dangdut yang punya karakter panggung sangat kuat. Yang menarik justru bukan hanya bagaimana ia bernyanyi, tetapi bagaimana ia membuat orang merasa terlib...

Meditasi Bukan Mengosongkan Pikiran

Meditasi sering dibayangkan sebagai keadaan ketika pikiran langsung kosong, tubuh sangat tenang, lalu seseorang tiba-tiba menemukan kedamaian. Kenyataannya tidak sesederhana itu. Ketika mulai duduk dan diam, justru sering kali yang muncul adalah kebisingan yang selama ini tertutup oleh kesibukan. Pada awalnya, tubuh mulai terasa lebih tenang. Napas menjadi lebih teratur. Kita mulai menyadari suara kendaraan, bunyi kipas, rasa gatal di kulit, atau posisi tubuh yang ternyata tidak nyaman. Pikiran pun ke mana-mana. Baru duduk sebentar, tiba-tiba teringat pekerjaan, percakapan kemarin, masalah keluarga, bahkan rencana makan setelah meditasi. Ini bukan berarti meditasi gagal. Justru di situlah latihan sebenarnya dimulai. Setelah beberapa waktu, biasanya kita mulai melihat pola. Pikiran muncul, kita mengikutinya, lalu sadar bahwa kita sedang melamun. Kita kembali memperhatikan keadaan saat ini. Beberapa saat kemudian pikiran lain muncul lagi. Begitu terus. Seperti sedang duduk di pinggir...

Rumah yang Sebenarnya

Begitu pintu ditutup, saya langsung melepas sepatu dan melemparkannya ke sudut. Tidak rapi memang. Tapi anehnya, di rumah sendiri kita sering tidak terlalu peduli pada hal-hal yang biasanya ingin kita tampilkan sempurna di hadapan orang lain. Saya duduk di lantai. Diam. Tidak ada yang perlu saya buktikan. Tidak ada yang perlu saya jelaskan. Mungkin inilah rumah yang sebenarnya. Selama ini kita sering mengira rumah adalah bangunan. Ada tembok, pintu, jendela, kamar tidur, dapur, dan tagihan listrik yang datang setiap bulan seperti tamu yang tidak pernah lupa alamat. Tetapi semakin lama saya merasa rumah bukan sekadar tempat kita tinggal. Rumah adalah tempat kita boleh berhenti menjadi siapa-siapa. Di luar sana kita punya banyak peran. Menjadi pekerja, pasangan, orang tua, teman, tetangga, bahkan kadang menjadi manusia yang kelihatan baik-baik saja padahal sebenarnya sedang ingin rebahan seharian. Di rumah, semua peran itu boleh dilepas. Kita boleh diam. Boleh gagal. Boleh menangis. Bole...

Sebelum Tuhan Disebut sebagai “Ada”

Ada satu pertanyaan yang belakangan ini menggangguku: ketika kita mengatakan “Tuhan itu ada”, sebenarnya apa yang kita maksud dengan kata ada? Kalimat itu terdengar sederhana. Sejak kecil kita mungkin sudah terbiasa mendengarnya. Tuhan ada, lalu Tuhan menciptakan alam, manusia, bumi, langit, dan segala sesuatu. Karena segala sesuatu yang kita lihat memiliki sebab, maka Tuhan dianggap sebagai sebab pertama dari semuanya. Tetapi semakin kupikirkan, semakin terasa ada sesuatu yang belum selesai. Kalau segala sesuatu membutuhkan pencipta, lalu Tuhan diciptakan oleh siapa? Jawaban yang biasanya muncul: Tuhan tidak diciptakan. Tuhan sudah ada dengan sendirinya. Di situlah aku berhenti sebentar. Kalau Tuhan boleh dikatakan ada tanpa diciptakan, mengapa alam semesta tidak boleh dipertanyakan dengan cara yang sama? Mengapa harus selalu diasumsikan bahwa alam membutuhkan pencipta, sementara Tuhan justru boleh menjadi pengecualian? Pertanyaan ini bukan untuk membuktikan bahwa Tuhan tidak ada. Aku...