Belakangan saya sering melihat fenomena yang menarik di media sosial. Seorang artis yang sebelumnya dikenal dengan musik dan dunia hiburan tiba-tiba mengumumkan bahwa ia ingin berhenti bernyanyi. Ada yang mulai memelihara jenggot, memakai celana cingkrang, sementara sebagian perempuan memilih mengenakan cadar. Mereka menyebutnya hijrah. Di satu sisi, perubahan itu adalah pilihan pribadi yang patut dihormati. Tetapi di sisi lain, fenomena tersebut membuat saya bertanya: mengapa gelombang hijrah dengan corak Salafi atau yang sering oleh masyarakat disebut Wahabi begitu menarik bagi sebagian anak muda Indonesia? Jawabannya mungkin tidak sesederhana karena mereka “salah belajar agama”. Ada sesuatu yang sedang dicari. Sebagian anak muda mungkin menemukan kepastian dalam corak keberagamaan yang memberikan jawaban tegas: ini boleh, itu tidak boleh; ini sunnah, itu bidah; ini benar, itu salah. Di tengah kehidupan yang penuh ketidakpastian, kepastian seperti itu bisa terasa menenangkan. Penelit...