Belakangan ini aku sering memikirkan satu pertanyaan yang dulu tidak pernah berani kutanyakan. Ketika aku mengatakan percaya kepada Tuhan, sebenarnya kepada siapa aku percaya? Kepada Tuhan itu sendiri, atau kepada gambaran tentang Tuhan yang selama ini diwariskan kepadaku?
Sejak kecil aku belajar mengenal Tuhan dari orang tua, guru, ustaz, buku, dan lingkungan tempat aku tumbuh. Mereka mengenalkan siapa Tuhan, apa yang Tuhan sukai, apa yang Tuhan benci, bagaimana cara beribadah, bahkan bagaimana cara memandang orang yang berbeda keyakinan. Saat itu aku menerimanya begitu saja. Rasanya tidak ada alasan untuk bertanya lebih jauh.
Namun semakin banyak membaca sejarah agama, aku mulai menyadari sesuatu yang sederhana tetapi mengusik. Ternyata manusia sejak dulu sama-sama berbicara tentang Tuhan, tetapi tidak pernah benar-benar berbicara dengan cara yang sama. Bahkan dalam satu agama, lahir banyak mazhab, banyak ulama, banyak tafsir, dan kadang saling berbeda pendapat. Mereka membaca kitab suci yang sama, mengucapkan nama Tuhan yang sama, tetapi memahami-Nya dengan cara yang tidak selalu sama.
Di situlah aku mulai mengenal cara pandang yang disebut hermeneutika.
Bagiku, hermeneutika bukan cara untuk meragukan Tuhan. Justru sebaliknya, ia mengajakku berhati-hati ketika merasa sudah memahami Tuhan sepenuhnya.
Aku mulai menyadari bahwa setiap kali manusia membaca kitab suci, ia tidak datang dengan kepala yang kosong. Ia membawa bahasa yang dipakainya sejak kecil. Ia membawa budaya tempat ia dibesarkan. Ia membawa pengalaman hidup, pendidikan, rasa takut, harapan, bahkan luka-lukanya sendiri. Semua itu ikut memengaruhi cara ia memahami ayat yang sedang dibaca.
Aku lalu bertanya kepada diriku sendiri, mungkinkah selama ini aku lebih banyak mempertahankan tafsir daripada benar-benar mencari kehendak Tuhan?
Pertanyaan itu membuatku melihat agama dengan cara yang berbeda.
Aku tidak lagi tergesa-gesa berkata, "Inilah yang pasti dimaksud Tuhan." Aku mulai bertanya, "Mengapa aku memahami ayat ini seperti ini? Apakah karena memang itu pesannya, atau karena aku dibesarkan dalam lingkungan yang mengajarkannya demikian?"
Sejarah membuat pertanyaan itu semakin menarik. Ayat-ayat Al-Qur'an turun kepada masyarakat yang hidup lebih dari empat belas abad yang lalu. Mereka memiliki bahasa, cara berdagang, hubungan keluarga, sistem sosial, dan persoalan yang berbeda dengan kita. Ketika ayat itu dibaca hari ini di Indonesia, ia bertemu dengan masyarakat yang juga berbeda. Kita hidup di tengah keberagaman agama, teknologi digital, demokrasi, pendidikan modern, dan perubahan sosial yang terus bergerak.
Kalau begitu, apakah membaca Al-Qur'an cukup hanya mengulang penjelasan masa lalu? Ataukah kita juga perlu bertanya, pesan apa yang ingin dihadirkan Tuhan bagi manusia yang hidup pada zaman ini?
Hermeneutika mengajakku melihat bahwa membaca kitab suci bukan sekadar membaca kalimat. Membaca kitab suci juga berarti membaca sejarah, membaca manusia, dan membaca diriku sendiri.
Aku mulai sadar bahwa setiap kali aku mengatakan, "Tuhan pasti menghendaki ini," mungkin yang sebenarnya sedang berbicara adalah pemahamanku tentang Tuhan. Kesadaran itu tidak membuat imanku hilang. Justru membuatku lebih rendah hati. Aku menjadi lebih pelan ketika berbicara atas nama Tuhan, karena aku tahu selalu ada kemungkinan bahwa pemahamanku belum utuh.
Hari ini aku masih percaya kepada Tuhan. Aku masih berdoa dan membaca Al-Qur'an. Tetapi aku tidak lagi membaca untuk mencari pembenaran bagi pendapatku. Aku membaca sambil bertanya, sambil mendengar, dan sambil menerima bahwa mungkin aku belum memahami semuanya.
Barangkali di situlah pelajaran paling berharga dari hermeneutika. Ia mengingatkan bahwa Tuhan mungkin tetap, tetapi manusia selalu sedang belajar memahami-Nya. Dan selama manusia terus belajar, selalu ada ruang untuk memperbaiki cara kita beragama, memperluas cara kita memandang sesama, dan mengakui dengan jujur bahwa tidak semua yang kita yakini tentang Tuhan pasti identik dengan Tuhan itu sendiri.
Komentar
Posting Komentar