Malam itu aku terbangun karena sebuah pertanyaan yang entah datang dari mana.
"Siapa kamu?"
Tidak ada siapa-siapa di kamar. Hanya suara kipas angin yang berputar pelan dan cahaya lampu jalan yang masuk melalui celah jendela. Aku mencoba tidur lagi, tetapi pertanyaan itu terus mengendap seperti batu kecil di dalam sepatu. Semakin kuabaikan, semakin terasa.
Pagi harinya aku berdiri di depan cermin.
"Aku."
Jawaban itu terdengar begitu mudah.
Tetapi siapa sebenarnya yang sedang kujawab?
Apakah wajah yang mulai dipenuhi garis-garis halus itu adalah aku? Kalau suatu hari wajah ini berubah, apakah aku ikut berubah? Kalau namaku diganti, apakah aku menjadi orang lain? Kalau pekerjaanku hilang, apakah aku juga ikut hilang?
Sepanjang perjalanan ke tempat kerja, pertanyaan itu tidak juga pergi.
Di lampu merah, kulihat seorang pengemis menggendong anak kecil. Di seberang jalan, seorang pria berjas berjalan tergesa-gesa sambil terus berbicara melalui telepon. Di warung kopi, beberapa anak muda tertawa seolah dunia sedang baik-baik saja.
Tiba-tiba aku bertanya lagi.
Kalau mereka kehilangan semua yang mereka miliki, apakah mereka masih menjadi orang yang sama?
Malam berikutnya aku membuka album foto lama.
Ada fotoku ketika masih SD, memakai seragam yang kebesaran. Ada foto saat kuliah dengan rambut panjang yang sekarang terasa asing. Ada foto pernikahan. Ada foto bersama ayah yang kini hanya tinggal kenangan.
Aku menatap semua wajah itu cukup lama.
Aneh.
Semua itu disebut "aku", padahal tidak satu pun benar-benar sama dengan diriku hari ini.
Tubuh berubah.
Cara berpikir berubah.
Keinginan berubah.
Bahkan mimpi-mimpi yang dulu kuanggap paling penting sekarang terasa begitu jauh.
Lalu siapa sebenarnya yang tetap?
Beberapa hari kemudian aku duduk di warung kopi langganan. Seorang bapak tua yang sering datang ke sana bertanya, "Kelihatannya lagi banyak pikiran."
Aku tersenyum.
"Lagi bingung mencari diri sendiri."
Beliau tertawa kecil.
"Kalau dicari seperti dompet yang hilang, ya tidak akan ketemu."
Jawaban itu terdengar seperti bercanda, tetapi entah kenapa terus tinggal di kepalaku.
Malam itu aku tidak lagi mencari jawaban di buku. Aku hanya duduk di teras rumah. Angin bergerak pelan. Suara jangkrik terdengar dari kebun sebelah. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tidak berusaha menjadi siapa-siapa.
Aku hanya melihat pikiranku sendiri.
Sesaat aku merasa bangga mengingat pencapaianku.
Beberapa menit kemudian muncul rasa takut kehilangan semuanya.
Lalu muncul penyesalan.
Lalu muncul harapan.
Pikiran itu datang dan pergi seperti awan yang melintas di langit.
Kalau semuanya terus berubah, mengapa selama ini aku menganggap semuanya adalah diriku?
Aku mulai memahami bahwa mungkin selama ini aku terlalu sibuk mengumpulkan identitas. Nama, pekerjaan, agama, gelar, harta, pendapat, bahkan pujian orang lain, semuanya kukumpulkan lalu kusebut "aku". Padahal setiap kali salah satunya hilang, aku merasa ikut berkurang.
Barangkali bukan karena aku kehilangan diriku.
Barangkali karena sejak awal aku keliru mengira semua itu adalah diriku.
Pertanyaan yang beberapa hari lalu membuatku gelisah kini terdengar lebih tenang.
"Siapa kamu?"
Aku menarik napas panjang.
Aku tidak lagi tergesa-gesa menjawabnya.
Mungkin memang tidak semua pertanyaan harus segera memiliki jawaban. Ada pertanyaan yang tugasnya bukan untuk diselesaikan, melainkan menemani seseorang bertumbuh.
Sejak malam itu aku berhenti mengejar jawaban yang pasti.
Aku hanya mencoba hidup dengan sedikit lebih sadar.
Menyadari ketika marah.
Menyadari ketika iri.
Menyadari ketika bahagia.
Menyadari ketika takut.
Dan anehnya, semakin sering aku memperhatikan semua itu, semakin aku merasa tidak perlu terburu-buru mendefinisikan siapa diriku.
Mungkin "aku" bukan sesuatu yang harus ditemukan di ujung perjalanan.
Mungkin "aku" adalah perjalanan itu sendiri.
Komentar
Posting Komentar