“Ketinggalan kereta hanya akan menyakitkan ketika kamu mengejarnya.”
Saya menulis kalimat itu di halaman belakang buku catatan, entah untuk siapa. Mungkin untuk diri sendiri. Mungkin untuk seseorang yang pernah pergi tanpa sempat saya tahan. Atau mungkin untuk semua kereta yang pernah saya tunggu dengan cemas, lalu berangkat tepat ketika saya baru saja sampai di peron.
Siang itu stasiun sedang ramai. Orang-orang berlarian membawa koper, tas, kardus, dan wajah-wajah yang dikejar waktu. Saya berdiri agak jauh dari papan keberangkatan. Kereta baru saja meninggalkan peron.
Saya terlambat.
Tidak banyak. Hanya beberapa menit.
Tetapi beberapa menit kadang bisa menjadi jurang yang lebih lebar daripada bertahun-tahun.
Saya sempat berlari. Napas tersengal. Sepatu hampir copot. Petugas sudah memberi tanda. Pintu kereta menutup. Saya melihat gerbong terakhir menjauh perlahan, seperti seseorang yang tahu saya masih berharap tetapi memilih tidak menoleh.
Aneh, pikir saya, mengapa sesuatu yang sudah pergi masih bisa membuat kita berlari?
Mungkin karena kita tidak benar-benar mengejar kereta. Kita mengejar kemungkinan.
Kemungkinan bahwa kalau sedikit lebih cepat, semuanya akan berbeda. Kemungkinan bahwa kalau tadi bangun lebih pagi, mengambil jalan lain, tidak berhenti membeli kopi, tidak membalas pesan itu, tidak melakukan kesalahan ini dan itu, kita masih bisa berada di dalam gerbong yang sama.
Begitulah hidup. Setelah sesuatu berlalu, kita sering menjadi ahli dalam membuat ulang masa lalu.
Andai saja.
Dua kata yang kelihatannya pendek, tetapi bisa menjadi perjalanan yang sangat panjang.
Saya pernah terlalu lama berdiri di peron kehidupan yang sudah kosong. Keretanya sudah hilang, tetapi saya masih melihat rel, seakan-akan dengan menatapnya terus-menerus kereta itu akan kembali. Saya lupa bahwa stasiun punya jadwal lain.
Ada kereta berikutnya.
Tetapi hati yang kecewa sering tidak percaya.
Ia menganggap kereta yang sudah pergi adalah satu-satunya kereta menuju kebahagiaan. Padahal mungkin kereta itu hanya membawa kita ke tempat yang memang bukan lagi tujuan kita.
Barangkali yang membuat kehilangan terasa sakit bukan karena kita ketinggalan, tetapi karena kita terus mengejarnya dalam pikiran.
Kita mengulang percakapan lama.
Membuka foto lama.
Membaca pesan yang sebenarnya sudah selesai.
Mengingat wajah seseorang dengan cara yang semakin indah karena waktu telah menghapus bagian-bagian buruknya.
Kita membuat masa lalu tampak seperti kereta paling bagus yang pernah lewat, padahal dulu ketika berada di dekatnya kita juga pernah mengeluh tentang kursinya yang keras, AC yang terlalu dingin, dan penumpang di sebelah yang mendengkur.
Begitulah ingatan bekerja. Ia sering menjadi editor yang tidak jujur.
Hari mulai sore. Stasiun perlahan lebih tenang. Saya akhirnya duduk di bangku peron.
Untuk pertama kalinya hari itu, saya tidak melihat ke arah rel.
Saya melihat langit.
Ternyata langit tetap ada meskipun kereta pergi.
Kopi di tangan saya juga belum habis.
Dan hidup, rupanya, tidak ikut berangkat bersama kereta tadi.
Mungkin selama ini saya terlalu sibuk mengejar sesuatu yang sudah memilih pergi, sampai lupa bahwa saya masih punya kaki untuk berjalan ke arah lain.
Tidak semua keterlambatan adalah kegagalan.
Tidak semua kehilangan harus diperbaiki.
Ada sesuatu yang memang cukup dikenang, bukan dikejar.
Karena ketinggalan kereta hanya akan menyakitkan ketika kita terus berlari mengejarnya.
Sesekali kita perlu berhenti.
Mengatur napas.
Merapikan baju.
Menertawakan diri sendiri yang tadi berlari seperti tokoh utama dalam film murahan.
Lalu membeli tiket baru.
Bukan untuk membuktikan bahwa kita baik-baik saja.
Tetapi karena akhirnya kita sadar:
hidup tidak pernah hanya menyediakan satu kereta.
Dan mungkin, kereta yang berikutnya tidak akan membawa kita kembali ke masa lalu.
Ia membawa kita ke tempat yang belum pernah kita bayangkan.
Komentar
Posting Komentar