Ada orang yang mengira kehilangan seseorang berarti kehilangan cinta. Saya dulu juga begitu.
Ketika seseorang pergi, kita sibuk menghitung apa yang ikut dibawanya: senyumnya, suaranya, kebiasaan kecilnya, pesan-pesan yang dulu datang setiap pagi. Bahkan nomor teleponnya pun kadang masih kita simpan, meskipun kita tahu tidak akan pernah menelepon lagi.
Aneh memang manusia ini.
Barang yang sudah tidak berguna saja disimpan, apalagi kenangan.
Saya pernah berpikir bahwa cinta harus berakhir dengan memiliki. Kalau tidak memiliki, berarti gagal. Kalau ditinggalkan, berarti kalah. Kalau orang yang kita cintai memilih orang lain, rasanya seperti kalah dalam pemilihan umum, hanya saja tidak ada surat suara untuk menggugat hasilnya.
Padahal cinta barangkali bukan pertandingan.
Ia lebih mirip perjalanan.
Ada orang yang datang sebentar, kemudian pergi. Ada yang tinggal bertahun-tahun lalu tiba-tiba berubah menjadi kenangan. Ada pula yang kita kira akan menjadi rumah, ternyata hanya tempat berteduh ketika hujan.
Yang paling menyakitkan dari kehilangan bukan kepergiannya.
Melainkan kebiasaan yang harus kita cabut pelan-pelan dari kehidupan.
Tidak ada lagi pesan, “Sudah makan?”
Tidak ada lagi seseorang yang kita cari ketika melihat sesuatu yang lucu.
Tidak ada lagi pertengkaran kecil yang dulu kita anggap menyebalkan.
Dan pada suatu pagi, kita sadar bahwa orang yang dulu memenuhi hampir seluruh pikiran kita sekarang hanya muncul sesekali. Bukan karena kita tidak mencintainya lagi, tetapi karena hidup ternyata punya cara sendiri untuk menyembuhkan manusia.
Kita mulai tertawa lagi.
Mulai tidur tanpa menunggu pesan.
Mulai menikmati kopi tanpa mengingat siapa yang dulu duduk di seberang meja.
Kemudian kita mengerti sesuatu.
Tidak semua orang yang kita cintai ditakdirkan tinggal bersama kita. Sebagian memang datang untuk mengajarkan bagaimana mencintai. Sebagian lagi mengajarkan bagaimana kehilangan.
Dan mungkin, yang paling dewasa dari cinta bukanlah kemampuan mempertahankan seseorang sampai kapan pun.
Melainkan kemampuan berkata:
“Aku pernah mencintaimu dengan sungguh-sungguh. Karena itu, ketika kau memilih pergi, aku juga akan belajar mencintai hidupku tanpa dirimu.”
Sebab kehilangan seseorang memang menyakitkan.
Tetapi kehilangan diri sendiri demi seseorang jauh lebih menyedihkan.
Komentar
Posting Komentar