Langsung ke konten utama

Kehilangan dan Kenangan

Ada orang yang mengira kehilangan seseorang berarti kehilangan cinta. Saya dulu juga begitu.

Ketika seseorang pergi, kita sibuk menghitung apa yang ikut dibawanya: senyumnya, suaranya, kebiasaan kecilnya, pesan-pesan yang dulu datang setiap pagi. Bahkan nomor teleponnya pun kadang masih kita simpan, meskipun kita tahu tidak akan pernah menelepon lagi.

Aneh memang manusia ini.

Barang yang sudah tidak berguna saja disimpan, apalagi kenangan.

Saya pernah berpikir bahwa cinta harus berakhir dengan memiliki. Kalau tidak memiliki, berarti gagal. Kalau ditinggalkan, berarti kalah. Kalau orang yang kita cintai memilih orang lain, rasanya seperti kalah dalam pemilihan umum, hanya saja tidak ada surat suara untuk menggugat hasilnya.

Padahal cinta barangkali bukan pertandingan.

Ia lebih mirip perjalanan.

Ada orang yang datang sebentar, kemudian pergi. Ada yang tinggal bertahun-tahun lalu tiba-tiba berubah menjadi kenangan. Ada pula yang kita kira akan menjadi rumah, ternyata hanya tempat berteduh ketika hujan.

Yang paling menyakitkan dari kehilangan bukan kepergiannya.

Melainkan kebiasaan yang harus kita cabut pelan-pelan dari kehidupan.

Tidak ada lagi pesan, “Sudah makan?”

Tidak ada lagi seseorang yang kita cari ketika melihat sesuatu yang lucu.

Tidak ada lagi pertengkaran kecil yang dulu kita anggap menyebalkan.

Dan pada suatu pagi, kita sadar bahwa orang yang dulu memenuhi hampir seluruh pikiran kita sekarang hanya muncul sesekali. Bukan karena kita tidak mencintainya lagi, tetapi karena hidup ternyata punya cara sendiri untuk menyembuhkan manusia.

Kita mulai tertawa lagi.

Mulai tidur tanpa menunggu pesan.

Mulai menikmati kopi tanpa mengingat siapa yang dulu duduk di seberang meja.

Kemudian kita mengerti sesuatu.

Tidak semua orang yang kita cintai ditakdirkan tinggal bersama kita. Sebagian memang datang untuk mengajarkan bagaimana mencintai. Sebagian lagi mengajarkan bagaimana kehilangan.

Dan mungkin, yang paling dewasa dari cinta bukanlah kemampuan mempertahankan seseorang sampai kapan pun.

Melainkan kemampuan berkata:

“Aku pernah mencintaimu dengan sungguh-sungguh. Karena itu, ketika kau memilih pergi, aku juga akan belajar mencintai hidupku tanpa dirimu.”

Sebab kehilangan seseorang memang menyakitkan.

Tetapi kehilangan diri sendiri demi seseorang jauh lebih menyedihkan.

Komentar

Tulisan Populer

Apa Beda Suka, Senang, dan Cinta?

Apa beda suka, senang, dan cinta? Selama anda masih belum bisa membedakan ketiga hal itu, maka anda akan salah dalam memaknai cinta. Saya ilustrasikan dalam cerita, Anda membeli hp Android karena melihat banyak teman-teman yang memilikinya dan terlihat keren, saat itu anda berada di wilayah SUKA. Dan suka merupakan wilayah NAFSU. Ketika anda mengetahui fitur, fasilitas dan manfaat Android yang lebih hebat dibandingkan HP jenis lain, maka saat itu anda berada diwilayah SENANG. Dan senang itu tidak menentu, dapat berubah-ubah tergantung kepada MOOD. Saat BOSAN, bersiaplah untuk mengganti HP jenis baru yang lebih canggih. Jadi jelaslah bahwa, Selama ini CINTA yang kita yakini sebagai cinta baru berada dalam wilayah SUKA dan SENANG. BOHONG! Jika anda berkata, gue JATUH CINTA pada pandangan pertama. Sesungguhnya saat itu anda sedang berkata, gue NAFSU dalam pandangan pertama. Mengapa demikian? Karena cinta yang anda maknai baru sebatas SUKA. Suka dengan wajahnya yang cantik, se...

Nggak Apa-apa Jelek yang Penting Tobrut!?

"Tiket habis, Bro. Ternyata yang nonton konser hari ini bukan cuma aku sama kamu,” kataku sambil merogoh kantong celana. Di antrean panjang yang melingkar di sekitar stadion, aku dan Arap terjebak dalam suasana yang serba riuh. Kami terpaksa mengalihkan rencana, mencoba mencari hiburan lain di tengah kekecewaan. Arap merogoh saku dan mengeluarkan sebatang rokok. "Yah, mau gimana lagi. Kita nongkrong aja di tempat biasa. Siapa tahu ada cewek cakep lewat,” katanya setengah bercanda, sambil menyulut rokoknya. Kembali ke dua jam sebelumnya, suasana di kampus baru saja usai saat aku dan Arap memutuskan untuk berburu tiket konser mendadak. Sialnya, tiket itu habis sebelum kami sempat mengantre. “Ya sudah, ke warung Bu Wowiek aja. Di sana pasti ada cerita baru,” usul Arap, mencoba menghidupkan kembali semangat yang sempat luntur. Di warung Bu Wowiek, suasana lebih lengang. Hanya beberapa pelanggan tetap yang duduk sambil menikmati kopi. Kami segera memilih tempat duduk di pojokan, m...