Ada orang yang kalau ditanya tentang Tuhan, jawabannya cepat sekali.
“Tuhan itu ada.”
Selesai.
Saya kadang iri kepada orang semacam ini. Hidupnya tampak praktis. Tidak perlu banyak berpikir. Tidak perlu begadang mempertanyakan alam semesta. Tidak perlu pusing memikirkan mengapa manusia yang katanya diciptakan Tuhan dengan baik justru bisa saling bunuh hanya gara-gara berebut sebidang tanah atau kursi kekuasaan.
Cukup percaya.
Saya sendiri agak repot.
Saya percaya Tuhan ada, tetapi ketika ditanya seperti apa Tuhan itu, saya mulai gagap. Sebab kalau saya bisa menjelaskan Tuhan dengan lengkap, jangan-jangan yang saya jelaskan bukan Tuhan, melainkan hasil kerja otak saya sendiri.
Manusia memang lucu. Tuhan yang tidak terbatas sering kita masukkan ke dalam kalimat yang terbatas. Yang Mahabesar kita masukkan ke dalam buku kecil. Yang tidak bisa diserupakan dengan apa pun kita beri gambar, simbol, pakaian, bahkan kadang-kadang kita buatkan kartu anggota.
Lebih lucu lagi, setelah Tuhan selesai kita definisikan, kita mulai bertengkar dengan tetangga.
“Tuhan saya yang benar!”
“Bukan. Tuhan saya yang benar!”
Tuhan sendiri barangkali sedang melihat dari kejauhan sambil bertanya-tanya: sejak kapan kalian menjadi juru bicara resmi-Ku?
Saya kira persoalan Tuhan bukan sekadar apakah Dia ada atau tidak ada. Persoalannya adalah apa yang terjadi pada manusia setelah mengaku percaya kepada-Nya.
Kalau keyakinan kepada Tuhan membuat seseorang lebih lembut kepada manusia, saya kira ada sesuatu yang bekerja di sana.
Tetapi kalau keyakinan membuat seseorang gemar menghina, membenci, merasa paling suci, dan sibuk mencari kesalahan orang lain, saya kadang bertanya-tanya: jangan-jangan yang sedang ia bela bukan Tuhan, melainkan egonya sendiri.
Mungkin Tuhan tidak membutuhkan pembela sebanyak yang kita kira.
Barangkali manusia yang lebih membutuhkan Tuhan.
Bukan untuk memenangkan perdebatan, melainkan untuk belajar menjadi manusia.
Sebab pada akhirnya, Tuhan mungkin tetap menjadi misteri.
Dan mungkin memang begitulah seharusnya.
Kalau Tuhan sudah sepenuhnya kita pahami, saya khawatir Tuhan berubah menjadi sekadar pendapat.
Dan manusia, seperti biasa, sangat pandai bertengkar demi pendapatnya sendiri.
Komentar
Posting Komentar