Ada kenangan yang tidak pernah kita undang.
Ia datang begitu saja pada suatu malam, ketika kita sedang duduk sendirian di dekat jendela, memandangi hujan yang turun perlahan di bawah cahaya lampu jalan. Tidak mengetuk pintu. Tidak mengucapkan salam. Tiba-tiba saja ia sudah duduk di sana, di suatu sudut pikiran yang selama ini kita kira sudah kosong.
Malam itu aku sedang mendengarkan sebuah lagu lama.
Lagu yang dulu pernah kami dengarkan bersama.
Aku bahkan tidak tahu mengapa aku memilihnya. Mungkin jari-jariku hanya kebetulan menemukannya di antara daftar lagu yang sudah bertahun-tahun tidak kubuka.
Ketika suara pertama terdengar, wajahnya muncul.
Aku berhenti bernapas sejenak.
Di luar jendela, hujan semakin rapat. Lampu-lampu kendaraan memanjang di jalan yang basah, seperti garis-garis cahaya yang sedang mencari jalan pulang.
Untuk beberapa detik, aku merasa rindu.
Rindu yang aneh.
Bukan keinginan untuk bertemu dengannya. Bukan pula keinginan untuk mengulang masa lalu. Hanya rindu kepada seseorang yang pernah menjadi bagian dari hidupku, seperti seseorang merindukan sebuah rumah yang sudah lama tidak ditempatinya.
Aku juga ingin melupakannya.
Barangkali itulah hal paling membingungkan dari kenangan. Kita bisa merindukan sesuatu yang sekaligus ingin kita tinggalkan.
Lagu itu selesai.
Aku tidak segera memutarnya kembali.
Kubuka jendela sedikit. Udara malam masuk bersama aroma tanah basah. Untuk sesaat aku berharap aroma itu bisa membawa semua kenangan pergi.
Ternyata tidak.
Kenangan memang tidak bekerja seperti itu.
Ia datang ketika kita tidak siap, lalu pergi ketika kita mulai terbiasa dengannya.
Mungkin suatu hari nanti lagu itu akan terdengar lagi. Mungkin aku akan kembali mengingat wajahnya. Mungkin akan ada sedikit rindu yang tumbuh di dada.
Dan mungkin aku akan tersenyum.
Bukan karena ingin kembali.
Melainkan karena akhirnya aku mengerti bahwa tidak semua yang kita rindukan harus kita miliki lagi.
Sebagian cukup dikenang.
Sebagian cukup dimaafkan.
Dan sebagian lainnya, perlahan-lahan, kita biarkan menjadi bagian dari malam yang pernah indah—lalu kita tutup jendelanya dan melanjutkan hidup.
Komentar
Posting Komentar