Langsung ke konten utama

Lima Cara Berdoa

Pada suatu sore, aku duduk sendirian di sebuah kedai kopi dekat stasiun.

Di meja sebelah, seorang perempuan membaca kitab. Di sudut ruangan, seorang lelaki tua mengenakan kalung salib sedang minum teh. Di luar, seorang pemuda dengan pakaian khas agamanya berjalan tergesa-gesa menuju halte.

Aku memperhatikan mereka tanpa alasan tertentu.

Tiba-tiba aku berpikir: mungkin Tuhan mendengar terlalu banyak bahasa.

Aku tidak tahu bagaimana Tuhan membedakan doa-doa itu.

Mungkin ada doa yang disampaikan dalam bahasa Arab. Ada yang dalam bahasa Indonesia. Ada yang melalui mantra. Ada yang melalui nyanyian. Ada pula yang hanya berupa tangisan seseorang yang tidak tahu harus berbicara kepada siapa.

Aku pernah bertanya kepada seorang teman:

“Kalau Tuhan cuma satu, kenapa manusia punya begitu banyak agama?”

Ia mengaduk kopinya.

“Karena manusia punya banyak cara untuk mencari-Nya.”

Jawaban itu sederhana.

Terlalu sederhana, bahkan.

Tetapi sejak saat itu aku sering memikirkannya.

Barangkali keberagaman agama bukan semata-mata tentang siapa yang paling benar. Barangkali ia juga tentang perjalanan panjang manusia memahami sesuatu yang tidak bisa dilihatnya secara langsung.

Aku tidak mengatakan semua agama sama.

Aku juga tidak tahu apakah semua jalan benar.

Aku hanya tahu bahwa manusia sering berjalan dengan peta yang berbeda, sementara tujuan yang mereka bicarakan kadang terdengar serupa: kedamaian, kebaikan, keselamatan, kasih sayang.

Yang aneh adalah kita sering bertengkar tentang peta.

Padahal belum tentu ada di antara kita yang sudah sampai tujuan.

Pelayan datang membawa kopi pesananku.

“Mas, ini kopinya.”

Aku mengangguk.

Di luar, azan terdengar dari kejauhan. Bersamaan dengan itu, lonceng dari sebuah gereja terdengar samar-samar. Entah kebetulan atau bukan, keduanya bertemu di udara sore itu.

Aku tidak tahu apakah Tuhan mendengarkan keduanya.

Tetapi untuk beberapa detik, aku merasa tidak perlu tahu.

Mungkin dunia memang seperti sebuah kota besar dengan banyak pintu.

Kita masuk melalui pintu yang berbeda.

Kita membawa nama Tuhan yang berbeda.

Kita menyebut-Nya dengan bahasa yang berbeda.

Tetapi mungkin, setelah semua suara doa selesai, yang tersisa hanyalah satu hal yang sangat sederhana:

bagaimana kita memperlakukan manusia yang berjalan di sebelah kita.

Komentar

Tulisan Populer

Apa Beda Suka, Senang, dan Cinta?

Apa beda suka, senang, dan cinta? Selama anda masih belum bisa membedakan ketiga hal itu, maka anda akan salah dalam memaknai cinta. Saya ilustrasikan dalam cerita, Anda membeli hp Android karena melihat banyak teman-teman yang memilikinya dan terlihat keren, saat itu anda berada di wilayah SUKA. Dan suka merupakan wilayah NAFSU. Ketika anda mengetahui fitur, fasilitas dan manfaat Android yang lebih hebat dibandingkan HP jenis lain, maka saat itu anda berada diwilayah SENANG. Dan senang itu tidak menentu, dapat berubah-ubah tergantung kepada MOOD. Saat BOSAN, bersiaplah untuk mengganti HP jenis baru yang lebih canggih. Jadi jelaslah bahwa, Selama ini CINTA yang kita yakini sebagai cinta baru berada dalam wilayah SUKA dan SENANG. BOHONG! Jika anda berkata, gue JATUH CINTA pada pandangan pertama. Sesungguhnya saat itu anda sedang berkata, gue NAFSU dalam pandangan pertama. Mengapa demikian? Karena cinta yang anda maknai baru sebatas SUKA. Suka dengan wajahnya yang cantik, se...

Nggak Apa-apa Jelek yang Penting Tobrut!?

"Tiket habis, Bro. Ternyata yang nonton konser hari ini bukan cuma aku sama kamu,” kataku sambil merogoh kantong celana. Di antrean panjang yang melingkar di sekitar stadion, aku dan Arap terjebak dalam suasana yang serba riuh. Kami terpaksa mengalihkan rencana, mencoba mencari hiburan lain di tengah kekecewaan. Arap merogoh saku dan mengeluarkan sebatang rokok. "Yah, mau gimana lagi. Kita nongkrong aja di tempat biasa. Siapa tahu ada cewek cakep lewat,” katanya setengah bercanda, sambil menyulut rokoknya. Kembali ke dua jam sebelumnya, suasana di kampus baru saja usai saat aku dan Arap memutuskan untuk berburu tiket konser mendadak. Sialnya, tiket itu habis sebelum kami sempat mengantre. “Ya sudah, ke warung Bu Wowiek aja. Di sana pasti ada cerita baru,” usul Arap, mencoba menghidupkan kembali semangat yang sempat luntur. Di warung Bu Wowiek, suasana lebih lengang. Hanya beberapa pelanggan tetap yang duduk sambil menikmati kopi. Kami segera memilih tempat duduk di pojokan, m...