Pada suatu sore, aku duduk sendirian di sebuah kedai kopi dekat stasiun.
Di meja sebelah, seorang perempuan membaca kitab. Di sudut ruangan, seorang lelaki tua mengenakan kalung salib sedang minum teh. Di luar, seorang pemuda dengan pakaian khas agamanya berjalan tergesa-gesa menuju halte.
Aku memperhatikan mereka tanpa alasan tertentu.
Tiba-tiba aku berpikir: mungkin Tuhan mendengar terlalu banyak bahasa.
Aku tidak tahu bagaimana Tuhan membedakan doa-doa itu.
Mungkin ada doa yang disampaikan dalam bahasa Arab. Ada yang dalam bahasa Indonesia. Ada yang melalui mantra. Ada yang melalui nyanyian. Ada pula yang hanya berupa tangisan seseorang yang tidak tahu harus berbicara kepada siapa.
Aku pernah bertanya kepada seorang teman:
“Kalau Tuhan cuma satu, kenapa manusia punya begitu banyak agama?”
Ia mengaduk kopinya.
“Karena manusia punya banyak cara untuk mencari-Nya.”
Jawaban itu sederhana.
Terlalu sederhana, bahkan.
Tetapi sejak saat itu aku sering memikirkannya.
Barangkali keberagaman agama bukan semata-mata tentang siapa yang paling benar. Barangkali ia juga tentang perjalanan panjang manusia memahami sesuatu yang tidak bisa dilihatnya secara langsung.
Aku tidak mengatakan semua agama sama.
Aku juga tidak tahu apakah semua jalan benar.
Aku hanya tahu bahwa manusia sering berjalan dengan peta yang berbeda, sementara tujuan yang mereka bicarakan kadang terdengar serupa: kedamaian, kebaikan, keselamatan, kasih sayang.
Yang aneh adalah kita sering bertengkar tentang peta.
Padahal belum tentu ada di antara kita yang sudah sampai tujuan.
Pelayan datang membawa kopi pesananku.
“Mas, ini kopinya.”
Aku mengangguk.
Di luar, azan terdengar dari kejauhan. Bersamaan dengan itu, lonceng dari sebuah gereja terdengar samar-samar. Entah kebetulan atau bukan, keduanya bertemu di udara sore itu.
Aku tidak tahu apakah Tuhan mendengarkan keduanya.
Tetapi untuk beberapa detik, aku merasa tidak perlu tahu.
Mungkin dunia memang seperti sebuah kota besar dengan banyak pintu.
Kita masuk melalui pintu yang berbeda.
Kita membawa nama Tuhan yang berbeda.
Kita menyebut-Nya dengan bahasa yang berbeda.
Tetapi mungkin, setelah semua suara doa selesai, yang tersisa hanyalah satu hal yang sangat sederhana:
bagaimana kita memperlakukan manusia yang berjalan di sebelah kita.
Komentar
Posting Komentar