Mungkin selama ini kita terlalu sering membaca Al-Qur’an dengan mata yang mengarah ke masa lalu, tetapi lupa melihat tanah tempat kita berdiri. Kita membaca ayat-ayat yang lahir di Jazirah Arab berabad-abad lalu, kemudian membawanya ke Indonesia yang memiliki sejarah, bahasa, kebudayaan, dan persoalan yang sangat berbeda. Padahal, Al-Qur’an hari ini dibaca oleh manusia Nusantara: di masjid, pesantren, rumah sederhana, kampus, pasar, pabrik, bahkan melalui layar telepon genggam.
Dari situlah muncul pertanyaan sederhana: bagaimana kalau Al-Qur’an dibaca dari pengalaman Nusantara?
Bukan untuk mengubah Al-Qur’an. Bukan pula untuk mengganti ajaran Islam dengan budaya lokal. Tetapi untuk memahami bagaimana pesan Al-Qur’an dapat benar-benar hidup di tengah masyarakat yang kita jalani setiap hari.
Sejarah menunjukkan bahwa Islam ketika datang ke Nusantara tidak bertemu dengan tanah yang kosong. Sudah ada masyarakat dengan adat, kepercayaan, bahasa, kesenian, dan kebiasaan yang beragam. Islam kemudian berjumpa dengan semua itu. Di banyak tempat, perjumpaan tersebut berlangsung melalui perdagangan, pendidikan, perkawinan, pesantren, dakwah, dan hubungan sosial.
Karena itulah wajah Islam di Nusantara memiliki warna yang khas.
Kita mengenal gotong royong, musyawarah, pesantren, selametan, tradisi keilmuan, dan berbagai bentuk kebudayaan lokal yang kemudian hidup berdampingan dengan ajaran Islam. Ada yang menerima, ada yang menolak, ada yang mengubah, dan ada pula yang mencari jalan tengah.
Di sinilah membaca Al-Qur’an menjadi menarik.
Ketika Al-Qur’an berbicara tentang persaudaraan, misalnya, kita tidak hanya membayangkan masyarakat Arab pada masa lalu. Kita bisa melihat kampung kita sendiri. Ada tetangga yang berbeda agama. Ada orang yang berbeda suku. Ada keluarga yang berbeda pilihan politik. Ada orang kaya dan miskin yang hidup berdampingan.
Lalu pertanyaannya berubah.
Bukan sekadar, “Apa arti persaudaraan menurut ayat ini?”
Tetapi, “Bagaimana persaudaraan itu harus hidup di tengah masyarakat kita?”
Begitu pula ketika Al-Qur’an berbicara tentang keadilan. Kita bisa membacanya sambil melihat buruh yang bekerja dari pagi hingga sore, petani yang menghadapi harga hasil panen yang tidak menentu, anak-anak yang kesulitan memperoleh pendidikan, atau orang miskin yang semakin tersisih karena biaya hidup.
Ayat yang sama tiba-tiba terasa dekat.
Ia bukan lagi sekadar tulisan di halaman kitab. Ia berhadapan dengan kehidupan.
Di sinilah filsafat membantu kita untuk tidak cepat merasa sudah menemukan kebenaran terakhir. Manusia selalu membaca dengan pengalaman yang dibawanya. Orang yang hidup dalam kemiskinan mungkin merasakan ayat tentang keadilan secara berbeda dari orang yang hidup berkecukupan. Orang yang pernah mengalami diskriminasi mungkin membaca ayat tentang kemanusiaan dengan perasaan yang berbeda dari orang yang tidak pernah mengalaminya.
Bukan berarti semua tafsir otomatis benar. Justru karena manusia memiliki keterbatasan, kita perlu lebih rendah hati ketika berbicara atas nama Tuhan.
Pendekatan antropologi juga mengingatkan bahwa agama selalu hidup di tengah manusia. Islam tidak hanya ditemukan dalam kitab, tetapi juga dalam cara orang bertetangga, bekerja, menikah, mendidik anak, menyelesaikan konflik, menghormati orang tua, dan memperlakukan orang yang berbeda.
Karena itu, hermeneutika Nusantara seharusnya tidak menjadikan budaya sebagai lawan Al-Qur’an. Budaya perlu diajak berdialog. Ada budaya yang sesuai dengan nilai Islam, ada yang perlu dikritik, dan ada yang mungkin perlu ditinggalkan karena menghasilkan ketidakadilan.
Begitu pula dengan zaman modern.
Al-Qur’an memang tidak berbicara secara langsung tentang Instagram, kecerdasan buatan, perubahan iklim, pinjaman digital, atau budaya konsumtif. Tetapi Al-Qur’an berbicara tentang kejujuran, tanggung jawab, keadilan, kesombongan, keserakahan, penghormatan terhadap manusia, dan kerusakan di bumi.
Tugas kita adalah membawa nilai-nilai itu masuk ke persoalan baru.
Mungkin inilah yang paling penting dari hermeneutika ala Nusantara: Al-Qur’an tidak hanya dibaca untuk mengetahui apa yang terjadi dahulu, tetapi untuk membantu kita menentukan bagaimana seharusnya hidup hari ini.
Pada akhirnya, tafsir tidak seharusnya berhenti sebagai perdebatan siapa yang paling benar. Ia harus terlihat dalam kehidupan.
Jika setelah membaca Al-Qur’an kita menjadi lebih mudah membenci, mungkin ada sesuatu yang perlu kita periksa.
Jika kita semakin rajin beribadah tetapi semakin merendahkan orang lain, mungkin ada sesuatu yang belum kita pahami.
Tetapi jika membaca Al-Qur’an membuat kita lebih jujur, lebih adil, lebih peduli kepada orang miskin, lebih menghormati perbedaan, dan lebih menjaga kehidupan, barangkali di situlah teks benar-benar menemukan kehidupan barunya.
Kita tidak hidup di Arab abad ketujuh.
Kita hidup di Nusantara hari ini.
Dan mungkin pertanyaan terpenting bukan lagi bagaimana membawa Nusantara agar persis seperti masa lalu, melainkan bagaimana pesan Al-Qur’an dapat menerangi Nusantara tanpa kehilangan kedalaman ajarannya.
Komentar
Posting Komentar