Langsung ke konten utama

Ketika Aku Mencoba Memahami Tuhan

Belakangan ini aku mulai menyadari bahwa persoalan tentang Tuhan ternyata tidak sesederhana yang dulu kubayangkan. Dulu aku cukup bertanya, “Apakah Tuhan ada?” Setelah membaca lebih banyak dan melihat bagaimana manusia menjalani agama, pertanyaanku berubah: “Bagaimana sebenarnya aku memahami Tuhan?” Dari sini aku menemukan dua cara melihat agama yang menarik: hermeneutika dan fenomenologi.

Hermeneutika mengajakku melihat agama melalui makna. Ketika aku membaca Al-Qur’an, misalnya, aku tidak hanya melihat kata-kata yang tertulis di halaman. Aku mulai bertanya: mengapa ayat itu disampaikan? Dalam keadaan seperti apa? Apa yang dimaksud manusia pada zaman itu? Dan ketika aku membacanya sekarang, apa yang sebenarnya sedang aku pahami?

Aku kemudian sadar, setiap orang datang kepada kitab dengan membawa dirinya sendiri. Ada pengalaman masa kecil, budaya, pendidikan, ketakutan, harapan, bahkan luka. Karena itu, satu ayat bisa dipahami dengan cara berbeda oleh orang yang berbeda. Hermeneutika membuatku lebih hati-hati untuk mengatakan, “Inilah pasti maksud Tuhan.” Bisa jadi yang sedang kupegang adalah pemahamanku tentang Tuhan, bukan Tuhan itu sendiri.

Fenomenologi membawaku ke tempat yang berbeda. Ia tidak pertama-tama bertanya apakah pengalaman agama itu benar atau salah. Ia mengajak melihat bagaimana agama benar-benar dialami manusia.

Aku pernah melihat seseorang menangis ketika berdoa. Orang lain mungkin melihatnya hanya sebagai ritual. Tetapi bagi orang yang mengalaminya, mungkin itu adalah saat paling dekat dengan Tuhan dalam hidupnya. Fenomenologi mencoba memahami pengalaman tersebut dari dalam, sebagaimana pengalaman itu dirasakan oleh orang yang menjalaninya.

Di titik ini aku merasa keduanya saling melengkapi.

Hermeneutika bertanya, “Apa makna yang sedang kupahami?”

Fenomenologi bertanya, “Bagaimana Tuhan dan agama hadir dalam pengalaman hidupku?”

Keduanya membuatku sedikit lebih rendah hati. Aku masih percaya kepada Tuhan, tetapi sekarang aku tahu bahwa cara manusia berbicara tentang Tuhan selalu melewati bahasa, sejarah, budaya, dan pengalaman.

Mungkin Tuhan tidak pernah sesederhana kata-kata yang kita gunakan untuk menjelaskan-Nya. Dan mungkin agama bukan hanya sesuatu yang harus diperdebatkan, tetapi sesuatu yang perlu dilihat bagaimana ia benar-benar mengubah manusia.

Pada akhirnya aku kembali kepada pertanyaan yang sama: apakah setelah memahami agama lebih jauh aku semakin dekat kepada Tuhan, atau justru semakin sadar betapa terbatasnya pemahamanku tentang-Nya?

Aku belum tahu.

Untuk sementara, mungkin tidak apa-apa hidup bersama pertanyaan itu.

Komentar

Tulisan Populer

Apa Beda Suka, Senang, dan Cinta?

Apa beda suka, senang, dan cinta? Selama anda masih belum bisa membedakan ketiga hal itu, maka anda akan salah dalam memaknai cinta. Saya ilustrasikan dalam cerita, Anda membeli hp Android karena melihat banyak teman-teman yang memilikinya dan terlihat keren, saat itu anda berada di wilayah SUKA. Dan suka merupakan wilayah NAFSU. Ketika anda mengetahui fitur, fasilitas dan manfaat Android yang lebih hebat dibandingkan HP jenis lain, maka saat itu anda berada diwilayah SENANG. Dan senang itu tidak menentu, dapat berubah-ubah tergantung kepada MOOD. Saat BOSAN, bersiaplah untuk mengganti HP jenis baru yang lebih canggih. Jadi jelaslah bahwa, Selama ini CINTA yang kita yakini sebagai cinta baru berada dalam wilayah SUKA dan SENANG. BOHONG! Jika anda berkata, gue JATUH CINTA pada pandangan pertama. Sesungguhnya saat itu anda sedang berkata, gue NAFSU dalam pandangan pertama. Mengapa demikian? Karena cinta yang anda maknai baru sebatas SUKA. Suka dengan wajahnya yang cantik, se...

Nggak Apa-apa Jelek yang Penting Tobrut!?

"Tiket habis, Bro. Ternyata yang nonton konser hari ini bukan cuma aku sama kamu,” kataku sambil merogoh kantong celana. Di antrean panjang yang melingkar di sekitar stadion, aku dan Arap terjebak dalam suasana yang serba riuh. Kami terpaksa mengalihkan rencana, mencoba mencari hiburan lain di tengah kekecewaan. Arap merogoh saku dan mengeluarkan sebatang rokok. "Yah, mau gimana lagi. Kita nongkrong aja di tempat biasa. Siapa tahu ada cewek cakep lewat,” katanya setengah bercanda, sambil menyulut rokoknya. Kembali ke dua jam sebelumnya, suasana di kampus baru saja usai saat aku dan Arap memutuskan untuk berburu tiket konser mendadak. Sialnya, tiket itu habis sebelum kami sempat mengantre. “Ya sudah, ke warung Bu Wowiek aja. Di sana pasti ada cerita baru,” usul Arap, mencoba menghidupkan kembali semangat yang sempat luntur. Di warung Bu Wowiek, suasana lebih lengang. Hanya beberapa pelanggan tetap yang duduk sambil menikmati kopi. Kami segera memilih tempat duduk di pojokan, m...