Langsung ke konten utama

Apakah Bila Terlanjur Salah, Akan Tetap Dianggap Salah?

Kesalahan yang berulang merupakan kesalahan yang jarang bisa dimaafkan dan diterima oleh banyak orang. Oleh sebab itu kesalahan yang terus berulang ini akan diungkit dan dianggap salah karena sudah terlihat tidak ada perubahan menuju kebaikan sama sekali.

Ada dua hal salah yang dilakukan pertama kesalahan itu sendiri dan yang kedua berulangnya kesalahan tersebut. Melipatgandakan kesalahan dengan mengulang-ulang kesalahan butuh waktu yang lama untuk bisa memaafkan, apalagi untuk melupakannya akan menjadi pekerjaan rumah yang hampir mustahil selesai.

Dari situ mencoba untuk sabar dan menerima dianggap salah terus menurus adalah harapan agar kita dapat diterima lagi. Memang belum pasti dimaafkan dan dapat dipercaya lagi, namun paling tidak sudah ada usaha yang ditampilkan sebagai bentuk kesungguhan.

Tetap ada kemungkinan terulang kembali dengan membaca pola sering terulangnya kesalahan tersebut, karenanya kita harus memantau dan mewaspadai pelaku tersebut agar tidak kambuh atau kumat mengulangi kesalahannya lagi.

Melihat dari sudut pandang pelaku kesalahan, harapan dan usahanya untuk mengembalikan kepercayaan dan tidak akan mengulangi kesalahannya. Sedangkan bagi orang yang mendapatkan kerugian atau korban dari kesalahan pelaku, terjadi trauma dan punya 'trust issue' yang kuat.

Ini akan terjadi beberapa waktu yang cukup lama, sampai kepercayaan muncul di hati korban dan melihat kasihan atas usahanya yang sudah membuktikan dalam waktu yang dianggap sudah bisa cukup.

Saya coba memahami kejadian ini sebagai hal yang bisa terjadi oleh siapa saja yang sedang berusaha mengembalikan kepercayaan kepada orang lain. Setiap orang yang kecewa akan hancur semua harapannya, sehingga untuk mengembalikannya butuh waktu dan bukti yang konsisten,

Sekali salah, dua kali salah, tiga kali salah bahkan sampai berkali-kali salah sebenarnya tidak bisa dimaafkan karena sudah ketahuan dan terbukti bersalah. Pilihannya adalah cari lagi orang yang bisa dipercaya atau memberikan kesempatan terus menerus kepada orang yang sudah melakukan kesalahan berulang kali.

Kalau mau bertahan pilihan yang bisa dipakai adalah memberikan kesempatan kepada orang tersebut berkali-kali sampai di waktu tertentu telah membuktikan kesungguhan dan konsistensinya. Akan tetapi jika sudah lelah dan menyerah, lebih baik sudahi saja semua omong kosong yang sedang dilakukan oleh orang yang sering mengulang kesalahan tersebut.

Komentar

Tulisan Populer

Apa Beda Suka, Senang, dan Cinta?

Apa beda suka, senang, dan cinta? Selama anda masih belum bisa membedakan ketiga hal itu, maka anda akan salah dalam memaknai cinta. Saya ilustrasikan dalam cerita, Anda membeli hp Android karena melihat banyak teman-teman yang memilikinya dan terlihat keren, saat itu anda berada di wilayah SUKA. Dan suka merupakan wilayah NAFSU. Ketika anda mengetahui fitur, fasilitas dan manfaat Android yang lebih hebat dibandingkan HP jenis lain, maka saat itu anda berada diwilayah SENANG. Dan senang itu tidak menentu, dapat berubah-ubah tergantung kepada MOOD. Saat BOSAN, bersiaplah untuk mengganti HP jenis baru yang lebih canggih. Jadi jelaslah bahwa, Selama ini CINTA yang kita yakini sebagai cinta baru berada dalam wilayah SUKA dan SENANG. BOHONG! Jika anda berkata, gue JATUH CINTA pada pandangan pertama. Sesungguhnya saat itu anda sedang berkata, gue NAFSU dalam pandangan pertama. Mengapa demikian? Karena cinta yang anda maknai baru sebatas SUKA. Suka dengan wajahnya yang cantik, se...

Nggak Apa-apa Jelek yang Penting Tobrut!?

"Tiket habis, Bro. Ternyata yang nonton konser hari ini bukan cuma aku sama kamu,” kataku sambil merogoh kantong celana. Di antrean panjang yang melingkar di sekitar stadion, aku dan Arap terjebak dalam suasana yang serba riuh. Kami terpaksa mengalihkan rencana, mencoba mencari hiburan lain di tengah kekecewaan. Arap merogoh saku dan mengeluarkan sebatang rokok. "Yah, mau gimana lagi. Kita nongkrong aja di tempat biasa. Siapa tahu ada cewek cakep lewat,” katanya setengah bercanda, sambil menyulut rokoknya. Kembali ke dua jam sebelumnya, suasana di kampus baru saja usai saat aku dan Arap memutuskan untuk berburu tiket konser mendadak. Sialnya, tiket itu habis sebelum kami sempat mengantre. “Ya sudah, ke warung Bu Wowiek aja. Di sana pasti ada cerita baru,” usul Arap, mencoba menghidupkan kembali semangat yang sempat luntur. Di warung Bu Wowiek, suasana lebih lengang. Hanya beberapa pelanggan tetap yang duduk sambil menikmati kopi. Kami segera memilih tempat duduk di pojokan, m...