Langsung ke konten utama

Buah Dakwah yang Pahitnya Ditelan Sendiri

Bermain petak umpat bersama teman-teman sepulang sekolah merupakan bagian yang paling menyenangkan dan tidak tergantikan. Saya punya tempat rahasia yang sedikit teman yang mengetahui lokasi persembunyian ini, lokasinya ada di belakang rumah rumah. Di sana ada selokan yang cukup besar, jalan yang dipisahkan selokan tersebut adalah area yang lembab. Kebetulan saya menemukan ada biji buah mangga yang sudah ada tangkai beserta beberapa helai daunnya.

Tiba-tiba muncul insiatif untuk menanam biji pohon mangga ini di depan rumah. Tepatnya di sebelah pohon jambu air di sela-sela akar tersebut saya tanam secara seadanya, setelah itu saya rawat seperti anak sendiri dengan menyiramnya setiap hari. Singkatnya beberapa tahun kemudian, pohon mangga ini tumbuh besar dan berbuah, sampai pohon jambu air yang ada di sebelahnya ditebang karena sudah mulai tua dan tidak berbuah lagi.

Saya merasakan buah mangga hasil dari menanam sendiri, ternyata rasanya manis dan keluarga pun ikut merasakannya. Saya pun pernah merasakan buah mangga yang asem dan menggigit kulit mangga yang pahit ketika sedang di makan mentah dengan sambal petis yang lumayan pedas itu.

Kisah pohon mangga ini mirip dengan kondisi saya dalam menikmati hasil dakwah yang pernah dibangun semenjak kelas sekolah menengah pertama. Buah yang dirasakan bukan manis, sayang rasanya pahit sebab saya tidak ikut berkontribusi lagi di jalan dakwah. Para kader yang pernah saya bina dalam beberapa kurun waktu, kebanyakan menjaga jarak. Beberapa organisasi yang pernah saya ikuti entah bagaimana kondisinya. Ya, terkadang ada rasa rindu ingin kembali untuk sekadar menyambung silaturahmi sebentar.

Saya sadar dengan konsekuensi atas setiap pilihan hidup yang sedang saya ambil, ini semua adalah konsekuensi yang saya pikul sendiri. Seolah hitungan detik, menit, jam, hari, minggu, bulan dan tahun di organisasi dakwah tersebut terbuang sia-sia. Waktu yang sebaiknya digunakan untuk belajar lebih baik lagi, terbuang sia-sia dengan mengemban nasib yang seperti saat ini. Begitulah bentuk penyesalan saya di masa lalu yang jelas tidak bisa diubah, dan mau tidak mau saya harus mulai dari awal lagi nasib yang sudah saya pilih serta ambil hari ini.

Dengan paham konsekuensi dan sadar dengan tanggung jawab diri, semua penyesalan tersebut tidak perlu ada lagi. Saya jadi tahu bahwa ini semua pilihan saya sendiri, bukan berasal dari orang lain. Yang bisa mengubah semuanya, ya diri kita sendiri, bukan bergantung pada organisasi dakwah atau komunitas apapun. Kita yang memilih dan menjalaninya sendiri.

Penyesalan sudah berubah menjadi pembelajaran yang penuh dengan hikmah sehingga apapun yang di dapatkan, manis dan pahitnya saya telan sendiri. Manisnya dinikmati dan pahitnya dirasakan sendiri sampai hilang secara otomatis oleh lamanya waktu.

Komentar

Tulisan Populer

Apa Beda Suka, Senang, dan Cinta?

Apa beda suka, senang, dan cinta? Selama anda masih belum bisa membedakan ketiga hal itu, maka anda akan salah dalam memaknai cinta. Saya ilustrasikan dalam cerita, Anda membeli hp Android karena melihat banyak teman-teman yang memilikinya dan terlihat keren, saat itu anda berada di wilayah SUKA. Dan suka merupakan wilayah NAFSU. Ketika anda mengetahui fitur, fasilitas dan manfaat Android yang lebih hebat dibandingkan HP jenis lain, maka saat itu anda berada diwilayah SENANG. Dan senang itu tidak menentu, dapat berubah-ubah tergantung kepada MOOD. Saat BOSAN, bersiaplah untuk mengganti HP jenis baru yang lebih canggih. Jadi jelaslah bahwa, Selama ini CINTA yang kita yakini sebagai cinta baru berada dalam wilayah SUKA dan SENANG. BOHONG! Jika anda berkata, gue JATUH CINTA pada pandangan pertama. Sesungguhnya saat itu anda sedang berkata, gue NAFSU dalam pandangan pertama. Mengapa demikian? Karena cinta yang anda maknai baru sebatas SUKA. Suka dengan wajahnya yang cantik, se...

Nggak Apa-apa Jelek yang Penting Tobrut!?

"Tiket habis, Bro. Ternyata yang nonton konser hari ini bukan cuma aku sama kamu,” kataku sambil merogoh kantong celana. Di antrean panjang yang melingkar di sekitar stadion, aku dan Arap terjebak dalam suasana yang serba riuh. Kami terpaksa mengalihkan rencana, mencoba mencari hiburan lain di tengah kekecewaan. Arap merogoh saku dan mengeluarkan sebatang rokok. "Yah, mau gimana lagi. Kita nongkrong aja di tempat biasa. Siapa tahu ada cewek cakep lewat,” katanya setengah bercanda, sambil menyulut rokoknya. Kembali ke dua jam sebelumnya, suasana di kampus baru saja usai saat aku dan Arap memutuskan untuk berburu tiket konser mendadak. Sialnya, tiket itu habis sebelum kami sempat mengantre. “Ya sudah, ke warung Bu Wowiek aja. Di sana pasti ada cerita baru,” usul Arap, mencoba menghidupkan kembali semangat yang sempat luntur. Di warung Bu Wowiek, suasana lebih lengang. Hanya beberapa pelanggan tetap yang duduk sambil menikmati kopi. Kami segera memilih tempat duduk di pojokan, m...